Cinta Suamiku Bukan Untukku

Cinta Suamiku Bukan Untukku
71. Melahirkan


"Aduh, perutku!" teriak Laras memegangi perutnya.


Danu kaget, dia melepas pelukannya dan ikut cemas dengan Laras yang meringis kesakitan. Dia memegangi perutnya dan bertanya pada Laras.


"Dia kenapa?" tanya Danu ikut panik.


"Mungkin dia mau keluar mas, auw!" kata Laras dengan menggigit bibirnya karena sakirnya mulai meningkat.


Danu melihat ke arah Rizwan dan Reiga yang melihatnya heran. Mereka berdua pun mendekat pada Danu.


"Tolong, bawa Laras ke rumah sakit. Sepertinya dia mau melahirkan." kata Danu dengan keadaan panik karena Laras terus saja mengaduh.


Rizwan dan Reiga membantu Danu membawa Laras ke mobil Danu, mereka ikut panik juga karena Laras terus saja mengerang kesakitan. Setelah sampai di dalam mobil, Danu menjalankan mobilnya pergi ke rumah sakit terdekat. Tak lupa Reiga memberitahu Dian yang masih di rumah itu.


Danu semakin panik ketika Laras terus mencengkeram lengannya, dia tidak fokus menjalankan mobilnya. Sedangkan Rizwan mengikuti di belakang mobil Danu. Rizwan mengklakson mobilnya untuk memberitahu Danu rumah sakit terdekat sudah dekat, tinggal belok saja mereka memasuki area rumah sakit.


Danu menghentikan mobilnya dan segera turun. Membantu istrinya turun lalu menuju IGD, mereka di sambut oleh petugas dan juga dokter jaga. Laras di bawa masuk ke dalam, di periksa semuanya dan memang bayinya siap untuk lahir.


Dokter jaga membawa Laras ke ruang persalinan, Danu mendampingi istrinya terus sampai ruang bersalin. Dia di suruh dokter untuk memakai baju steril dan bisa ikut mendampingi Laras melahirkan di ruang bersalin.


Sejenak Laras menatap suaminya ketika Danu memakai baju steril. Dia tidak menyangka akan di temani oleh suaminya ketika melahirkan. Ada apakah sebenarnya Danu dan Jasmin? Begitu pikiran Laras di sela-sela rasa sakitnya yang hebat.


Laras kembali meringis, dokter memeriksa jalan lahir bayinya memang sebentar lagi. Baru delapan bukaan, dokter pun memberi saran pada Danu agar memberi semangat pada istrinya.


"Bapak beri semangat istrinya ya, dua pembukaan lagi sudah sempuran dan kami akan membantu persalinan ibu. Bapak jangan lelah dan terus mendampingi ibunya, karena semangat dari bapak. Ibu akan selalu kuat dan ikut semangat juga dalam melahirkan anaknya." kata dokter memberi nasehat pada Danu.


"Iya dokter." kata Danu.


Dokter tersenyum, dia lalu keluar. Kini tinggal Danu dan Laras yang masih meringis kesakitan. Tubuhnya bergerak ke kanan dan ke kiri karena kontraksi yang semakin meningkat. Danu menatap istrinya dan mengelus bagian dahi Laras.


Ada rasa sedih dan menyesal melihat Laras begitu kesakitan dengan kontraksi itu. Air mata Danu menetes, dia benar-benar menyesal telah menelantarkan Laras dan membiarkan hamil tanpa di dampingi olehnya.


"Maafkan aku, maafkan aku." ucap Danu di telinga Laras dengan pelan.


Laras melirik pada suaminya yang sedang menangis itu. Mungkin dia merasakan sakit ketika Laras kesakitan.


"Aaaargh!" teriak Laras ketika kontraksi makin hebat.


Danu panik, dia melihat air ketuban keluar dari bagian bawah Laras. Bercampur dengan darah. Dia melihat Laras kesakitan dan menatapnya kasihan.


"Aku panggil dokter, apa anak kita sudah mau keluar?" tanya Danu.


"Mungkin mas, perutku rasanya ingin mengeluarkan dia segera. Eeuuh!" ucap Laras memejamkan matanya dengan tangannya mencengkeram lengan Danu.


Danu ingin memberitahu dokter, tapi tangan Laras sepertinya kuat sekali mencengkeram tangannya. Tak lama dokter pun datang dan memeriksa Laras.


"Waah, air ketuban sudah pecah. Bapak di bagian kepala ibu ya, selalu bisikin semangat buat ibu. Nanti ibu mengejan dan saya akan membantu mengeluarkan bayinya." kata dokter.


"Iya dokter."


Kedua perawat mendampingi dokter pun menyiapkan semuanya. Segala peralatan dan dokter juga sudah siap untuk mengeluarkan bayi Laras. Dokter menyuruh Laras untuk mengejan sesuai arahannya.


