
Laras selesai mengaji di depan kuburan mertuanya. Dia masukkan lagi buku berisi doa-doa di keranjang. Menatap nanar pada nisan bertuliskan nama Ramona. Ibu asuh sekaligus mertuanya itu..
Sudah tiga kali ini dia datang ke kuburan itu, beeziarah dan mendoakan. Atau sekedar bercerita tentang kehamilannya, seperti saat ini. Dia sedang bercerita di depan makam mertuanya.
"Ibu, cucumu belum mau keluar. Apa dia menunggu ayahnya datang? Entahlah, dia sangat betah sekali di dalam. Padahal sudah hampir sepuluh bulan, dokter sudah nenyarankan untuk sering jalan kaki dan berjongkok. Tapi tetap tidak mau keluar juga. Apa aku bersalah pergi dari rumah itu?" gumam Laras sambil mengelus perutnya yang besar.
Dari jauh Reiga masih memperhatikan, sedangkan Laras terus bercerita tentang rumah tangganya.
"Bu, maafkan aku. Aku tidak bisa menjaga amanah ibu, tidak boleh pergi dari mas Danu. Tapi mas Danu yang memilih perempuan lain dari pada aku. Aku merasa lebih baik pergi bu, melepas mas Danu untuk istrinya yang sangat dia cintai. Aku tidak mau jadi benalu lagi pada mas Danu. Sekali lagi maafkan aku yang tidak bisa menjaga amanah ibu." kata Laras sambil terisak sedih.
Perut bergerak, Laras mengelusnya kembali. Dia menenangkan bayi di dalam perutnya itu. Laras menangia, dia tidak mau bayinya ikut stres karena dia juga merasa sedih. Tapi tetap saja hatinya tidak bisa berbohong, mengandung tanpa di dampingi sama sekali oleh suaminya. Itu sangat menyakitkan, tapi dia berusaha tegar.
Berusaha sabar merima nasibnya, dia akan merawat anaknya dengan baik. Meski nanti lingkungan di mana dia tinggal akan mempertanyakan siapa anaknya. Dia punya suami, tapi seperti tidak punya suami. Karena tidak punya buku nikah.
Seperti di kontrakan dulu, Andre selalu datang dan pemilik rumah curiga kalau dia adalah korban perkosaan atau perempuan yang tidak baik. Hamil, tapi tidak ada suaminya. Sangat menyakitkan sekali ketika dia di usir dari kontrakan karena tidak bisa menunjukkan buku nikah.
Ya, Laras dan Danu hanya menikah siri. Tanpa ada pendaftaran ke kantor KUA, Danu hanya membiarkan dia menjadi istri siri saja waktu itu. Karena ada gadis lain yang dia impikan menjadi istri sahnya.
Laras kembali menangis ingat nasibnya, dia berusaha tidak menangis lagi. Tapi mungkin hormon kehamilannya yang membuat dia selalu saja bersedih ketika mengingat nasibnya.
Dia pun bangkit dari duduknya, sudah hampir dua jam dia duduk di depan makam mertuanya. Di ambilnya keranjang bunga dengan susah payah, lalu dia pun berbalik. Dia terkejut melihat ada seorang laki-laki di depannya.
Matanya mengerjap cepat, lalu menatap ke arah kuburan ibu Ramona. Dia tersenyum lalu menunduk, melangkah mau meninggalkan laki-laki yang sedang menatapnya penuh kesedihan dan kerinduan itu.
"Laras, kamu di sini?" sapa laki-laki itu yang tak lain adalah suaminya.
"Mas Danu mau ziarah ke makam ibu? Silakan saja, aku sudah tabur bunga di atasnya dan mendoakan ibu juga." kata Laras berusaha tidak menangis.
"Iya nanti, tapi aku ingin sekali bertemu denganmu. Aku mencarimu kemana-mana, Laras. Aku ...." ucapan Danu terhenti.
Dia menatap perut Laras yang masih membesar, ingin sekali dia memeluk istrinya. Danu mendekat, sedangkan Laras diam saja. Kepalanya menunduk sambil memegangi perutnya.
Danu memeluk istrinya itu dengan erat, dia menangis terisak. Menangis bahagia bisa bertemu dengan istri yang selama ini dia cari.
"Maafkan aku Laras, maafkan aku. Aku memang bodoh, maafkan aku." kata Danu membelai rambut Laras dan mencium kepalanya.
