Cinta Suamiku Bukan Untukku

Cinta Suamiku Bukan Untukku
Bab 27 Sampai Kapan?


Sebulan telah berlalu setelah kebebasan Mama Rindi. Wanita paruh baya itu sudah mendapatkan kembali harta yang pernah hilang. Rumah, mobil, aset-aset berharga termasuk tabungan dan perhiasan. Bahkan mendapatkan jumlah yang lebih besar karena mendapatkan kompensasi dari keluarga Nathan. Kakek Moeis tahu semua itu tidak bisa dibandingkan dengan nyawa papa Oddie yang hilang, tapi itu adalah bentuk lain dari permintaan maafnya yang tulus.


Selain itu, masih ada kabar baik lainnya. Bahwa selama hidup Mama Rindi akan tetap mendapatkan gaji dari perusahaan meskipun tidak lagi bekerja. Jadi dia bisa fokus memperhatikan Oddie sepanjang hari tanpa perlu khawatir. Dua orang perawat secara khusus telah disiapkan. Juga beberapa pengawal yang ditugaskan untuk berjaga-jaga.


Sementara untuk Oddie, Nathan sudah meluruskan uang nafkah yang sempat hilang kepada Mama Rindi. Karena Oddie menolak semua pemberian Nathan. Nathan akhirnya memutuskan untuk menyerahkan sebuah kartu kepada Mama Rindi. Berharap uang itu diterima Oddie suatu hari nanti.


Saat Ini Oddie sedang duduk di kursi roda di kamarnya. Melihat kearah jendela besar dan melihat Pak Maman dan dua satpam yang ikut dipindahkan ke rumah Oddie bersama Bi Lastri. Rumah ini terlalu sepi hanya untuk ditinggali berdua. Jadi Oddie meminta mereka bekerja di rumah ini untuk meramaikan suasana. Toh rumah Nathan sudah dikosongkan dan mereka adalah orang yang selalu ada untuk Oddie.


Oddie baru akan meminum segelas susu buatan mamanya, tapi perhatiannya teralihkan oleh kedatangan seorang tamu yang tak lain adalah mama mertuanya. Selagi Mama Rindi menyambut besannya, Oddie segera mengunci pintu kamar. Lalu menutup telinga dan menggunakan earphone untuk memutar musik. Apapun yang mereka katakan, Oddie tidak ingin mendengarnya.


"Masuklah!" kata Mama Rindi.


"Terimakasih!" sahut Mama Maureen.


Tidak lama setelah Mama Maureen duduk, Bi Lastri datang untuk menyajikan teh hangat dan langsung undur diri dengan sopan.


"Minumlah!" kata Mama Rindi mempersilahkan.


Mama Maureen mengangguk. Lalu menyeruput tehnya sedikit. Satu bulan ini, Mama Maureen lah yang paling sibuk memastikan harta milik Mama Rindi kembali sepenuhnya. Satu bulan ini pula dia minta maaf entah kepada menantu ataupun besannya. Jika Mama Rindi masih berkompromi dan bersedia bertemu dengannya, maka tidak dengan Oddie. Sekalipun, Oddie tidak pernah mau bertemu dengannya ataupun Nathan. Termasuk anggota keluarganya yang lain bahkan Kakek Moeis sekalipun.


"Bagaimana keadaan Oddie. Apa dia baik-baik saja?" tanya Mama Maureen sembari melirik pintu kamar Oddie.


"Dia baik. Tapi maaf, dia masih tidak ingin bertemu dengan kalian semua," jawab Mama Rindi.


"Tidak apa-apa. Mungkin ini hukuman untukku karena telah menyia-nyiakan menantu yang baik seperti dia," kata Mama Maureen penuh sesal.


Wanita itu tersenyum getir. Mengingat bahwa selama ini dia hidup begitu angkuh dan sombong. Membela yang salah dan menyalahkan yang benar. Menunjukkan kasih dan perhatiannya pada Kirana setinggi langit tepat di hadapan Oddie, menantunya sendiri yang tidak pernah mendapatkan perhatian seperti itu. Masih menghujat Oddie sebagai anak koruptor dan menyebutnya sebagai wanita rendahan. Hati siapa yang tidak sakit dikatai seperti itu oleh mertuanya sendiri?


"Dosaku untuknya memang tidak termaafkan. Aku tidak keberatan jika Oddie membenciku selamanya. Tapi, Ndi! Bisakah membujuknya untuk tidak bercerai dengan Nathan?"


