Cinta Suamiku Bukan Untukku

Cinta Suamiku Bukan Untukku
66. Ke Panti Asuhan


Danu sudah mendaftarkan perceraian ke pengadilan sejak sebelum dia membeberkan fakta dan bukti tentang perselingkuhan istrinya dengan teman kuliahnya. Dan kemarin dia sudah mengirim berkas yang harus di tanda tagani oleh Jasmin.


Danu sudah tidak peduli lagi dengan Jasmin, hatinya sudah membeku pada gadis itu. Dan gadis itu bahkan masih saja bersenang-senang dengan temannya paska foto dan video itu di perlihatkan. Jasmin gadis labil, apa pun masalah yang menimpamya selalu dia hindarkan. Bukan mencari solusi bagi masalahnya.


Perbedaan usia dan kedewasaan memang menentukan karakter usia perkawinan. Memang tidak mudah seperti itu, tetap adakalanya tidak bisa di paksakan.


Kini Danu melajukan mobilnya menuju panti asuhan, di mana asal Laras berada. Dia berharap memang Laras kembali ke panti asuhan itu, meski pun sepertinya itu mustahil.


Dia memarkirkan mobilnya di depan halaman, panti asuhan yang sama sejak dulu dia pernah di ajak oleh ibunya itu. Tidak banyak berubah. Waktu usia sekolah SMP pernah di ajak ibunya, bayangan anak kecil dengan rambut panjang tergerai yang menyalami ibunya ketika baru datang.


Danu tersenyum, mengingat gadis berambut lurus menghampiri ibunya tanpa menoleh padanya. Ibu dan gadis kecil itu bicara sangat akrab sekali, hingga sampai di dalam panti. Sejak itu, Danu sangat kesal dan benci pada gadis itu.


Ya, gadis itu adalah Laras. Yang sejak kecil selalu dekat dengan ibunya. Sejak saat itu pula dia menjadi laki-laki pendiam dan selalu tidak mau pergi ke panti asuhan.


Apa lagi menjelang dia kuliah, Laras sering pergi ke rumah ibunya. Sering sekali gadis itu membantu ibunya dalam segala hal, terkadang membantunya memasak. Ternyata ibunya sudah menganggap anak pada Laras dan menjadi ibu asuhnya.


Tapi Laras menolak untuk tinggal di rumah ibunya, bahkan ketika dia sekolah SMA pun memilih ngekost tidak tinggal di panti asuhan lagi. Tetapi masih sering membantu ibunya dan panti asuhan.


Hingga pernah suatu kali dia sakit, yang merawat adalah Laras. Dia tidak mau, tapi ibunya memaksa Laras yang merawatnya hingga sembuh.


Bayangan gadis yang merawatnya itu kini kembali mengusik lubuk hatinya. Danu tersenyum getir, ternyata gadis itu memang sudah dekat sekali dengannya. Entah apa yang membuat dia mau menikah dengannya yang pendiam, keras kepala dan selalu ketus jika bicara padanya.


Dia menarik nafas panjang, kemudian turun dari mobilnya. Mencoba menenangkan hatinya yang cemas karena takut Laras tidak ada di panti asuhan.


"Semoga kamu bisa aku temukan Laras." gumam Danu.


Dia melangkah masuk ke dalam panti, terlihat anak-anak kecil sedang bermain. Ada satu pengasuh yang sedang mengawasi anak-anak bermain itu. Danu terus melangkah mendekat pada mereka yang sedang bermain.


Salah satu anak pun melihat kehadiran Danu dan berteriak.


"Bu, ada orang yang mau kasih hadiah." ucap anak laki-laki menunjuk pada Danu.


Pengasuh itu terkejut, Danu pun begitu. Dia tertegun, sepertinya dia tertampar sendiri karena tidak pernah menyumbang apa pun pada panti asuhan milik ibunya. Yang kini sudah di serahkan pada Laras. Pengasuh itu pun mendekat dan bertanya pada Danu.


"Ada apa ya pak?" tanya pengasuh itu.


"Ibu Rima ada?" tanya Danu ragu.


"Ada di belakang, nanti saya panggilkan dulu. Bapak ke bagian kantor saja dulu." kata pengasuh itu.


"Terima kasih." kata Danu.


Danu mengikuti pengasuh panti untuk pergi ke kantor yang tampak kecil. Tidak seperti kantornya di sana. Rasanya Danu kembali terusik ketika ruang kantor itu kecil dan hanya ada meja serta lemari yang sudah rusak bagian kayu-kayunya. Dia pun menunduk, entah kenapa hatinya terasa pilu.


"Pak Danu." sapa seseorang di depan pintu.


Danu menoleh, dia melihat ibu Rima yang sudah terlihat tua. Wibawanya masih sama ketika dia datang dulu ke panti asuhan. Danu mendekat dan menyalami ibu Rima.


"Selamat siang bu Rima." sapa Danu.


"Siang pak Danu." jawab ibu Rima.


Meskipun tahu dulu Danu adalah laki-laki yang masih remaja saat di bawa ke panti itu, tapi ibu Rima menghormati anak dari pemilik panti asuhan itu.


