
Danu mendapatkan orang yang akan di jadikan detektif untuk menyelidiki Jasmin istrinya itu. Dia bersikap biasa saja ketika Jasmin meminta izin untuk menginap lagi di rumah temannya.
"Dady, dua hari lagi akan ada kunjungan dari ban PT ke kampuns. Semua mahasiswa baru, ya termasuk aku harus menyiapkan penyambutan itu. Jadi kami harus bekerja sama dalam membuat dekorasi penyambutan kepala ban PT." kata Jasmin.
Danu diam saja, dia bukan tidak tahu jika ada kunjungan ban PT itu memang penting. Tidak juga mengadakan penyambutan pula, tapi memang setiap kampus itu berbeda-beda. Bisa saja penyambutan itu juga sedang di lakukan pemeriksaan kelengkapan kampus atau akreditasi kampus tersebut.
Namun demikian, dia tidak melarang Jasmin untuk melakukan itu. Tapi dia bertanya apa yang Jasmin minta kali ini.
"Lalu, kamu mau apa dengan kegiatan itu?" tanya Danu.
"Ya, menyiapkan semuanya. Aku harus membantu bagian panitia, dan harus menginap juga di kampus." kata Jasmin.
"Menginap lagi?" tanya Danu.
"Ya, apa acara sepenting itu dady tidak mengizinkan aku menginap?" tanya Jasmin.
"Tidak. Biasanya juga kamu selalu menginapkan meski aku larang?" kata Danu.
"Aah, dady benar-benar mengerti aku." kata Jasmin dengan senangnya.
Dia memeluk suaminya itu dan mencium pipinya. Dia duduk dan melayani Danu membuat roti selai untuk sarapan paginya. Danu senang Jasmin menyiapkan sarapan dari tangan istri kecilnya itu. Dia membayangkan jika seandainya Jasmin lakukan setiap hari. Dan bukan hanya roti isi selai atau roti panggang saja.
"Apa kamu tidak mau belajar memasak sayang?" tanya Danu menyuap roti selainya.
"Nanti saja, dan kenapa harus bisa memasak kalau banyak layanan pesan antar makanan ke rumah." katq Jasmin.
"Kan kamu istriku, jadi belajarlah memasak. Biar enak dan aku mencicipi masakanmu." kata Danu, niatnya mau memuji.
"Dady mau membuatku jadi pembantu di rumah?" tanya Jasmin menatap tidak suka ucapan suaminya itu.
"Bukan begitu, aku kan cuma mengatakan ada baiknya belajar memasak." kata Danu.
"Itu artinya kamu menyuruhku jadi pembantu dady. Buat apa ada restoran, warung makan dan juga penjual makanan online." kata Jasmin lagi kesal.
Danu diam, dia menatap istrinya kesal padanya. Akhirnya dia tidak melanjutkan pembicaraan itu, karena pastinya Jasmin akan marah lagi. Dan sudah di pastikan akan panjang lagi acara menginapnya karena kesal padanya.
Jasmin masuk ke dalam kamarnya, dia mengambil tasnya dan segera keluar dari rumahnya. Dia mengirimi pesan pada seseorang untuk menjemputnya di persimpangan jalan seperti biasanya.
Danu memperhatikan Jasmin yang sibuk dengan ponselnya. Dia pun mengejar istrinya.
"Sayang, aku antar ke kampus." kata Danu.
"Tidak usah, kamu membuatku jengkel dady!" kata Jasmin.
Danu diam, dia menghela nafas panjang. Jasmin melangkah keluar dari pintu gerbang rumah Danu, sedangkan Danu hanya menatap kepergian istrinya itu. Saat itu dia menghubungi seseorang dan meminta membuntuti istrinya pergi dengan siapa.
"Ya, kamu ikuti istriku, dia baru saja keluar. Semuanya kamu laporkan dan kamu foto dengan siapa saja dia berteman dan pergi." kata Danu.
"Baik pak, segera saya kerjakan." kata seseorang di seberang sana.
Klik!
Danu masuk ke dalam rumahnya, dia memgambil tasnya dan segera berangkat ke kantor.
