Cinta Suamiku Bukan Untukku

Cinta Suamiku Bukan Untukku
46. Danu Vs Andre


Danu masih duduk di teras rumah Laras, dia melihat ke dalam rumah Laras tidak juga keluar. Hanya sekedar memberinya minum pun Laras tidak menawarinya.


Akhirnya Danu masuk lagi ke dalam rumah, dia menuju dapur. Melihat Laras sedang menata bahan kue ke dalam kulkas. Danu berdecak kesal.


"Kamu tidak menawariku makan?" tanya Danu.


"Tidak, kupikir mas Danu mau langsung pulang." kata Laras.


"Ck, buatkan makanan untukku. Aku lapar!" kata Danu dengan kesal.


Biasanya dia datang Laras selalu menyiapkan makanan untuknya. Tapi kenapa sekarang justru acuh padanya?


Laras masih diam saja, dia masih memasukkan bahan-bahan kue ke dalam kulkas. Membuat Danu semakin kesal.


"Laras! Apa kamu tidak mau melayani suamimu?" tanya Danu lagi.


Laras mendengus kesal, kenapa sekarang Danu jadi memaksanya? Dia menatap kesal pada Danu. Lalu dia pun mengambil beberapa bahan lauk pauk dan memasaknya. Danu pun kembali ke depan, dia duduk lagi di kursi teras.


Ponselnya berbunyi, sekretarisnya menanyakannya ada di mana. Dia pun menjawab kalau sekarang dia tidak ke kantor lagi. Besok dia akan menyelesaikan pekerjaannya.


Sedang asyik membalas chat sekretarisnya, Danu tidak melihat kalau ada laki-laki datang juga ke rumah Laras membawa sebuah kotak berisi makanan.


Andre, laki-laki itu adalah Andre. Dia berdiri di depan, menatap Danu yang sibuk membalas chatnya. Andre berdecak kesal, dia tahu itu pasti suami Danu yang telah menelantarkan Laras dan hanya sebagai pelampiasan saja.


Andre pun mendekat, dia berdiri di depan pintu. Melongok ke dalam rumah mencari Laras dan memanggilnya.


"Laras, kamu di dalam?" tanya Andre.


Danu menoleh ke arah Andre, dia memicingkan matanya. Merasa aneh kenapa Laras punya tamu laki-laki.


"Kamu siapa?" tanya Danu pada Andre.


Andre menoleh, dia diam saja. Malas menjawab pertanyaan Danu, dia tahu Danu adalah suami Laras.


"Laras, kamu di dalam? Aku masuk ya." kata Andre lagi.


"Hei! Jangan masuk ke rumah orang sembarangan!" kata Danu berteriak pada Andre.


Laras keluar dari dapur, dia melihat Andre berdiri di depan pintu sedang menatap tajam pada Danu. Laras merasa tidak enak ketika keduanya ada di rumahnya.


"Kak Andre sedang apa kesini?" tanya Laras mendekat pada Andre, menatap Danu sekilas.


"Aku bawakan pizza untukmu. Katanya kamu sedang ingin makan pizza." jawab Andre menyodorkan sekotak pizza.


"Kok kak Andre repot-repot sih. Kan aku tidak minta." kata Laras lagi.


"Ck, kenapa kamu meminta sesuatu pada orang lain?" tanya Danu kesal pada Laras dan Andre secara bersamaan.


"Lalu, minta pada siapa? Pada laki-laki yang telah menelantarkannya dan tidak peduli yang mengaku sebagai suaminya begitu?!" tanya Andre ketus.


"Kamu lancang sekali, kamu itu laki-laki tidak tahu diri. Laras itu sudah punya suami, kenapa kamu datang padanya?!" tanya Danu lagi sama ketusnya.


"Aku tahu dia punya suami. Tapi suami macam apa kalau tidak tahu dan tidak mau tahu istrinya hamil? Bahkan tidak pernah menjenguknya lagi." kata Andre lagi dengan emosi.


"Kak Andre, cukup. Jangan ribut masalahku, sebaiknya kak Andre pulang saja. Terima kasih pizzanya." kata Laras.


Dia mencegah terjadinya perdebatan masalahnya itu. Antara suaminya dan laki-laki yang peduli dengannya.


"Apa kamu masih menerima dia, Laras?" tanya Andre pada Laras.


"Tidak kak, kakak cukup bertanya apa pun. Kak Andre tolong pergi saja dari rumahku, aku tidak mau ada keributan. Dan biarkan aku selesaikan masalahku dengan suamiku." kata Laras memohon pada Andre.


