
Jasmin menunggu Dandy di diskotek, ternyata Dandy telat datang. Akhirnya Jasmin menunggu dan duduk di kursi bar, memesan minuman. Meski maaih siang, ternyata pengunjung sudah banyak. Mereka ada yang hanya duduk-duduk saja sambil minum, atau mereka sedang duduk berdua dengan pacarnya dan melakukan sesuatu.
Ada juga yang berdansa, dengan menampilkan DJ khusus di pekerjakan di diskotek tersebut. Dengan musik kencang dan gembira membuat semua yang ada di sana ikut bergoyang.
Jasmin melirik jam di tangannya, Dandy belum juga datang. Akhirnya dia pun menghubungi laki-laki pacar gelapnya itu. Saat akan menghubungi, Jasmin tiba-tiba di peluk dari belakang dia di cium pipinya dan lehernya dengan lembut.
Jasmin menoleh dan tersenyum, dia lalu berbalik dan memeluk laki-laki tadi yang menciumnya. Dandy, pacar gelap Jasmin itu datang juga akhirnya.
"Kok telat sih?" tanya Jasmin dengan manjanya.
"Emm, tiba-tiba aku ada urusan. Jadi telat, kamu datang dari tadi?" tanya Dandy duduk di sebelah Jasmin.
"Lumayan, udah setengah jam. Niatnya tadi mau turun ke lantai dansa, musiknya asyik banget." kata Jasmin memandang DJ yang memainkan musik itu.
"Dia memang pintar memainkan musik. Kamu mau turun ke lantai dansa?" tanya Dandy.
"Tentu. Ayo kita joget."
"Lets go baby."
"Hahah!"
Mereka pun turun ke lantai dansa dan berjoget dengan riang. Jasmin sangat menikmati musik dan berjoget dengan bebas dan asyik. Hingga Dandy juga berjoget di depannya, sesekali dia mencium pipi Jasmin lalu kembali mencium bagian lehernya.
Kegiatan seperti itu sepertinya membuat mereka semakin tambah bergairah. Dan akhirnya mereka menjauh dari tempat dansa dan keluar dari diskotek. Tentu saja menuntaskan hasrat mereka.
_
Minggu ini, Danu sengaja diam di rumah saja. Rencananya siang nanti akan pergi ke panti asuhan di mana asal Laras. Dia ingin bertanya oada ibu Rima, pemgasuh panti itu. Barangkali Laras ada di sana dan jika tidak ada, mungkin ibu Rima tahu di mana Laras berada.
Danu duduk di samping rumah, memeriksa pekerjaan dan email masuk sejak kemarin yang belum dia buka. Dia berjanji akan berhenti bekerja di bank setelah nanti menemukan Laras. juga akan menceraikan Jasmin setelah bertemu Laras.
Jasmin melihat Danu sedang duduk dengan menatap laptopnya. Tampak serius dia melihat laptopnya, sesekali dia menelepon seseorang. Jasmin juga seringkali melihat ke arah pintu, menunggu ibunya datang membawa makanan yang dia pesan kemarin.
Tak lama, ibu Jasmin pun datang, dia langsung masuk ke dalam rumah menantunya itu sambil membawa dua susun kotak makan. Jasmin senang akhirnya ibunya datang juga ke rumahnya.
"Ibu lama banget sih, aku lapar tahu bu. Sejak tadi aku belum sarapan." kata Jasmin.
"Kenapa kamu belum sarapan?" tanya ibunya.
"Stok roti habis, jadi ngga sarapan. Mie instan juga ngga ada, sepertinya dady benar-benar tidak menyediakan makanan di dapur. Ada juga makanan mentah, malas aku buat masak." kata Jasmin memeriksa kotak makan yang di bawa ibunya itu.
Mereka menuju dapur, Danu melihat sekilas mertuanya datang. Tapi dia melanjutkan pekerjaannya memeriksa email-email yang masuk.
Jasmin dan ibunya menata semua makanan yang di bawa. Banyak sekali memang, nasi sudah di masak oleh Jasmin sejak satu jam lalu. Jadi jika ibunya datang, dia bisa menyediakan makanan dan nasinya sudah ada.
"Sekarang panggil suamimu, kita makan sama-sama. Nanti setelah makan, kita bicarakan dengan suamimu itu." kata ibunya.
"Iya."
Jasmin pun menuju samping rumah, di mana Danu sedang menyendiri. Dia duduk di samping dengan melingkarkan tangannya di pundak Danu.