Mama Maureen mulai memelas. Memohon kepada Mama Rindi agar Oddie mau memberikan Nathan kesempatan satu kali saja. Karena besok gugatan perceraian itu akan diajukan ke pengadilan.


"Aku sudah membujuknya. Tapi dia tidak mau. Dia ingin tetap bercerai," kata Mama Rindi.


Ya. Mama Rindi memang sudah membujuk Oddie beberapa kali tapi Oddie tetap teguh pada pendiriannya. Sekarang dua wanita itu saling diam. Lalu melihat pintu kamar Oddie yang tertutup tanpa mengatakan apa-apa. Suasana cukup sepi untuk beberapa saat. Sampai seorang tamu yang lain datang. Orang itu siapa lagi kalau bukan Nathan.


"Ma, aku ingin bertemu Oddie!" kata Nathan setelah Mama Rindi mempersilahkannya duduk. Pria itu langsung bicara ke intinya. Karena tujuannya kemari adalah untuk bicara dengan Oddie.


"Tapi, Ma! Tidak ada waktu lagi!" mohon Nathan. Wajah pria itu memelas. Pernikahannya sudah seperti telur di ujung tanduk dan Oddie tidak ingin bertemu dengannya sama sekali. Bagaimana dia bisa tenang.


Mama Maureen yang melihat Nathan seperti itu sangat kasihan. Diapun ikut berbicara untuk mencari jalan keluarnya. "Nathan, apa kau punya sesuatu untuk kau tukar agar Oddie memberimu kesempatan?" tanya Mama Maureen.


"Ma, Nathan bersedia melakukan apapun. Asalkan tidak bercerai, apapun itu Nathan rela, Ma! Nathan janji!" jawab Nathan.


"Nathan!" ucap Mama Rindi.


Raut wajah Mama Rindi berubah. Entah kenapa firasatnya mengatakan untuk tidak membiarkan Nathan mengatakan janji seperti ini. Tapi ucapannya terpotong oleh kalimat Mama Maureen.


"Sekali ini saja, tolong katakan pada Oddie!" kata Mama Maureen dengan menyentuh tangan Mama Rindi.


"Tapi bagaimana kalau Oddie meminta sesuatu yang tidak masuk akal?" tanya Mama Rindi pada besannya.


Bagaimanapun juga Mama Rindi lah yang paling mengerti perasaan Oddie saat ini. Mata atau kaki yang sakit memang masih bisa di operasi. Nathan secara pribadi bahkan sudah mengatur jadwal untuk itu tanpa sepengetahuan Oddie dan rencananya akan dilakukan setelah Oddie melahirkan nanti. Tapi bagaimana jika yang sakit adalah hatinya?


"Maka Nathan akan memberikannya, Ma!" jawab Nathan.


Tidak butuh waktu yang lama bagi Nathan untuk meyakinkan Mama Rindi. Dia benar-benar akan memenuhi semua persyaratan yang Oddie minta. Apapun itu, asalkan mereka tidak bercerai maka Nathan akan memberikannya. Bahkan jika dia harus kehilangan harta, kaki atau penglihatan seperti yang Oddie alami.


"Nathan?" kata Mama Rindi lagi.


"Ma, tolong! Sekali ini saja!" pinta Nathan.


Mama Rindi akhirnya bangkit. Meminta menantu dan besannya menunggu sementara dia langsung menemui Oddie. Membutuhkan waktu lama hanya untuk membuat Oddie membuka pintu dan butuh waktu jauh lebih lama untuk meyakinkan Oddie agar bersedia sekali ini saja bertemu dengan Nathan.


"Sayang, sekali ini saja! Kalau kau takut mama bisa menemanimu," bujuk Mama Rindi.


Tapi yang dibujuk sama sekali tidak tertarik. Karena selama Mama Rindi membujuknya Oddie lebih fokus dengan satu tangkai bunga segar yang dia ambil dari vas di depannya. Bunga yang sangat cantik, tapi menjadi rusak setelah Oddie menarik paksa satu persatu mahkota bunganya hingga tak tersisa. Menyisakan bunga cacat yang sama sekali tidak menarik sama persis seperti dirinya.


"Sampai kapan kau terus begini, Die? Ingin bercerai bukan? Kalau begitu mama tidak perlu memintanya menunggu diluar. Biar dia pulang sekarang juga!"


Mama Rindi setengah berteriak. Lalu mengguncang bahu Oddie berharap anak semata wayangnya itu segera memutuskan. Teriakannya cukup membuat Nathan dan Mama Maureen menoleh sebelum akhirnya mendekat ke pintu.


...***...