"Satu, dua, tiga. Ibu mengejan ya."


"Eeeeeuuuh!"


"Sedikit lagi ya bu, sudah kelihatan kepalanya. Ayo bantu bayi keluar ya bu, tarik nafas dulu. Lalu mengejan, satu, dua tiga!"


"Eeeeuuuh!"


"Alhamdulillah, laki-laki anaknya. Selamat ya ibu, bapak. Nanti kita bersihkan dulu. Baru bapak azani anaknya." kata dokter.


Laras pun lemas, dia terkulai dan nafasnya memburu. Danu menatap bayi yang di bawa suster keluar lalu menatap istrinya yang sedang lemas. Wajahnya mendekat lalu tersenyum, Laras sempat melihat senyum Danu yang begitu bahagia anaknya lahir.


"Terima kasih, dan maafkan aku." ucap Danu.


Laras sudah tidak ingat apa pun, dokter lalu menangani Laras untuk membersihkan sisa-sisa darah dan juga beberapa robekan di bagian intinya. Danu pun keluar karena dokter menyuruhnya keluar lebih dulu.


Dia menuju ruangan bayi, mengikuti suster yang membawa bayinya. Melihat dari kaca jendela anak laki-lakinya sedang di bersihkan dan di berikan baju khusus bayi.


Setelah selesai, suster itu pun keluar memanggil Danu untuk masuk dan mengazani bayinya. Dia sangat senang sekali, apa lagi bayinya berjenis kelamin laki-laki. Dia berjanji akan membahagiakan anak dan istrinya.


Sidang perceraiannya dengan Jasmin hanya di wakilkan oleh pengacaranya saja. Dan minggu lalu sudah di putuskan perceraian mereka, tidak ada penyesalan bagi Danu. Begitu juga Jasmin, justru gadis itu malah berbuat bebas sekali.


Kedua orang tuanya sendiri sudah lelah menasehati bahkan melarangnya untuk keluar atau menginap di rumah temannya. Jadi, kedua orang tua Jasmin sendiri sedang memperbaiki dirinya sendiri dan selalu berdoa agar anaknya bisa kembali seperti biasanya.


Sementara itu, Laras sudah selesai di tangani dokter. Dia tertidur setengah jam selama dokter melakukan pengecilan jalan lahir di bagian intimnya.


Suster yang tadi membawa bayi Laras pun masuk, dia memberikan bayinya agar bisa di beri asi pertama oleh ibunya. Danu melihat itu, sangat senang. Dia mendekat dan berdiri di samping Laras.


"Ibu, beri asi ya anaknya. Satu jam lagi saya ambil lagi bayinya." kata suster.


"Baik suster." jawab Laras menerima anaknya dengan sangat hati-hati.


Laras menggendongnya dan memberi asi pada bayi mungil itu. Meski tidak langsung keluar, tapi bayi itu seperti tahu di mana sumber asi yang akan dia makan. Danu memperhatikan bayinya yang mencari-cari sumber asi itu sangat lucu.


"Dia sangat lucu." ucap Danu.


"Iya, bayi selalu lucu mas." kata Laras menatap wajah anaknya.


Terlihat seklias mirip Danu, ada beberapa bagian juga yang mirip Laras. Tapi lebih banyak mirip suaminya, Laras tersenyum dengan kemiripan anaknya dengan suaminya itu.


"Kamu sudah menyiapkan nama untuknya?" tanya Danu.


"Sudah mas, aku siapkan dua nama laki-laki dan perempuan." jawab Laras.


"Memang kamu tidak tahu jenis kelamin sewaktu di dalam perut?" tanya Danu.


"Aku tidak sempat USG mas, jarak rumah sakit jauh sewaktu di kontrakan dulu. Jadi aku hanya berharap bayiku baik-baik saja, dan apa pun jenis kelaminnya aku sudah siapkan nama untuknya." jawab Laras.


Danu diam lagi, perih juga ketika Laras tidak sempat memeriksakan kehamilannya secara rutin. Bahkan tidak tahu jenis kelaminnya apa. Laras melihat Danu seperti menyesali semua yang terjadi padanya. Dia pun ikut diam, tidak berpikir apakah memang suaminya itu benar-benar akan kembali padanya.


"Namanya Orion Bintang Pratama. Dia bisa di panggil Rion." kata Laras.


"Nama yang bagus, maaf jika selama ini aku mengabaikanmu." ucap Danu lagi.


"Nggak apa-apa mas, semua baik-baik saja. Aku senang saat melahirkan kamu menemaniku." ucap Laras.


Sejak di pemakaman, Danu selalu meminta maaf padanya. Apa sebenarnya yang terjadi dengan suaminya itu, Laras belum mengerti.


_


_


******************