"Nanti dulu, aku belum selesai." jawab Danu.
"Kan sejak tadi pagi dady lihatin laptop terus. Memang ngga capek apa? Ini sudah hampir jam dua belas, waktunya makan siang. Ayo dong dady, kasihan lho ibu udah masak banyak untuk dady. Masa dady ngga mau makan sih." kata Jasmin lagi dengan manja.
Danu menghela nafas panjang, dia menutup laptopnya dan meletakkannya di meja. Melepas rangkulan tanga Jasmin dan berdiri, kemudian dia melangkah masuk menuju meja makan.
Dia melihat mertuanya sedang menata makanan di meja makan. Dengan sikap dinginnya Danu duduk di kursi yang biasa dan memngambil piring di depannya.
Jasmin pun duduk di samping Danu, ibunya Jasmin mengambil piring Danu untuk mengisikan nasi di piring menantunya itu.
"Biar ibu ambilkan, kamu mau lauk apa?" tanya mertuanya.
"Apa saja." jawab Danu.
Jasmin pun ikut makan, dia mengambil nasi dan juga lauk pauknya. Ada rendang juga ayam rica-rica, ada juga telur balado dan udang krispi. Nampak ibunya Jasmin memasukkan lauk di dalam piring Danu itu rendang sapi dan juga telur balado.
"Nanti tingga ambil aja kalau mau ayam rica-ricanya atau udang kripsinya." kata ibunya Jasmin.
"Ya, nanti saya ambil sendiri."
Mereka pun makan dengan tenang, sesekali Jasmin melirik ibunya dan juga suaminya yang makan dengan tenang. Setengah jam makan tak ada pembicaraan, hingga Danu selesai makan. Mertuanya mencegah Danu untuk pergi dari meja makan itu.
"Danu, ibu mau bicara. Jangan pergi dulu." kata ibunya Jasmin.
Danu pun duduk kembali, dia tahu apa yang akan di bicarakan oleh mertuanya itu. Sedangkan Jasmin menatap ibunya lalu tersenyum tipis. Tak ada pertanyaan, Danu menunggu mertuanya bicara.
"Danu, dua kali kamu mengirimi ibu hanya satu juta saja satu bulan. Dan jasmin juga sekarang jatahnya di kurangi, memang kenapa kamu jadi mengurangi jatah ibu sama istrimu itu?" tanya mertuanya.
"Ada alasan kenapa saya harus mengurangi jatah ibu dan Jasmin. Pertama, Jasmin tidak pernah meladeniku dalam hal memasak, dia tidak pernah memasak dan jarang sekali melayaniku mengenai itu. Kedua dia sering sekali menginap di rumah temannya, jadi aku sering sendiri di rumah.
Ketiga, untuk apa saya memberi uang banyak jika semuanya hanya untuk senang-senang saja. Bahkan ibu dan Jasmin tidak pernah mau peduli padaku. Jadi, buat apa saya memberika uang banyak pada kalian?" tanya Danu, beusaha tenang bicara pada mertuanya.
"Ya, tapi kan kamu juga sudah menerima Jasmin apa adanya. Dulu pernah di tanya, Jasmin itu tidak bisa masak. Dia hidupnya hanya belajar saja, jadi ibu tidak membiarkan dia memasak di dapur, atau mengerjakan pekerjaan rumah." kata mertuanya dengan mengingatkan menantunya ketika dia meminta Jasmin untuk di nikahi setelah lulus sekolah.
Danu diam, dia menatap mertua dan istrinya secara bergantian. Dia menarik nafas panjang, dia harus segera memberikan semua bukti foto dan rekaman perselingkan Jasmin.
"Hal yang paling mendasar saya seperti ini karena ada yang lebih penting. Dan ibu harus tahu seperti apa kelakuan busuk anak ibu itu." kata Danu mulai tidak sabar untuk mengatakan tentang perselingkuhan anaknya.
"Hal penting apa?" tanya ibu Jasmin bingung.
"Setelah aku tunjukkan semuanya, jangan harap kalian semua memohon padaku untuk berbaik lagi sama kalian. Tunggu sebentar, aku punya banyak kejutan untuk kalian." kata Danu.
Danu beranjak dari duduknya, kedua ibu dan anak itu saling pandang. Bingung apa maksud dari ucapan Danu itu, dan akhirnya mereka menunggu Danu kembali duduk di kursi meja makan itu.
_
_
*********************