
Danu dan Jasmin masih menunggu di teras rumah Laras, hingga malam hari. Membuat Jasmin kesal sekali harus menunggu lama di rumah kecil tersebut.
"Kita pulang saja dady, buat apa kita menunggu orang tidak penting itu?!" kata Jasmin kesal.
"Katanya kamu mau cepat selesai, ya tunggu dulu. Mungkin sebentar lagi dia pulang, jangan marah-marah terus." kata Danu.
Dia berharap hari ini Laras memang tidak pulang. Tapi dia penasaran, jika tidak pulang dia pergi kemana? Apa bersama laki-laki itu?
Pikiran Danu semakin kemana-mana. Antara kesal mengingat laki-laki bernama Andre begitu dekat dengan Laras. Dan juga dia bingung harus cari kemana Laras.
"Sudah, kita pulang saja dady. Kamu saja yang datang nantinya, aku tunggu juga laporan kalau kamu sudah menceraikan perempuan itu!" kata Jasmin.
Danu pun mengangguk pelan, dia pun berdiri dan segera menuju mobilnya. Di susul oleh Jasmin yang segera masuk ke dalam mobil. Danu masih ragu, dia menoleh ke belakang. Menatap rumah Laras yang sepi itu.
"Dady! Cepetan!"
"Iya."
Danu masuk ke dalam mobil, dia melihat istrinya itu masih dengan wajah kesal. Mesin di jalankan, lalu melajukan mobilnya dengan pelan. Pikiran Danu masih berkutat pada Laras, kemana istrinya itu.
"Besok aku ikut lagi datang kesana." kata Jasmin.
"Katanya hanya aku saja yang datang." kata Danu.
"Aku tidak percaya dady nanti akan menceraikan perempuan itu." kata Jasmin lagi.
Danu menarik nafas panjang, dia hanya diam saja. Tidak mau ambil pusing berdebat dengan istrinya itu. Dia malas dan tidak mau bicara banyak, karena pikirannya masih tertuju pada Laras.
_
Esok harinya, benar saja. Danu dan Jasmin datang lagi ke rumah Laras. Namun, lagi-lagi harus menelan kekecewaan. Rumah Laras masih sepi seperti kemarin, mereka kembali menunggu sampai malam hari.
"Sudahlah, kita pulang dady. Buat apa juga menunggu dia, mungkin saja perempuan itu sedang asyik-asyik dengan laki-laki itu." kata Jasmin mulai mengompori Danu.
"Kamu jangan bicara sembarangan. Laras tidak akan seperti itu, meski dia itu sendiri. Tapi tidak akan berani pergi dengan laki-laki itu, karena dia tahu dia masih bersuami. Tidak seperti kamu, pergi begitu saja dan tidak pulang-pulang berhari-hari." kata Danu kini mulai kesal karena Jasmin selalu menjelekkan Laras.
Meskipun dia juga takut Laras selalu di temani Andre, tapi dia yakin istrinya itu tahu masih punya suami dan menjaga diri.
Jasmin mendengus kesal, dia kesal karena sejak kemarin Danu membela Laras. Akhirnya dia pun meminta Danu untuk pergi ke rumah orang tuanya.
"Antarkan aku ke rumah ibu." kata Jasmin.
"Untuk apa?" tanya Danu.
"Pokoknya antarkan aku ke rumah ibu! Aku ingin menginap di rumah ibu, malas aku sama kamu dady." kata Jasmin ketus.
Danu pun memutar balik mobilnya, dia juga kesal kenapa Jasmin jika ada masalah selalu saja lari dan pergi ke rumah ibunya. Namun demikian, dia menyadari kalau istrinya itu masih labil. Apa pun dapat masalah, selalu saja menghindarinya. Selalu saja marah dan membujuk Danu untuk menuruti kemauannya.
Sampai di depan rumah ibu mertuanya. Danu menghentikan mobilnya, Jasmin pun turun dari mobil dan menutup pintu dengan keras.
Brak!
