Cinta Suamiku Bukan Untukku

Cinta Suamiku Bukan Untukku
54. Orang Suruhan


Sejak pergi ke rumah Laras malam itu, Danu dan Jasmin kini semakin romantis. Danu lupa akan irang suruhannya untuk menyelidiki Jasmin di kampusnya. Dan Jasmin bisa menutupi semuanya, layaknya seorang tokoh angagonis di sebuah cerita. Dia pandai menyembunyikan semua apa yang dia lakukan di belakang Danu.


Dia juga tidak tahu jika seseorang yang selalu membuntutinya kemana pun dia pergi. Dan Danu pun lupa dengan orang suruhannya karena dia sedang bahagia bersama istrinya itu.


Seperti kali ini, Jasmin baru turun dari mobil Danu. Melambai tangan pada suaminya lalu masuk ke dalam kampus, laki-laki suruhan Danu mengikuti Jasmin dari jauh. Memantaunya dan memperhatikan apa yang dia lakukan pada setiap orang yang dia temui.


Nampak Jasmin bertemu dengan seorang laki-laki, yang sama saja mahasiswa di kampus itu. Tapi cara mereka bertemu itu seperti bukan layaknya teman biasa, tapi lebih pada teman dekat bahkan seperti seorang kekasih.


Laki-laki itu mendekat, dia duduk di belakang tanaman yang kebetulan agak rimbun daunnya daj duduk di sana, mendengarkan apa yang di katakan keduanya dan menyiapkan alat perekamnya.


"Aku tidak sabar lho kamu pisah sama suamimu." kata laki-laki yang tak lain adalah Dandy.


"Sabar dong, kata ibuku. Aku harus banyak meminta barang berharga, aku juga ingin minta mobil. Tapi belum di luluskan, makanya aku sedang baik-baikin dia. Aku juga sebenarnya malu juga, masa aku menikah dengan pria dewasa yang kolot dan selalu ingin di layani terus." kata Jasmin.


"Kan sudah aku bilang, kamu itu rugi. Menikah muda, harus melayani suami kolotmu. Dan lagi, dia punya istri lain. Seharusnya kamu biarkan saja dia sama istrinya itu, kamu sama aku aja." kata Dandy.


"Aku butuh ke kampus dan butuh uang jajan. Ibuku mana bisa kasih aku uang jajan lima juta satu bulan. Kadang itu juga tidak seberapa, kalau aku minta lagi dia kasih lagi. Jadi, sabar ya. Kita lakukan aja seperti ini." kata Jasmin memeluk Dandy dengan mesranya.


"Tapi malam ini, kamu menginap dong. Sudah lama kan kita ngga tidur bareng, aku lagi pengen nih." bisik Dandy di telinga Jasmin dengan menghembuskan nafasnya.


Membuat Jasmin merinding dan tersenyum geli. Lalu dia mencubit perut Dandy.


"Sabar dong, aku mau cari alasan lagi biar bisa menginap di kostan kamu." kata Jasmin.


"Atau sekarang aja, kita bolos kuliah. Kita ke hotel bagaimana?" tanya Dandy.


"Emm, boleh deh. Tapi nanti kembali ke kampus lagi ya, soalnya mau ada kuis jam dua siang." kata Jasmin.


"Oke. Ayo kita pergi ke hotel." kata Dandy.


"Ayo. Hahah!"


Mereka pun melangkah menuju area parkiran, menaiki motor besar milik Dandy. Jasmin senang sekali, dia juga sebenarnya ingin kembali tidur dengan Dandy. Karena lama dia tidak menginap di kost Dandy. Dan laki-laki yang tadi mengintai pembicaraan mereka pun ikut menaiki motornya.


Dia akan mengikuti kemana Jasmin dan Dandy pergi. Karena tadi dia tidak mendengarkan dengan baik, maka akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti Jasmin dan Dandy pergi.


_


Reiga, laki-laki yang di sewa Danu untuk membuntuti istrinya Jasmin itu kini sudah beberapa kali mengikuti Jasmin. Dia berusia dua puluh tahun, jika masuk kampus masih pantas menjadi mahasiswa. Dia juga sudah mendapatkan bukti yang lumayan, namun dia belum merasa cukup untuk melengkapinya.


"Apakah ini cukup?" ucapnya memeriksa beberapa foto dan juga rekaman suara.


"Aku coba menghubungi pak Danu dulu." kata Reiga lagi.


Dia mengambil ponselnya, lalu mendial nomor Danu. Terhubung, namun belum di jawab, sekali lagi dia mendial nomor Danu.


Tuuuut.


