Cinta Suamiku Bukan Untukku

Cinta Suamiku Bukan Untukku
52. Datang Bersama


Jasmin pulang dengan Danu, dia sebenarnya malas sekali pulang ke rumah suaminya itu. Tapi sepertinya dia ingin melihat kesungguhan Danu untuk menceraikan Laras besok sepulang dari kantor.


Danu menoleh ke arah Jasmin yang duduk di sebelahnya itu. Dia sedang asyik membaca chat entah dari siapa, membuat Danu penasaran apa yang dia kirimi pesan.


"Kamu sedang kirim pesan sama siapa sayang?" tanya Danu melirik pada Jasmin.


"Teman." jawab Jasmin singkat.


"Kok senang begitu wajahnya di chat teman?" tanya Danu.


"Ck, dady begitu aja curiga sih? Mau aku lihatin chatnya?" tanya Jasmin menatap kesal pada suaminya.


"Ya ngga begitu, tapi kamu lebih senang chat dengan temanmu dari pada pulang sama aku." kata Danu lagi.


Jasmin pun diam dia menyimpan ponselnya ke dalam tasnya. Rasanya malas untuk berdebat dengan Danu, ada rasa kesal karena suaminya itu terlalu ingin tahu apa yang dia lakukan.


Mereka pun sampai di rumah, Jasmin segera masuk ke dalam kamar. Danu menyusul ke dalam kamar, dia melihat Jasmin masuk ke dalam kamar mandi.


Dia masuk ke dalam kamar ganti dan melepas semua bajunya. Pikirannya melayang pada Laras, dia bingung harus menceraikan istri pertamanya itu bagaimana. Rasanya dia berat sekali untuk melepas Laras, meski dia belum ada rasa. Tapi anaknya, dia ingin melihat anaknya itu lahir dan ingin juga mendampinginya.


Tapi, rasanya itu susah sekali. Sedangkan Jasmin memaksanya untuk menceraikannya besok. Danu pusing sekali, ada rasa ingin dia menghubungi Laras. Dia ingat kalau dia juga menyimpan nomor Laras.


Segera dia mengambil ponselnya dan mencari nama kontak Laras. Di cari-cari ternyata tidak ketemu, dia ulangi lagi. Namun, tetap tidak ketemu.


"Apa aku tidak menyimpan nomor Laras?" gumam Danu.


Baru kali ini dia merasa memikirkan Laras, tapi sepertinya dia harus memilih. Dan dia sudah memilih Jasmin, dia berharap Jasmin bisa seperti kebanyakan istri yang melayaninya dan selalu menyambutnya di rumah ketika pulang kerja.


Namun, dia tidak mendapatinya dari Jasmin lagi. Gadis itu akhir-akhir ini sering sekali pulang malam setelah dia pulang. Dulu memang dia melakukan itu, tapi Jasmin berubah lagi. Sering menginap dan kadang tidak mengabarinya.


Danu kecewa tidak mendapati nomor Laras, dia menarik nafas panjang dan meletakkan lagi ponselnya di sakunya. Setelah selesai ganti baju, dia pun keluar, belum nampak Jasmin keluar dari dalam kamar mandi.


Perutnya lapar, dia pun keluar dari kamarnya dan mencari makanan di dapur. Ada satu bungkus mie instan, dia ambil dan masak sendir. Meskipun tadi membujuk Jasmin di rumah mertuanya untuk pulang, tapi kini pikiran Danu pada Laras.


Ya, dia memikirkan Laras. Bagaimana dengan gadis itu, apakah dia juga masih berhubungan dengan Andre? Dan kenapa juga bisa dengan laki-laki itu?


"Apa dia sengaja keluar dan bertemu laki-laki itu?" gumam Danu.


Selesai matang, mie pun di tuang ke dalam mangkuk. Dia makan di meja makan, tidak biasanya Danu makan mie instan malam-malam. Tapi dia sangat ingin makan mie instan.


Sejak makan suapan pertama sampai habis, Danu masih memikirkan Laras. Bagaimana dengan kandungannya, ini yang jarang bahkan tidak pernah Danu pikirkan sebelumnya.


"Kenapa aku memikirkan dia?" ucapnya lagi.


Dia kembali mengambil ponselnya, lalu mencari nomor kontak Laras lagi. Dan lagi-lagi tidak di temukannya nama kontak Laras, dia pun kembali menarik nafas panjang.


Baru setelah dia selesai, mencuci mangkok dan panci bekas dia masak mie. Danu selesai mencuci piringnya pun kini kembali lagi masuk ke kamarnya, tampak Jasmin sudah berbaring di atas ranjangnya. Danu pun ikut berbaring di samping istrinya.