Laras menangis, dia tidak tahu apa yang sedang dia hadapi. Apakah benar suaminya itu meminta maaf padanya? Bahkan sekarang dia memeluknya?
Ragu Laras membalas pelukan Danu, sedangkan Danu sendiri merasa terharu dan sedih serta bersalah. Benar-benar dia merasa bersalah ketika tadi dia mendengar Laras berkeluh kesah di depan makam ibunya.
Keduanya saling menangis, memeluk erat. Sedangkan Reiga dari jauh di sampingnya Rizwan juga ikut terharu. Mereka juga ikut menitikkan air mata, tapi dengan cepat keduanya mengusapnya.
"Semoga dia benar-benar mencintai Laras. Aku tidak suka sahabatku jadi lebih angkuh karena mantan istrinya yang terlalu liar itu." ucap Rizwan.
"Jadi, bu Laras ini istri pertama hasil perjodohan?" tanya Reiga.
"Ya, Danu mata dan hatinya buta saat itu. Mungkin dia malu karena istrinya dari panti asuhan. Dia baru di angkat jadi direktur bank, dan kebetulan dia bertemu dengan Jasmin yang manja waktu itu. Aneh sebenarnya, dia menyukai Jasmin yang manja dan centil. Tapi mungkin Danu itu suka gadis yang manja, dia bahkan senang sekali dengan gadis itu yang selalu merayunya. Sedangkan Laras, gadis dewasa dan tidak pernah menuntut juga penurut." kata Rizwan.
"Benar, tapu Danu berbeda. Dia lebih suka ada perempuan yang selalu meminta dan mengandalkannya. Karena dia mempunyai segalanya, jadi apa pun akan dia lakukan jika dia bisa berikan. Terkadang memang ada laki-laki yang menyukai perempuan yang manja dan selalu meminta tolong padanya. Yaitu Danu, dia laki-laki seperti itu. Tapi sekarang dia terbuka mata hatinya, syukurlah. Semoga saja memang bisa mencintai Laras sepenuhnya. Karena dia juga membutuhkan pelayanan dari istrinya itu." kata Rizwan.
Mereka masih menatap kedua suami istri yang sedang bicara. Keduanya ikut tersenyum senang ketika melihat Danu memegang perut Laras.
"Seharusnya dia sudah lahirkan?" tanya Danu.
"Iya. Tapi dia masih betah di dalam." jawab Laras.
"Kamu, ... baik-baik saja?" tanyq Danu tiba-tiba merasa canggung.
"Ya, aku baik-baik saja mas. Alhamdulillah." jawab Laras.
"Kenapa kamu pergi dari rumah BTN itu?" tanya Danu.
"Aku tidak mau di situ lagi mas." jawab Laras.
Diam, Danu diam lagi. Laras pun ikut diam, mereka canggung. Tapi akhirnya Danu kembali bicara pada Laras.
"Maafkan aku Laras, waktu itu aku ..."
"Tidak apa mas, yang butuh perhatian kan bukan aku. Tapi istrimu itu, jadi kamu lebih memilih dia kan." kata Laras.
"Maaf."
"Oh ya, kalau mas Danu mau mendoakan ibu. Duduk aja di batu itu, aku sudah tadi." kata Laras.
"Temani aku. Aku sudah lama tidak berziarah ke makam ibu. Sangat durhaka sekali aku sama ibu." katq Danu.
Dia menarik tangan Laras untuk duduk lagi di batu tadi Laras duduk. Dia heran kenapa Danu jadi berubah lebih lembut sekarang. Tapi dia diam saja, mungkin hanya kali ini saja. Pikir Laras.
Lama Danu berdoa, sedangkan Laras diam saja. Sesekali dia menatap wajah suaminya, kemudian dia menunduk lagi ketika Danu menoleh padanya. Entah karena rasa rindu dalam hati Danu, dia kembali memeluk istrinya itu dan tersenyum.
"Terima kasih ya Allah." ucap Danu dengan pelan, tapi terdengar di telinga Laras.
Laras diam saja, dia tidak membalas pelukan suaminya. Tapi rasanya dia nyaman, ini pertama kalinya dia di peluk oleh Danu dengan penuh perasaan. Dalam hati Laras senang, meski mungkin hanya sementara saja. Tapi dia senang sekali, tak banyak yang dia harapkan pada suaminya itu.
Tiba-tiba, perutnya merasa mulas. Laras meringis dan memegangi perutnya yang tiba-tiba kram hebat.
"Aduh, perutku!"
_
_
******************