Cinta Suamiku Bukan Untukku

Cinta Suamiku Bukan Untukku
39. Menginap


Setiap pulang dari kantor, Danu selalu menyempatkan ke rumah Laras. Entah itu hanya singgah tapi tidak bicara banyak pada Laras. Tapi dia bisa berpikir tenang, atau sekedar makan di rumah Laras.


Jika hari Sabtu, dia pulang cepat dan terkadang jika Dian tidak ada di rumah sedang mengirim paket. Maka Danu meminta Laras melayaninya di ranjang, dan Laras menurutinya.


Dia percaya lambat laun Danu akan berubah dan berbalik memilihnya dan cepat atau lambat mencintainya. Dia selalu berdoa semoga Danu menjadi suami yang baik baginya.


"Kak, pak Danu sering kemari ya." kata Dian.


"Ya, karena istrinya di rumah jarang pulang. Begitu yang aku dengar dari ceritanya." jawab Laras.


Dia menyiapkan makan malam untuk Danu, membuat tongseng ayam dan juga tempe mendoan juga tahu goreng sebagai pelengkap. Setelah semuanya selesai, dia membawanya ke depan.


Dian memperhatikan apa yang di lakukan oleh Laras, dia melihat Laras begitu cekatan dan sangat senang bisa menyiapkan makan untuk suaminya.


Dulu dia sangat kaget dan ketakutan ketika melihat Danu berteriak karena marah dia berada di dapurnya seorang diri. Tanpa menunggu Laras kembali, Dian langsung pergi dari rumah Danu waktu itu.


"Kak Laras sepertinya senang melayani pak Danu." kata Dian.


"Karena dia suamiku, Dian. Kamu juga nanti seperti kakak, senang melayani suamimu. Ada pahala yang kita dapatkan kelak ketika kita bisa melayani suami dengan ikhlas dan tulus." kata Laras membuat sambel untuk pelengkap makan malam.


"Emm, tapi aku lihat kak Dian kurang di hargai sama pak Danu. Pak Danu hanya ingin di layani, tanpa menghargai kak Laras." kata Dian.


Laras menatap Dian, lalu tersenyum. Benar apa yang di katakan Dian, tapi Dian tidak tahu dulu seperti apa Danu itu. Lebih dari itu. Memandangnya atau dekat dengannya saja dia tidak sudi. Bahkan memakan masakannya saja tidak mau.


"Semua orang bisa berubah Dian, kakak sedang berusaha menjadi istri yang baik. Meski kakak tertindas, tapi kakak percaya Allah sangat menyayangi kakak. Makanya mas Danu bisa berubah saat ini. Jangan pernah menyerah dengan keadaan, berpasrah saja pada Yang Maha Kuasa. Semuanya pasti akan berubah jika kita bersabar dengan garis takdir yang kita terima. Kakak hanya seorang yatim piatu, yang tinggal di panti asuhan. Siapa yang mau menerima anak panti sebagai seorang istri? Jika bukan sikap kita yang baik dan selalu menjaga sopan santun pada orang lain, maka akan ada waktunya kita mendapatkan kebahagiaan. Kakak percaya itu, Dian." kata Laras panjang lebar.


Sambal yang dia buat itu sudah selesai, lalu di pindahkan ke dalam piring kecil. Semua masakan dan nasi serta piring-piring sudah berpindah di depan. Laras pun memanggil suaminya yang berada di teras depan.


Dia berhenti, melihat Danu sedang menghubungi seseorang. Dia tahu suaminya sedang menghubungi Jasmin, Laras tidak berani memanggil Danu.


Danu menghela nafas panjang, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku kemejanya. Menoleh ke samping di mana Laras berdiri menatapnya.


"Makan sudah siap mas, kamu mau makan sekarang?" tanya Laras.


"Ya, kamu masak apa?" tanya Danu.


"Tongseng ayam mas, kamu suka?" tanya Laras.


"Aku makan apa saja." jawab Danu.


"Kalau begitu, masuklah. Makanan sudah siap." kata Laras.


Danu bangkit dari duduknya, lalu masuk ke dalam rumah istrinya itu. Dia melihat di karpet banyak sekali hidangan, ada buah juga di sana. Dia pun duduk di depan hidangan, menunggu Laras melayaninya menuangkan nasi dan lauk pauknya.


"Silakan mas di makan." kata Laras setelah selesai menyediakan makanan di piring Danu.


"Kamu tidak makan?" tanya Danu.


"Nanti setelah mas Danu makan." kata Laras.


"Makan sama-sama saja, jangan menungguku selesai makan." kata Danu.


"Tidak apa mas, mas Danu selesai makan aku nanti makan kok." kata Laras.


"Kamu tidak mau makan denganku?" tanya Danu.


"Tidak, bukan begitu." jawab Laras merasa tidak enak hati.


"Kalau begitu, makanlah. Jangan menungguku selesai makan." kata Danu.


