
Danu memperhatikan apa yang di lakukan Laras, mengelus pipinya dan mengarahkan mulut bayi itu ke dadanya. Karena sejak tadi bayi itu selalu lepas dari bagian puttingnya.
Danu mendekat, dia ikut mengelus pipi bayi laki-laki itu. Kemudian menciumnya pelan. Tak lama, suster pun masuk lagi untuk mengambil bayi Laras.
"Saya bawa lagi ya bu bayinya, nanti tiga jam lagi bayinya di beri asi lagi." kata suster.
"Apa tidak bisa boksnya di sini saja suster?" tanya Laras.
"Masih belum boleh bu, karena kasihan bayinya belum bisa menyesuaikan suhu luar. Jadi harus di sesuaikan dulu ya di ruangan bayi." kata susternya.
"Ooh, begitu ya." kata Laras.
Dia tidak rela bayinya di bawa lagi oleh suster, dia hanya bingung mau melakukan apa di dalam kamar dengan Danu. Sedangkan Danu sejak tadi masih diam saja.
Suster pun keluar membawa bayi Laras, Danu duduk di kursi. Dia menatap Laras yang berbaring kembali setelah menyusui tadi. Dia ingin mengatakan pada Danu, di belikan makanan. Tapi dia canggung, dan kebetulan suster datang bagian pemeriksaan.
"Suster, apa tidak ada makanan untukku?" tanya Laras.
"Ooh, ibu lapar ya?" tanya suster.
"Iya suster, saya lapar." jawab Laras.
"Nanti ya, saya periksa ibu dulu." kata suster.
"Baik suster."
Danu pun bangkit, dia menghampiri istrinya dan menawarkan untuk membeli makanan.
"Kamu mau di belikan apa?" tanya Danu.
"Aku mau bubur ayam." jawab Laras.
"Aku akan belikan. Tunggu ya."
"Nah, itu bapaknya mau belikan makanan." kata suster.
"Iya suster."
Setelah selesai memeriksa Laras, suster itu pun keluar. Danu belum keluar, dia lalu menatap Laras lagi.
"Selain bubur ayam, kamu mau di belikan apa lagi? Buah barangkali?"
"Tidak mas, tapi bolehkan beli roti juga. Untuk nanti malam kalau aku lapar." kata Laras.
"Baiklah, nanti aku belikan."
Setelah berkata seperti itu, Danu pun keluar. Laras hanya menatap kepergian suaminya itu. Banyak sekali tanda tanya di benaknya dengan perubahan sikap Danu itu. Dan dia sepertinya ingin berubah. Entahlah.
_
Dua hari Laras di rawat di rumah sakit, Danu selalu menemaninya di sana. Apa pun yang di inginkan Laras, dia turuti. Membuat gadis itu jadi merasa aneh dengan sikap Danu yang jadi lebih baik padanya.
Seperti saat ini, Laras mau mandi dan Danu menjaga bayinya. Entah jika kebapakaannya muncul ketika bayinya suka menangis dan dia dengan sigap membantu Laras menenangkan anaknya.
"Kamu mandi saja sana, biar aku yang jaga Rion." kata Danu.
"Tapi mas, kamu nanti repot." kata Laras ragu.
"Ya nggak apa-apa. Kan dia anakku." jawab Danu.
Laras diam, sebenarnya dia heran. Tapi lebih baik menurut saja, dia masuk kamar mandi dan segera mandi agar suaminya tidak kewalahan menanangin anaknya itu. Meski itu anaknya Danu, tapi Laras tidak mau terlalu merepotkan suaminya.
Sepuluh menit Laras mandi, dia keluar dan melihat Danu menggendong Rion. Dia tertegun, Danu menggendong anaknya dengan berjalan-jalan untuk menenangkannya. Laras terharu melihat itu, ternyata memang benar adanya Danu menyesal dengan segala perbuatannya padanya dulu.
Dia mendekat dan duduk masih menatap suaminya yang sedang menenangkan anaknya.
"Dia lapar ya mas?" tanya Laras.
"Oh, kamu sudah selesai?"
"Iya. Apa Rion lapar?"
"Mungkin, tangannya selalu di masukkan ke dalam mulutnya." jawab Danu.
Dia mendekat pada Laras dan menyerahkan anaknya untuk di beri asi. Laras menerimanya kemudian duduk dan menyusui anaknya agar tidak kelaparan lagi.
"Sore ini kamu bisa pulang. Kamu pulang ke rumahku saja ya." kata Danu.
Laras mendongak, dia menatap suaminya ragu.
"Jasmin sudah aku ceraikan. Dia selingkuh di belakangku. Aku, sangat menyesal meninggalkan kamu Laras." ucap Danu pelan sambil menghela nafas panjang.