Keduanya pun duduk saling berhadapan, Danu agak canggung dan malu jika hanya ingin bertanya tentang keberadaan Laras itu. Dan akhirnya dia pun ingin menyumbangkan uang serta perlengkapan kantor.


"Bu Rima, maafkan saya baru bisa datang kemari. Saya ingin menyumbangkan uang di panti asuhan ini dan ..." ucap Danu terhenti.


"Kenapa pak?" tanya ibu Rima.


"Apakah ibu punya rekening bank?" tanya Danu.


"Saya ingin menyumbangnya dan tolong tuliskan nomor rekeningnya di ponsel saya." kata Danu.


Ibu Rima tersenyum, dia lalu mengambil buku rekening di dalam laci. Karena tidak hafal nomor rekening yang banyak itu, jadi dia menyerahkan buku rekeningnya pada Danu. Danu menerimanya dan mengetikkannya di layanan M-bankingnya, dia menyumbang sebesar sepuluh juta awal. Dan dia akan terus menyimbang setiap bulannya, pikir Danu dalam hati.


"Sudah saya transfer ke rekeningnya bu. Mungkin Insya Allah akan setiap bulan saya kirimnya meskipun tidak seberapa." kata Danu.


"Terima kasih pak Danu. Ini juga sudah lumayan dan Alhamdulillah, pasti anak-anak senang jika mendapatkan hadiah nantinya dari uang yang pak Danu sumbangkan." kata ibu Rima.


"Dan nanti juga saya kirim perlengkapan isi kantor ini. Saya lihat lemari sudah rusak." kata Danu.


"Oh ya, itu karena dananya belum cukup untuk membeli lemari baru." kata ibu Rima lagi.


Diam. Danu diam lagi, dia bingung mau bertanya tentang Laras. Ibu Rima sepertinya tahu kalau Danu sedang kebingungan.


"Maaf, apa Pak Danu mau tanya sesuatu?" tanya ibu Rima.


"Oh ya, benar bu. Dan sebelumnya maafkan saya, saya sedang mencari Laras saat ini. Apa ibu tahu di mana Laras?" tanya Danu.


"Laras? Bukankah di rumahnya?" kata ibu Rima.


Membuat Danu diam, dia terkejut. Apakah ibu Rima tidak tahu kalau Laras itu sedang hamil? Bahkan mungkin sudah melahirkan. Jadi ibu Rima tidak tahu?


"Emm, saya belum kesana bu." jawab Danu lirih.


Dia kecewa dengan jawaban ibu Rima yang sepertinya tidak tahu keberadaan Laras. Wajahnya benar-benar nampak kecewa, ibu Rima melihat wajah Danu kecewa. Ada apa dengannya?


"Pak Danu mencari Laras?" tanya ibu Rima, agak heran dengan Danu.


"Iya bu. Saya mencarinya ke rumahnya tapi tidak ada." jawab Danu.


Ibu Rima diam, dia sendiri belum datang ke tempat Laras sejak Laras pindah dari rumah Danu yang dulu. Hanya mendengar cerita dari Dian kalau Laras sekarang sudah tidak tinggal di rumah Danu. Bahkan dia tahu Laras sedang hamil anak Danu.


"Bu Rima tahu Laras kan? Apa ibu tahu di mana Laras berada?" tanya Danu.


"Tapiii, ibu belum pernah datang kesana. Ibu sering sakit-sakitan, jadi jika pergi rasanya sakit ibu akan kambuh." kata ibu Rima.


"Tidak apa ibu tidak perlu mengantarkan, biar saya yang datang ke ruamh Laras." kata Danu senang karena sepertinya ibu Rima tahu di mana Laras tinggal.


"Ibu tidak tahu apa yang terjadi dengan pak Danu dan Laras. Tapi ibu minta, jangan lagi Laras di sakiti. Itu saja." kata ibu Rima.


"Tidak bu, saya akan menyayangi Laras dan anakku." kata Danu penuh semangat.


Ibu Rima pun menuliskan sebuah alamat yang pernah Dian berikan padanya. Kemudian dia serahkan pada Danu. Danu senang dan melihat carik kertas bertuliskan alamat rumah Laras yang baru. Dia tersenyum dan menatap ibu Rima.


"Terima kasih bu, saya akan datang kesana. Saya janji akan menyayangi Laras dan anakku bu." kata Danu.


Setelah berpamitan, akhirnya Danu pun pergi. Dia tampak senang sekali mendapatkan alamat rumah Laras yang baru. Entah kenapa Laras tidak lagi menempati rumah BTNnya itu, tapi dia tidak peduli. Danu bertekad akan menemukan Laras secepatnya.


"Kenapa tidak dari dulu aku datang ke panti asuhan ya." ucapnya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, rasanya Danu sangat senang dan pikirannya melayang pada istrinya itu. Membayangkan dia di sambut dengan senyuman Laras di depan pintu.


"Aaah, aku merindukanmu Laras."


_


_


******************