"Maafkan aku, aku pergi dulu Laras." kata Andre.


"Iya kak, maafkan aku juga dengan masalah ini." kata Laras.


Andre menatap tajam pada Danu, sedangkan laki-laki itu juga sama halnya menatap Andre pergi. Dia juga kesal kenapa Laras punya teman laki-laki macam Andre itu.


Danu menatap Laras yang sedang menatap kepergian Andre, lalu dia pun berdecak kesal. Masuk le dalam rumah dan duduk di karpet dengan perasaan kesal. Laras pun masuk ke dalam, mengambil makanan yang tadi dia buat untuk suaminya.


Dia membawa makanan dengan susah payah meletakkan semua piring dan mangkuk berisi masakannya. Tanpa berniat membantu Laras, Danu diam saja. Dia masih kesal dengan kejadian tadi.


Setelah selesai, Laras pun duduk dan mengisi piring Danu dengan nasi dan lauk pauk. Dia juga menuangkan air dalam gelas, lalu menyuruh Danu memakannya.


"Silakan di makan mas." kata Laras.


"Heh, bagus ya kamu. Di saat aku tidak pernah datang, kamu sering bertemu dengan laki-laki itu?" kata Danu dengan kesal.


"Dia dulu bosku mas, waktu kerja di kedai kopi. Jadi wajar kalau aku dekat dengannya." kata Laras beralasan.


"Alasan, mana ada atasan dekat dengan bawahan. Kalau ada sesuatu darinya untukmu. Apa kamu tidak menyadarinya kalau dia itu suka ikut campur masalah orang?" tanya Danu masih kesal dengan sikap Laras tadi.


"Dia tidak ikut campur. Sudahlah mas, jangan bahas masalah kak Andre. Lagi pula mas Danu datang kemari hanya untuk marah-marah atau mau makan?" tanya Laras jadi ikut kesal juga.


Danu diam, dia masih menatap tajam pada istrinya itu. Dalam hatinya, dia tidak boleh membiarkan Laras masih berhubungan dengan Andre.


"Kamu harus menjauhinya." kata Danu menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Kenapa?" tanya Laras heran.


"Karena aku suamimu. Aku yang melarangmu berteman dengannya, kamu mengerti?!" kata Danu lagi.


Laras diam, dia malas menanggapi ucapan Danu itu. Buat apa juga dia melarang dirinya berteman dengan Andre, dia juga jarang datang ke rumahnya. Bahkan mungkin melupakannya, karena sudah merasa bahagia dengan istri keduanya.


Hanya saat ini saja kebetulan Danu melihat dirinya yang berbeda. Sedang mengandung anaknya, apakah mungkin dia akan semakin memperhatikan Laras?


"Kamu juga sebaiknya pulang mas, setelah makan." kata Laras.


"Kamu mengusirku?" tanya Danu.


"Tidak. Hanya saja, kasihan dengan istrimu di rumahmu. Mungkin dia mencarimu, apa jadinya jika dia tahu kamu berada di rumahku." kata Laras memberi alasan.


Dia berani menyuruh Danu pergi daru rumahnya. Kalau dulu dia hanya diam saja atau takut, jika Danu mencegahnya karena merasa di usir. Tapi kali ini dia harus tegas, agar hatinya tidak lagi goyah dengan pertahanan yang sudah dia bangun sejak dia melihat Danu pergi ke toko berlian dengan Jasmin.


Danu diam, benar sekali apa yang di katakan Laras. Jika Jasmin tahu dia datang ke rumah Laras, nanti akan bertengkar lagi. Dan dia akan kewalahan kali ini jika tahu, sudah pasti akan kabur dari rumahnya. Tapi dia akan sembunyi-sembunyi datang ke rumah Laras.


"Aku akan datang lagi kemari." kata Danu setelah dia selesai makan.


"Untuk apa mas?"


"Untuk memantau kandungamu. Kamu hamil anakku, jadi aku harus tahu dengan kesehatan bayi di dalam perutmu itu." kata Danu lagi.


Laras tersenyum sinis, lalu menggelengkan kepalanya. Merasa serba salah dengan sikap Danu itu, meski itu wajar saja Danu perhatian padanya mengenai kehamilannya. Tapi dia akan luluh lagi, dan dia takut akan sakit hati lagi dengan menghilangmya Danu nantinya.


Danu masuk ke dalam mobilnya, hari sudah sore. Memang waktunya pulang kantor, jadi dia akan segera pulang ke rumah. Dan sudah pasti Jasmin menungguinya pulang dari kantor.


_


_


******************