"Iya, baiklah. Aku ikut makan." kata Laras.


Akhirnya mereka makan bersama. Laras merasa canggung, namun dia senang bisa makan dengan suaminya.


Dian yang ada di dapur sedang meracik bahan kue untuk besok mendengar percakapan itu pun tersenyum, dia ikut bahagia jika Laras akhirnya bisa lebih dekat dengan suaminya itu.


Setelah selesai makan, Laras membereskan semua piring dan makanan sisa di bawa ke dapur. Dian belum makan malam, ada sisa di mangkuk sayur itu.


"Iya, nanti aja makannya. Aku belum lapar." kata Dian.


"Ya sudah, itu masih ada tongsengnya. Tadi mas Danu makannya sedikit, dia lebih banyak makan mendoan tempe." kata Laras.


"Pak Danu suka masakan kak Laras ya. Apa pernah pak Danu memuji masakan kakak?" tanya Dian.


"Ngga pernah, tapi dia selalu makan dengan lahap kok. Jadi mungkin dia suka masakanku." kata Laras.


Laras keluar lagi, dia melihat Danu berada di luar kembali. Menikmati sunyinya malam di luar, Laras pun ikut keluar. Menemani suaminya itu, duduk di kursi teras.


"Aku menginap di sini." kata Danu tiba-tiba.


"Eh, mau menginap?" tanya Laras terkejut.


"Ya, kenapa? Kamu tidak suka aku menginap?" tanya Danu.


"Tidak kok, aku suka. Nanti aku bereskan dulu ranjangnya." kata Laras.


Dia masuk lagi ke dalam rumah, masuk ke dalam kamarnya yang berukuran tiga kali tiga meter. Cukup ranjang berukuran satu enam puluh centi meter dan lemari bajunya saja. Dan juga hanya ada meja kecil, Laras merapikan ranjangnya.


"Mas Danu mau menginap, apa aku juga tidur di sini dengannya?" ucap Laras.


Meski dia sudah beberapa kali tidur dengan Danu, tapi jika harus tidur dengannya secara sadar, dia jadi grogi juga. Tapi kemudian dia pun tersenyum, merasa canggung membayangkan dia tidur dengan suaminya.


Setelah rapi, Laras pun mengambil sprei yang sudah dia ganti dan memindahkannya di keranjang kotor. Danu masuk ke dalam kamar Laras, melihat kamar itu sudah rapi. Apa lagi ranjangnya juga rapi.


Danu meletakkan tas kecil dan mengambil kaos yang sengaja dia bawa dari rumah. Rupanya dia sudah berniat akan menginap di rumah Laras.


"Apa mas Danu mau mandi dulu? Nanti aku siapkan air hangat di kamar mandi." kata Laras.


"Ya, boleh. Aku sangat lelah sekali." jawab Danu.


"Aku ke belakang dulu, menyiapkan air hangatnya." kata Laras.


Laras keluar dari kamarnya menuju dapur, memasak air panas. Dian sedang makan melihat Laras memasak air.


Tak lama air pun mendidih, Laras memindahkannya ke kamar mandi dan di masukkan ke dalam bak mandi, setelah selesai dia memanggil Danu. Danu segera mandi, karena dia ingin sekali tidur.


Laras kembali ke kamarnya, merapikan tas yang tadi di bawa Danu untuk di cantolkan di kapstok. Dia pun keluar lagi, mengunci pintu rumahnya lalu masuk lagi ke dalam kamarnya. Dia hendak mengganti bajunya, tapi tertahan karena Danu sudah ada di dalam kamarnya.


"Kamu juga tidur denganku." kata Danu, dia sudah berada di atas ranjang Laras.


"Oh, ya mas. Aku mau ganti baju dulu." kata Laras.


Dia hendak keluar mau ganti baju di kamar mandi, tapi Danu melarangnya. Dan mengganti baju di kamar saja, dan lagi Laras pun menurut meski dia merasa malu. Setelah selesai, dia mengunci kamarnya dan segera naik ke atas ranjang. Karena Danu menyuruhnya segera naik dan tidur di sampingnya.


Dia merebahkan tubuhnya pelan, membelakangi Danu karena merasa malu, tapi Danu menariknya dan memeluknya meski tidak erat.


"Aku hanya ingin tidur seperti ini denganmu. Tidurlah, jangan malu." kata Danu.


"Iya mas." kata Laras.


Akhirnya Laras berusaha memejamkan matanya. Meski hatinya berdegup kencang, tapi Danu sepertinya sudah terlelap karena hembusan nafasnya sudah mulai teratur.


"Terima kasih." ucap Laras pelan sekali tak terdengar, dengan senyumnya menyungging.


Entah karena Danu sedang kecewa pada Jasmin, tapi Laras sangat bahagia dengan perubahan sikap Danu yang besar itu. Hanya butuh kesabaran saja, Laras bisa mendapatkan cinta suaminya.


_


_


*****************