"Aku kembali ke kontrakanku saja mas, semuanya ada di sana. Baju dan perlengkapan bayi serta barang-barang membuat kue ada di sana semua." kata Laras.
"Nanti di pindahkan, aku akan menyuruh orang untuk memindahkan semua barang-barangmu." kata Danu.
"Tapi, aku membawa Dian mas. Dia yang selalu membantuku ketika aku kerepotan. Aku tidak mau dia jadi tidak enak jika ikut denganku lagi ke rumahmu." kata Laras beralasan.
"Dia juga boleh kok ikut lagi. Yang penting kamu kembali ya k rumahku, rumah kita Laras." kata Danu.
Laras diam, dia bingung. Menatap anaknya yang sedang asyik meminum asinya. Danu tahu Laras tidak nyaman jika harus kembali ke rumahnya lagi.
"Laras, kembalilah ke rumah. Aku minta maaf sama kamu waktu itu mengusirmu. Maafkan aku, aku ingin memperbaiki semuanya sama kamu." ucap Danu.
Laras masih diam, dia sebenarnya senang. Tapi, apakah akan mudah baginya kembali ke rumah itu.
"Apa kamu tidak mau memaafkanku?" tanya Danu lagi, karena sejak tadi dia bicara Laras hanya diam saja.
"Bukan begitu mas."
"Lalu?"
"Aku, hanya tidak mau kembali ke rumah itu." kata Laras.
Danu diam, dia mendekat pada istrinya itu dan memegang tangannya. Menatap wajah Laras lama, dia baru melihat istrinya itu benar-benar cantik di matanya. Entahlah, mungkin dia memang buta karena cinta pada Jasmin. Kemudian dia pun tersenyum, membuat Laras bingung.
"Kamu, tidak merindukanku?" tanya Danu.
"Eh? Kenapa mas?"
"Oh, tidak. Aku ...."
Wajah Danu berubah merah, dia bangkit dari duduknya kemudian melangkah menjauh. Entah kenapa dia berkata seperti itu, bukankah dia yang merindukan Laras?
Laras menatap suaminya itu, mengingat apa yang di ucapkan olehnya. Lalu menunduk, dan tersenyum. Dia merindukan Danu sejak kehamilannya itu, tapi selalu dia pendam. Bahkan dia tidak berani meneleponnya meskipun punya nomor ponsel Danu.
Danu mengutuk dirinya sendiri, kenapa dia tidak jujur saja. Jika dirinya itu merindukan Laras, tangannya di usap kasar ke wajahnya. Lalu menarik nafas kasar, berbalik melihat istrinya sudah selesai memberi asi pada Rion.
"Dia sudah kenyang ya." kata Danu.
"Iya, dia langsung tidur setelah kenyang." jawab Laras.
"Bagaimana Laras?"
"Apa mas?"
"Pulang bersamaku."
"Aku, pulang ke rumah BTN saja mas." jawab Laras.
"Tapi, rumah itu kecil. Mana bisa kita nanti ...."
Danu kembali tidak meneruskan ucapannya, dia merasa canggung jika harus bicara masalah di kamar. Apa lagi nanti berbagi dengan anaknya.
"Baiklah, nanti aku beli rumah lagi yang lebih besar. Untuk kita dan anak kita." kata Danu memberi solusi sendiri.
Laras hanya tersenyum saja dengan kebungngannya. Biarlah, Danu yang memikirkan itu, yang penting dia tidak mau kembali ke rumah Danu. Meski pun sekarang suaminya sudah berubah. Dan Jasmin sudah di ceraikan.
"Aku akan mendaftarkan pernikahan kita ke kantor KUA. Bila perlu menikah lagi juga tidak apa-apa, biar orang tahu kamu istriku." kata Danu.
"Nggak perlu menikah lagi mas, cukup di daftarkan saja. Tapi, apa benar kamu sudah bercerai dengan Jasmin?" tanya Laras memberanikan diri menyinggung soal Jasmin.
"Ya. Makanya aku minta maaf sama kamu, aku sungguh ingin kembali sama kamu dan ingin membahagiakanmu Laras. Memperbaiki semuanya, dan menjaga anak kita." kata Danu.
"Terima kasih mas, kamu seperti ini. Aku tidak mengharapkan apa-apa, hanya saja aku ...."
"Kamu merindukan aku?"
"Eh? Aku ...."
"Aku juga. Aku rindu kamu Laras. Sangat merindukanmu."
Danu memeluk Laras dengan erat, rasanya sudah cukup dia menelantarkan istrinya itu. Dia akan terus bersama Laras, dan mencintainya.
_
_
*****************