Masih belum di angkat, akhirnya Reiga pun menghubungi Rizwan. Teman Danu yang merekomendasika Reiga untuk menyelidiki istrinya.


Tuuut.


Tersambung dan di jawab teleponnya.


"Halo? Ada apa menghubungiku?" tanya Rizwan di seberang sana.


"Apa pak Danu sibuk ya? Kok tidak di jawab sambungan teleponku?" tanya Reiga.


"Emm, dia memang sedang sibuk. Ada kunjungan ke kantor pusat. Kamu menemukan bukti-bukti tentang istrinya?" tanya Rizwan.


"Ya, sudah banyak. Kapan saya bisa menemui pak Danu dan menyerahkan semua bukti-buktinya?" tanya Reiga.


"Baiklah, saya tunggu minggu depan." kata Reiga.


"Sebaiknya kamu terus selidiki istrinya itu selama satu minggu ini. Jangan sampai lupit dari semua pengawasanmu, kupikir Jasmin itu sangat pandai menyembunyikan sesuatu. Dan suaminya itu sangat bodoh, selalu saja luluh dengan sikap manja istrinya. Kalau sudah melihat bukti-bukti darimu, mungkin dia akan berubah jadi bisa lebih berani." kata Rizwan lagi.


"Ya, itu urusannya pak Danu untuk menindak istrinya pak Rizwan. Tugasku hanya menyelidiki dan mengumpulkan bukti lalu menyerahkannya pada pak Danu."


"Ya benar, lakukan sebaik mungkin. Semua percakapannya juga harus kamu rekam."


"Baik pak Rizwan. Dan bagaimana dengan bayaranku ya? Saya sedang butuh duit." kata Rizwan.


"Begini saja, aku transfer uang untukmu dariku. Nanti tinggal aku katakan sudah mentransfer sebagian uang sama kamu. Tinggal nanti Danu menggantinya padaku." kata Rizwan.


"Oke, bisa minta lima juta dulu?" tanya Reiga.


"Kirim nomor rekeningmu."


"Baik pak."


Klik!


Reiga menutup sambungan teleponnya dan mengirim pesan pada Rizwan untuk mengirim nomor rekening. Tak lama, ada laporan masuk mengenai jumlah uang yang di transfer ke rekeningnya.


Reiga tersenyum, dia pun kini kembali bertugas lagi. Menjalankan misi sebagai detektif untuk menyelidiki dan mengikuti Jasmin.


Saat ini dia masih berada di kampua Jasmin. Beberapa mahasiswa keluar dari gerbang, tiga orang mahasiswa yang sepertinya pembicaraannya menarik minat Reiga untuk di dengarkan.


"Jasmin itu sekarang berubah banget ya, dia kok dekat banget sama Dandy. Apa mereka sudah pacaran?" tanya Ira.


"Kurang tahu, tapi aku pernah dengar kalau Jasmin pernah bicara akan menginap di kost Dandy. Kalian curiga ngga sih dengan Jasmin itu?" tanya Seli.


"Curiga bagaimana?" tanya Beni.


"Ya, kan Jasmin sering lho menginap di kost Dandy. Apa jangan-jangan mereka sudah berhubungan layaknya suami istri ya?" tanya Seli.


"Apa?!"


"Iya, aku pernah dengar dia itu sering menginap di kostan Dandy. Dan ibunya pernah tanya sama aku, di mana Jasmin berada. Karena suaminya itu nyariin dia." kata Seli lagi.


"Jasmin kok jadi begitu ya. Aku juga tadinya suka dengan Jasmin yang selalu royal, tapi sekarang mungkin dia jadi lebih dekat sama Dandy."


"Aku lihat tadi pagi, mereka ngobrol di dekat kantin luar. Lalu pergi, ngga masuk kuliah. Kemana ya kira-kira perginya?" tanya Beni.


"Kemana lagi, pasti pergi ke kostan si Dandylah. Sekarang Jasmin sering banget bolos kuliah, tapi anehnya kok suaminya percaya aja ya. Apa dia tidak curiga kalau istrinya selingkuh." kata Ira.


"Kasihan."


"Kasihan apa bodoh?"


"Dua-duanya. Hahah!"


"Udah yuk, biarkan Jasmin seperti itu. Meski kita seperti ini, tapi ngga seperti Jasmin. Aku ngga tahu kalau Jasmin itu manjanya suka menggoda cowok." kata Seli.


Mereka pun pergi menaiki angkot, sedangkan Beni mengambil motornya. Reiga, yang sejak tadi mendengar percakapan ketiga teman Jasmin pun hanya diam di tempat. Sepertinya memang dia menyimpulkan seuatu untuk laporan pada Danu.


_


_


*******************