_
Danu belum mendapatkan laporan dari orang yang dia suruh menyelidiki istrinya Jasmin. Jasmin juga sedang menginap di kost temannya, entah siapa. Tapi sembari menunggu laporan dari orang suruhannya, dia kini kembali berkunjung ke rumah Laras lagi.
Perut gadis itu sudah mulai besar, sudah susah berjalan dengan cepat. Danu melihat Laras menaiki motornya, entah mau kemana. Dia pun menghampiri Laras dan mencegah dia keluar.
"Kamu mau kemana?" tanya Danu.
"Ck, kenapa kamu tanya seperti itu? Aku suamimu, dan aku tanya kamu mau kemana." kata Danu sedikit kesal pada Laras.
"Terserah mas Danu saja, aku mau keluar beli bahan kue. Kalau mau menunggu juga silakan di teras." kata Laras segera memarkirkan motornya.
"Lama tidak kamu belanja?" tanya Danu.
"Tergantung, kalau di satu toko semua yang aku beli ada. Jadi sebentar, kalau tidak ada aku cari lagi ke toko lain." kata Laras.
"Kenapa kamu tidak menyuruh pegawaimu itu yang dari panti?" tanya Danu.
"Dia sedang sakit, ada di panti." jawab Laras.
"Kamu tinggal sendirian?"
"Sudah biasa aku tinggal sendirian. Aku pergi dulu, jangan tanya lagi. Nanti tambah lama lagi pulangnya." kata Laras.
Danu diam, dia membiarkan istrinya pergi menaiki motor sendirian. Dia menarik nafas panjang, niatnya dia ingin makan di rumah Laras. Tapi gadis itu pergi meninggalkannya di rumah sendirian.
Akhirnya Danu pun duduk di depan teras, sore ini memang sangat panas cuacanya meski sudah mulai berkurang karena posisi matahari sudah tidak di atas kepala.
Dia membuka ponselnya, belum ada laporan dari orang yang dia suruh untuk menyelidiki Jasmin. Sudah tiga hari, seharusnya sudah ada laporan masuk padanya. Tapi kenapa belum melaporkan laki-laki yang dia sewa itu.
"Ck, kenapa dia belum melapor sih?" ucap Danu.
Dia mencoba menghubungi orang sewaannya, tapi belum di jawab. Beberapa kali dia menghubungi, tetap belum di jawab.
"Ck, kenapa dia ini? Apakah dia juga bersekongkol dengan istriku?" ucap Danu kesal.
Akhirnya dia pun memasukkan ponselnya, berdiri dan melangkah keluar pagar. Ponselnya pun berbunyi, Jasmin tertera di sana. Dia pun tersenyum.
"Halo, sayang?" jawab Danu dengan sumringah.
"Dady jemput aku ya di depan restoran seafood dekat pasar." kata Jasmin di seberang sana.
"Oh, kamu ada di restoran seafood? Sekalian makan di situ mau?" tanya Danu.
"Emm, baiklah. Aku tunggu di sini ya."
"Oke sayang, aku kesana."
"Jangan lama-lama."
"Iya, ngga lama kok."
Klik!
Danu memutus sambungan telepon, dia lalu masuk ke dalam mobilnya. Bersiap untuk menjemput Jasmin di restoran seafood. Dia lupa akan keinginannya meminta makan pada Laras. Mobilnya melaju kencang menuju restoran di mana Jasmin menunggunya.
Senyumnya mengembang, sudah tiga hari Jasmin menginap. Dia lupa dengan Laras yang sedang membeli bahan kue di toko langganannya. Hatinya senang dia akan makam dengan Jasmin.
Entahlah, terbuat dari apa hati Danu. Sehingga dia selalu saja luluh dengan Jasmin itu, benar juga apa yanb di katakan sahabatnya Rizwan. Danu mencintai Jasmin dengan buta akan sikap Jasmin yang terkadang seenaknya itu.
Tapi di sisi lain, orang suruhan Danu sudah beberapa kali mendapatkan fakta tentang Jasmin dan temannya itu. Namun dia belum melaporkannya pada Danu, entah apa yang akan di lakukan oleh Danu jika istrinya Jasmin memang selingkuh di belakangnya.
_
_
*******************