Cinta Suamiku Bukan Untukku

Cinta Suamiku Bukan Untukku
76. Tidak Bisa Menggantikan


Laras sedang merapikan Rion setelah mandi pagi. Bayi laki-laki itu kini mulai aktif menggerakkan badannya. Danu sedang mandi di kamar mandi ketika Laras sedang merapikan Rion. Suara telepon dari ponsel Danu sangat mengganggu, awalnya Laras tidak menggubrisnya.


Karena dia tidak pernah penasaran atau ingin tahu isi ponsel suaminya. Bahkan jika ada telepon, dia memanggil suaminya. Tapi sejak tadi ponsel Danu berbunyi terus, membuat Laras pun jadi terganggu dan dia segera memanggil suaminya.


"Mas, ponselmu bunyi." teriak Laras di balik pintu kamar mandi.


"Ya., sebentar." jawab Danu.


Laras kembali meneruskan merapikan Rion, ponsel Danu berbunyi lagi. Dia pun penasaran siapa yang menelepon suaminya sampai berkali-kali. Dia pun mendekat, melihat nama depannya siapa yang menelepon.


"Siapa sih yang telepon, kok ngga berhenti-berhenti." kata Laras.


Dia pun mendekat dan melihat siapa yang menelepon suaminya. Baru lihat ponselnya nama serta foto yang menelepon, Laras tertegun. Dia berbalik tidak jadi meneruskan penasaran lagi.


Danu berdiri di depannya, menatap Laras lalu melihat ponselnya. Dengan cepat Danu mengambil ponselnya dan menjawab telepon itu, menjauh dari Laras. Laras menatap punggung suaminya, dia menarik nafas panjang. Kemudian dia mengambil anaknya dan segera pergi keluar dari kamarnya.


Laras menyiapkan sarapan untuk suaminya dan juga dirinya. Rion sudah di pegang oleh Dian dan di ajak main, sebelum Danu berangkat ke kantor. Laras melirik suaminya yang sejak dari kamar hanya diam saja tanpa bicara, dan Laras pun tanpa bertanya apa pun.


Di meja makan pun keduanya masih saling diam, Danu sedang memikirkan sesuatu. Sedangkan Laras tidak mau mencari tahu apa yang sedang di pikirkan suaminya, mungkin juga sedang memikirkan telepon yang masuk tadi.


Selesai makan pun, Danu langsung pergi saja. Laras mengejarnya untuk menyalami suaminya. Dia heran, kenapa sejak mendapat telepon tadi suaminya banyak diam. Bahkan dia tidak bicara apa pun mau pergi kerja.


"Mas Danu, tunggu." kata Laras mengejar suaminya.


Danu berhenti dan berbalik, dia melihat istrinya berjalan mendekat padanya dan mengambil tangannya untuk bersalaman.


"Hati-hati mas." kata Laras.


"Hemm."


Setelah berkata seperti itu, Danu pun kembali melanjutkan langkahnya menuju mobilnya. Tanpa menghampiri Rion anaknya yang sedang di depan. Laras terdiam melihat itu, dia pun mendekat pada Dian dan mengambil anaknya.


"Pak Danu kok nggak gendong Rion dulu sebelum berangkat kak? Biasanya kan gendong Rion dulu." kata Dian.


"Sedang buru-buru kali mas Danu. Sudah jangan di pikirkan, sini Rionnya. Kamu sarapan dulu sana." kata Laras.


"Iya kak."


Laras mengambil anaknya dan masuk ke dalam rumah mengikuti Dian masuk.


_


Beberapa hari Danu banyak diam, sekarang dia jarang bermain dengan Rion. Perubahan itu membuat Laras semakin heran, ada apa dengan suaminya itu. Dia ingin bertanya, tapi sepertinya Danu tidak mau di ganggu dengan pertanyaan apa pun darinya.


Tapi Laras memberanikan diri untuk bertanya, dia berpikir siapa tahu ada masalah berat. Tapi pikirannya sejak dapat telepon pagi itu, di situ perubahan sikap Danu.


Saat sarapan pagi, Laras mencoba memberanikan diri untuk bertanya pada suaminya.


"Mas, kamu jarang main sama Rion akhir-akhir ini. Apa ada masalah?" tanya Laras.


"Tidak ada apa-apa." jawab Danu datar saja.


"Tapi kamu banyak diam akhir-akhir ini mas." kata Laras lagi.


"Maaf mas." kata Laras.


