Cinta Suamiku Bukan Untukku

Cinta Suamiku Bukan Untukku
79. Bukan Laki-Laki Romantis


ehSetelah makan di restoran, Danu mengajak jalan lagi Laras. Entah dia mau membawa Laras kemana, tapi gadis itu tidak tahu jika suaminya itu mau pergi jalan-jalan berdua dengannya. Sampai di sebuah mall besar, mobil Danu masuk parkiran. Laras mengerutkan dahinya.


"Mau apa ke mall mas?" tanya Laras.


"Aku ingin jalan berdua denganmu." jawab Danu menarik tangan istrinya itu.


"Tapi buat apa? Bukankah tadi tidak membicarakan mau pergi ke mall." kata Laras lagi.


"Ngga apa-apa, aku ingin mengajakmu pergi saja." kata Danu lagi.


"Tapi, aku khawatir sama Rion mas." kata Laras lagi.


Danu menghentikan langkahnya, dia menatap istrinya dan menghela nafas panjang. Merasa kecewa dengan sikap Laras yang selalu memikirkan anaknya saja.


"Kamu khawatir cuma sama Rion ya." kata Danu.


"Bukan begitu mas, kita sudah lama meninggalkan Rion dengan Dian di rumah. Aku jadi khawatir sama Rion." kata Laras.


Danu diam, dia menarik nafas panjang. Akhirnya dia mengalah, masuk lagi ke dalam mobilnya. Laras masih diam di tempatnya, merasa heran dengan sikap suaminya hari ini. Laras ikut masuk ke dalam mobil, masih menatap suaminya yang terlihat kesal itu.


"Aku hubungi Dian dulu ya, biar dia bisa mengurus dan menjaga Rion sampai kita pulang nanti." kata Laras.


Dia mengambil ponselnya dan menelepon Dian di rumahnya. Beberapa menit Laras menelepon, memberikan intruksi untuk kebutuhan Rion.


"Maaf ya Dian, kakak pulangnya masih lama." kata Laras.


"Ngga apa-apa kak, nikmati saja jalan berdua dengan suami kakak. Jangan khawatir dengan Rion, hari ini dia sedang tidak rewel kok. Mungkin dia tahu kalau kedua orang tuanya mau pacaran. Heheh." kata Dian di seberang sana.


"Kamu itu, ada-ada saja sih. Ya sudah, aku tutup teleponnya ya. Maaf kakak merepotkanmu."


"Ngga apa-apa."


"Assalamu alaikum."


"Wa alaikum salam."


Klik!


Laras tersenyum, dia lalu memasukkan ponselnya ke dalam tasnya dan menoleh ke arah suaminya.


"Sudah mas, Dian sudah aku beritahu. Dan Rion katanya tidak rewel kok." kata Laras.


"Benar? Kamu nanti tanya lagi masalah Rion?" tanya Danu.


"Ngga, Insya Allah. Kalau Dian tidak menelepon, aku tenang kok. Rion tidak rewel." kata Laras lagi.


"Ya sudah, ayo kita keluar lagi." kata Danu.


Mereka pun keluar dari mobil, dan kini menuju mall. Danu akan memanjakan Laras dengan membelikan barang-barang mahal dan juga sesuai keinginannya. Hari ini, dia memang berencana ingin mengajak jalan Laras kemana pun. Dan jatuhnya pergi ke mall.


_


Pulang dari mall, Laras membawa banyak belanjaan. Danu membelikan semua apa yang di sebut oleh istrinya itu, Laras selalu menolaknya. Tapi Danu memaksa untuk membelikannya, dan akhirnya dia banyak sekali membawa barang belanjaan. Tak lupa juga dia membeli hadiah untuk Dian yang sudah seharian menjaga anaknya.


"Mas, bantu aku bawa barangnya masuk." kata Laras.


"Iya. Ini aku bantu." kata Danu.


"Mas Danu sih, belanja banyak banget. Kan jadi repot bawanya." kata Laras.


"Ngga apa-apa, sekali-kali belanja banyak buat kamu." kata Danu.


Laras hanya menatap suaminya, kemudian dia membawa masuk semua barang-barang belanjanya. Di bantu oleh Danu membawa masuk semuanya. Dian juga ikut membantu, dia heran Laras banyak sekali belanjanya.