"Dasar anak labil!" umpat Danu karena dia kesal sekali.
Dia mencoba untuk sabar dengan sikap Jasmin yang selalu menghindar dan pergi meninggalkannya ketika ada masalah. Dia tidak mau ambil pusing sekarang, dia ingin mencari Laras. Masih bingung kenapa Laras tidak ada di rumahnya.
Sudah dua hari istrinya itu tidak ada di rumahnya. Kemana Laras pergi. Tapi dia kembali lagi ke rumah Laras, berharap gadis itu sudah pulang ke rumahnya. Mungkin saja dia sudah kembali lagi di rumahnya.
Mobil Danu sudah berada di depan rumah Laras yang masih sepi. Danu menghela nafas panjang, ternyata tetap sepi dan Laras tidak ada.
"Kemana dia ya?" gumam Danu.
Dia menunggu di dalam mobil, masih berharap Laras datang. Satu jam, dua jam dan sudah tiga jam Danu menunggu Laras datang. Dan akhirnya dia pun kembali pulang ke rumahnya. Dalam kegelisahannya dia memikirkan apa yang selama ini di lakukannya pada Laras.
Sejak pertama menikah, dia tidak pernah berlaku baik pada gadis itu. Memperlakukan layaknya orang asing di rumah dan dia juga mengusir Laras pergi dari rumahnya, bahkan dia datang tiba-tiba lalu meminta jatahnya. Hingga dia hamil anaknya.
Bahkan dia tidak tahu Laras hamil, menyadari banyak kesalahan yang dia lakukan pada istri pertamanya itu membuat Danu semakin merasa bersalah. Dan sekarang dia datang untuk menceraikan Laras atas keinginan Jasmin.
Laki-laki macam apa dia itu? Suami yang hanya ingin di perhatikan, tanpa punya rasa belas kasih. Makin di pikirkan, Danu semakin merasa bersalah. Dia kini menyesali perbuatannya itu.
Mobil pun berhenti di halaman rumahnya, terlihat lampu di dalam menyala. Dia heran, apakah Jasmin pulang lebih dulu?
Dengan cepat dia keluar dari mobilnya, segera melangkah masuk ke dalam rumah. Mencari Jasmin di mana dia berada. Dan Danu pun berhenti di depan pintu kamarnya.
Berdiri istrinya itu dengan wajah seperti sedih, kemudian dia pun berlari memeluk Danu lalu menangis terisak.
"Dady, maafkan aku. Aku janji tidak akan lagi berbuat salah sama dady." kata Jasmin.
Danu tertegun, dia diam saja. Kemudian tangannya membalas pelukan Jasmin. Dia merasa lega karena Jasmin menyadari kesalahannya, Danu senang sekali akan istrinya kembali pulang.
"Kamu pulang sayang, maafkan aku." kata Danu.
Sejenak dia lupa lagi dengan Laras. Beberapa saat lalu dia menyesali kesalahan yang di lakukan olehnya pada Laras, tapi kini dia merasa senang karena Jasmin kembali lagi.
"Dady janji tidak akan lagi menemui perempuan itu kan?" tanya Jasmin.
"Iya, tapi kamu jangan menyuruhku untuk menceraikannya lagi. Suatu saat nanti aku juga akan menceraikannya, aku sangat mencintai kamu. Percaya sama aku." kata Danu masih memeluk Jasmin.
"Baiklah, aku percaya sama dady." kata Jasmin.
Mereka kini berbaikan lagi, Danu senang karena istrinya kembali lagi. Dia akan merajut kembali dengan Jasmin yang sempat renggang dan tegang karena masalah Laras. Juga dia akan mencari tahu secara diam-diam di mana Laras berada. Dia ingin tahu tentang anaknya itu, jika sudah mengetahuinya. Dia akan memantaunya dari jauh, begitu kira-kira pikiran Danu.
Lalu, bagaimana dengan orang suruhan Danu? Apakah dia mendapatkan bukti-bukti???
_
_
***************