_


Sore hari, waktu yang sudah di sepakati. Danu menjemput Jasmin di kampusnya, mereka sekarang sedang dalam perjalanan menuju rumah Laras. Tak ada pembicaraan antara keduanya, pikiran Danu sudah mulai gelisah. Apa yang akan dia katakan pada Laras adalah sesuatu yang sangat bertentangan dengan hatinya.


Tapi Jasmin memintanya sekarang, menyuruhnya menceraikan Laras di depan matanya sendiri. Ini benar-benar membuat Danu bingung, dia melirik istrinya itu. Masih diam menatap jalanan di depan.


Waktu perjalanan terasa lama bagi Jasmin, dia menoleh pada suaminya itu. Menatap tajam dan memperhatikan Danu seperti sedang melamun.


"Dady, kenapa jalannya pelan sekali?" tanya Jasmin.


"Kan ramai kendaraan sayang, jadi harus pelan." jawab Danu tanpa menoleh ke arah Jasmin.


"Ini jalan sempit, jadi ngga bisa aku jalan begitu cepat. Kan banyak pedagang di pinggir jalan, kalau mobil mengeluarkan asap dan mengenai lapak mereka, itu bisa bikin penyakit." kata Danu beralasan.


"Itu alasan dady aja. Udah cepat jalannya, jangan lembek kayak siput!" ucap Jasmin.


"Ini sebentar lagi sampai, lihat kan sudah memasuki area rumah BTN. Kamu tenang aja, yang penting kan sampai." kata Danu mulai kesal juga.


Dia sedang berpikir bagaimana menyampaikan kata cerai pada Laras. Sedangkan Jasmin mendengus kesal, mau tidak mau dia harus diam saja. Dia juga tidak tahu di mana rumah Laras itu.


Mobil Danu membelokkan ke gang, dia melajukan mobilnya pelan. Melihat sisi kanan kiri tampak sepi, lalu berhenti di sebuah rumah paling ujung. Tampak sepi rumah itu, pintu tertutup rapat. Namun lampu depan menyala, Danu pun penasaran. Apakah Laras sedang pergi belanja bahan kue? Pikir Danu.


"Mana rumahnya dady?" tanya Jasmin.


"Itu di depan." jawab Danu menunjuk rumah Laras yang sepi.


Jasmin langsung turun setelah Danu menunjuk rumah Laras. Danu pun ikut turun, dia memperhatikan sekitar. Lalu masuk halaman rumah yang hanya di beri pagar bambu dan ada beberapa bunga-bunga yang terawat.


Danu dan Jasmin terus melangkah masuk. Mereka melihat rumah itu tampak sepi, Danu mengetuk pintu rumah Laras itu beberapa kali. Di ikuti oleh Jasmin dengan ketukan yang keras.


Tok tok tok.


Tok tok tok.


"Laras, apa kamu di dalam?" tanya Danu berteriak.


"Hei, perempuan panti! Keluar kamu!" teriak Jasmin.


Danu membungkam mulut Jasmin, dia terkejut dengan teriakan tidak sopan istrinya itu. Jasmin melepas paksa tangan Danu yang menutup mulutnya.


"Apa sih dady, kenapa memangnya?!" tanya Jasmin menautkan alisnya.


"Jangan bicara seperti itu, tidak sopan. Dia lebih tua darimu, sopan sedikit jika bertamu." kata Danu.


Jasmin mendengus kesal, dia pun duduk di kursi teras rumah itu. Membiarkan suaminya yang mengetuk pintu.


Tok tok tok.


"Laras, kamu ada di dalam? Assalamu alaikum!" teriak Danu lagi.


Tidak ada jawaban sama sekali, Danu gelisah. Kenapa Laras tidak ada di rumahnya, bahkan teman satu panti asuhan pun tak tampak keluar juga.


Beberapa kali pintu di ketuk, namun tak ada jawaban juga. Akhirnya Danu pun duduk, dia menunggu Laras keluar atau pun pulang dari belanjanya di toko. Karena biasanya dia belanja sore hari bahan-bahan kuenya.


"Dia kemana sih dad? Kok ngga keluar juga?" tanya Jasmin tidak sabar.


"Tunggu saja, mungkin dia sedang belanja bahan kue." jawab Danu.


"Belanja? Belanja atau sedang senang-senang dengan laki-laki kemarin?" tanya Jasmin sinis.


"Cukup sayang, jangan menuduhnya sembarangan." kata Danu tidak suka Jasmin membuatnya kesal karena Andre itu sangat dekat dengan Laras.


Jasmin pun hanya tersenyum sinis, Danu mulai gelisah. Memikirkan apa yang di katakan Jasmin itu. Tapi dia tetap menunggu beberapa jam, barangkali jika benar Laras pergi berbelanja, mungkin sebentar lagi pulang. Begitu pikir Danu.


_


_


*********************