"Kak, belanjanya banyak banget sih? Kalap ya?" tanya Dian.


"Ngga. Mas Danu yang belikan, dia memaksa untuk membeli yang aku katakan. Katanya kalau aku suka, ya aku harus beli. Aku juga aneh sih dia seperti itu, tapi ya sudahlah." kata Laras.


"Emm, senangnya kak Laras sekarang jadi lebih di perhatikan sama pak Danu. Semuanya di belikan. Tapi, pak Danu hanya itu saja kak yang di katakannya?" tanya Dian.


"Ya, menurut kamu apa?"


"Apa di ajak makan berdua juga?"


"Iya. Tadi siang. Kenapa kamu jadi penasaran sih?"


"Heheh, kali saja pak Danu mau romantis-romantisan sama kak Laras. Pak Danu bilang cinta gitu sambil menyematkan cincin di jari kak Laraw. Uuh, seperti di film-film itu." kata Dian lagi dengan tertawa kecil.


"Mas Danu bukan laki-laki romantis, tidak ada yang seperti itu. Lagi pula, aneh saja kalau dia melakukan itu. Sikap laki-laki tegas jadi melankolis itu tidak pantas." kata Laras.


"Lha, apa hubungannya kak? Kan romantis itu sikap sewaktu-waktu, pengen romantis sama pasangan. Kalau sikap tegas dan diam memang pembawaannya suami kak Laras itu."


"Ya udah, jangan tanya lagi tentang romantis. Di bilang dia tipe laki-laki tidak romantis, tapi apa pun itu kakak suka aja sih. Heheh." kata Laras sambil membereskan barang belanjaan yang tadi sudah dia pilih.


Kemudian dia bawa ke dalam kamarnya, Danu hanya tersenyum saja mendengar pembicaraan istrinya dan Dian mengenai dirinya. Dia lalu mengejar Laras masuk ke dalam kamarnya, meletakkan Rion di boks bayi yang sejak tadi dia gendong kemudian tertidur.


Laras memasukkan barang-barang seperti tas dan juga beberapa baju di dalam lemarinya. Menatanya agar tidak berantakan, tetapi dari belakang dia di peluk oleh Danu dan mencium pipinya. Laras terkejut dengan sikap Danu itu.


"Emm, jadi kamu suka aku seperti apa? Romantis atau tidak romantis?" tanya Danu masih memeluk Laras dari belakang.


"Eh, mas Danu mendengar pembicaraanku dengan Dian?" tanya Laras berusaha berbalik tapi di tahan oleh Danu.


"Emm, ya. Jawab pertanyaanku."


"Pertanyaan apa mas?"


"Romantis."


"Siapa yang romantis?"


"Aish, kamu suka aku romantis atau tidak romantis?"


"Kalau mas Danu romantis itu aneh. Jadi lebih baik biasa saja, tapi tetap sayang sama aku dan anakku. Itu juga sudah cukup." kata Laras.


Danu membalikkan tubuh Laras menghadap padanya. Dia menatap Laras dengan lembut, dia berpikir Laras itu salah. Dia bisa saja bersikap romantis, tapi benar apa katanya. Akan terasa aneh jika dia bersikap romantis.


"Jadi, aku harus tetap tidak romantis?" tanya Danu.


"Ya, bagi aku mas Danu berubah jadi lebih baik dan menyayangiku dan Rion. Itu sudah membuat aku bahagia mas, tidak perlu yang lain lagi."


"Yakin? Kalau aku bilang cinta? Juga tidak usah?"


"Eh? Kalau itu ... Terserah mas Danu." ucap Laras menundukkan kepalanya.


"Aku memang bukan laki-laki romantis, tapi aku juga mau bilang. Kalau aku sebenarnya cinta sama kamu." kata Danu.


Laras mendongak, menatap suaminya lalu tersenyum. Danu pun ikut tersenyum, dia mengecup bibir Laras kemudian dia pergi meninggalkan Laras yang masih terpaku di depan lemari bajunya.


"Kamu memang bukan laki-laki romantis, sih mas. Tapi aku suka kok."


_


_


*******************