Laras lalu pergi meninggalkan Danu yang tadi terlihat kesal padanya. Danu menghela nafas panjang, dia tidak mau Laras ikut memikirkan masalah yang dia hadapi.


Setelah selesai sarapan, Danu pun masuk ke dalam kamarnya mengambil tasnya lalu keluar lagi dan langsung menuju mobilnya. Laras tidak mengejarnya untuk mencium tangannya, tapi dia ada di depan dan di lewati Danu begitu saja.


Laras kembali kecewa, baru dia merasakan bahagia dengan perubahan suaminya dan juga sikapnya yang bertanggung jawab. Kini berubah lagi, entah apa yang membuat dia berubah. Laras tidak tahu, tapi dia memperkirakan sejak mendapat telepon dari seseorang itu.


Hingga malam hari, Danu pulang pun dia masih saja mendiamkan istrinya. Laras pun sudah terlelap ketika Danu masih berkutat di depan laptopnya. Danu melirik sebentar ke arah istrinya yang sudah tertidur, kemudian kembali menatap laptopnya.


"Hwuaa! Hwuaa!"


Tangisan bayi laki-laki itu tidak membuat Danu terganggu, hingga Laras pun terbangun dari tidurnya dan mengambil anaknya yang menangis. Melirik ke arah Danu masih saja menatap laptopnya, entah sedang mengerjakan apa.


Laras memberi asi pada Rion sampai bayi berusia tiga bulan itu tertidur lagi. Danu masih di depan laptop, Laras penasaran apa yang di lakukan oleh suaminya itu. Dia pun memanggil Danu.


"Mas, kamu tidak tidur? Ini sudah jam sebelas malam." kata Laras mengingatkan suaminya.


"Ya nanti." jawab Danu.


Hanya itu jawaban Danu, Laras pun kembali berbaring. Dia bukannya langsung tidur, tapi memikirkan apa yang sedang di pikirkan suaminya. Apakah dia ingat mantan istrinya?


_


Seperti biasa, Laras menyiapkan sarapan pagi. Dia sudah menatanya di meja makan. Danu belum juga keluar dari kamarnya, sehingga Laras pun menyusul ke kamar. Dia masuk dan tidak melihat suaminya.


Suara dering ponsel pun berbunyi, karena penasaran. Laras pun mendekat di mana ponsel Danu berada, dia ingin tahu siapa yang menelepon. Karena akhir-akhir ini, suaminya berubah. Maka dia pun penasaran siapa yang menelepon pagi-pagi seperti ini.


Laras mendekat, mencoba untuk melihat nama pemanggil di telepon. Dan dia pun tertegun, dari nama yang memanggilnya. Laras ingin menjawabnya karena sejak tadi ponselnya tidak mau berhenti berbunyi. Saat tangannya mengangkat, suara keras Danu mengagetkan Laras.


"Jangan sentuh ponselku!" teriak Danu.


Laras berbalik dan menatap suaminya yang sedang menatapnya tajam. Dia pun diam lalu pergi dan berkata pada suaminya.


"Sarapan sudah siap mas." kata Laras kemudian dia pun keluar dari kamarnya.


Berhenti di depan pintu, dadanya kembali sesak. Apakah dia yang menelepon, yang membuat suaminya berubah. Tiba-tiba air matanya luruh, tapi cepat-cepat di hapus lagi karena takut di ketahui oleh Dian. Gadis itu selalu memperhatikan apa yang dia alami dan di lihat, dan akan menanyakannya nanti.


Setelah merasa lebih baik, Laras pun kembali ke dapur. Hatinya benar-benar mengerti, kenapa suaminya tidak bisa berpaling padanya. Karena suaminya itu belum bisa melupakan mantan istrinya. Entah apa yang membuat dia dan Jasmin berpisah, Laras tidak tahu.


Seharusnya dia sadar, Danu hanya kesepian dan hanya ingin ada seseorang yang menemaninya saja. Bukan menjadikan dirinya satu-satunya perempuan di hatinya.


"Aku hanya istrinya, bukan wanita yang dia cintai. Cintanya bukan untukku, melainkan hanya untuk mantan istrinya. Naif sekali aku berharap mas Danu mau mencintaiku. Sungguh, benar-benar aku perempuan yang tidak bisa menggantikan posisi gadis itu di hatinya." ucap Laras dengan pelan sambil menyeka air matanya yang jatuh.


Membuat seseorang di belakangnya jadi diam mendengar ucapannya itu.


_


_


*******************