Cinta Suamiku Bukan Untukku

Cinta Suamiku Bukan Untukku
45. Danu Terkejut


Pikiran Laras sudah lebih baik, dia sudah mulai melupakan Danu. Dia hanya fokus dengan kandungannya dan juga bisnisnya. Sekarang sudah memasuki enam bulan kandungannya, setiap bulan dia pergi ke dokter kandungan untuk memeriksakan janinnya apakah sehat dan aktif di dalam perutnya.


"Semua bagus bu Laras, sehat. Jangan khawatir ya, dan jangan lupa vitaminnya di minum. Sudah enam bulan ya, tingga tiga bulan lagi bayinya lahir." kata dokter kandungan Laras.


"Iya dokter, saya senang sekali." kata Laras dengan senyum bahagianya.


"Emm, maaf kalau saya terlalu penasaran. Tapi sebaiknya, kalau memeriksakan kehamilan bapaknya ikut ya. Biar tahu keadaan bayinya sehat atau tidak. Kan bapaknya juga harus mendukung dan memberi semangat ibunya juga. " kata dokter lagi.


Laras hanya tersenyum, memang dia memeriksakan kandungannya hanya seorang diri. Semua yang memeriksakan kandungan pasti di dampingi oleh suaminya, sedangkan dirinya selalu sendiri. Bagaimana dia mau di dampingi, tahu dia mengandung anaknya saja tidak.


"Ibu Laras?"


"Ya dokter, suamiku sedang berlayar. Jadi dia kalau pulang satu tahun sekali, dia tidak bisa ikut memeriksakan kandunganku." kata Laras berbohong.


Lebih baik seperti itu, dari pada dokter terus bertanya dan mendesaknya agar suaminya ikut mengantar periksa kandungan. Dia pernah datang ke rumah Danu, tapi waktu itu sangat sepi. Dia datang sore hari, ketika waktu pulang kantor. Tapi sampai malam dia menunggu di depan rumah Danu, dia tidak juga datang dan akhirnya Laras pulang malam-malam itu.


"Ooh, sedang berlayar ya. Maaf kalau begitu, saya kira ibu memang tidak mau di antar oleh suami periksa kandungan." kata dokter merasa tidak enak pada Laras.


"Tidak apa dokter, semoga lahir anakku dia sudah pulang." kata Laras.


Setelah berkonsultasi, Laras pun keluar dan segera menebus vitamin yang akan dia minum untuk kesehatan janinnya. Dia keluar dari rumah sakit dan segera pergi ke toko untuk membeli bahan-bahan kue.


Hatinya benar-benar senang sekali ketika tahu jenis kelamin anaknya. Senyumnya mengembang, dia akan menyayanginya sepenuh hati.


Motor Laras melaju pelan menuju toko langganannya. Meski dia kerepotan dengan perut besarnya, tapi tidak menghalanginya untuk bergerak bebas. Yang terpenting dia menjaga kandungannya dengan baik.


Di jalan, Laras menjalankan motornya pelan. Di belakangnya ada mobil hitam. Awalnya pengemudi mobil itu tidak menyadari motor Laras melaju di depannya. Sampai di lampu merah, motor Laras berhenti. Begitu pun mobil hitam, pengemudi mobil itu memperhatikan Laras.


Dia seperti mengenal pemotor yang memakai helm, dari motornya dia tahu. Tapi ketika melihat perutnya membesar, dia heran. Siapa pemotor itu. Pengemudi itu masih memperhatikan wajah di balik helm tersebut, hingga lampu hijau menyala.


Tanpa sengaja mobil itu mengikuti motor Laras, dia penasaran siap yang memakai motor Laras itu. Sampai Laras berhenti di sebuah toko bahan kue, dia melepas helmnya.


Betapa terkejutnya dia ketika tahu kalau benar pemotor itu adalah Laras.


"Laras? Dia ...."


_


Laras memasukkan semua barang belanjaannya ke dalam rumah. Kebetulan Dian sedang mengikuti ujian paket C di sebuah sekolah negeri. Jadi Laras memindahkan semua barang belanjaannya sendirian. Dia begitu sibuk, hingga dia tidak menyadari kalau mobil hitam yang mengikutinya berhenti di depan rumahnya.


Laki-laki dalam mobil itu keluar, dia memandangi Laras yang sibuk memindahkan semua barang-barangnya ke dalam rumah. Hatinya merasa bersalah, lalu dia pun melangkah masuk pagar rumah Laras.


Laras menata barang belanjanya di dapur, dia lupa menutup pintu rumahnya. Sehingga laki-laki itu masuk dan melangkah ke dapur. Laras berbalik, dia terkejut dan menatap laki-laki itu.


Ya, dia suaminya Danu. Sejak dia penasaran siapa pemotor yang mengendarai motor istrinya itu, sampai dia menunggu Laras kembali menaiki motor dan pulang. Danu mengikutinya.


Kini dia tertegun dengan penampilan Laras yang berbeda. Dengan perut membesar dan wajah tirus itu, Laras menunduk dan memegangi perutnya. Hatinya sedih sekali.


"Kamu, hamil?" tanya Danu.


Laras diam saja, dia ingin sekali memeluk suaminya yang selama ini di rindukannya. Tapi, dia tahu Danu hanya ingin mampir dan entah mau apa. Kini dia terisak kecil.


"Laras, kamu hamil anakku?" tanya Danu lagi menunggu jawaban istrinya itu.


Laras mengangguk pelan, air matanya menetes. Namun dia langsung menghapusnya, karena dia tidak mau rapuh lagi.


"Kenapa kamu tidak bilang padaku?" tanya Danu.


"Aku tidak mau mengganggu mas Danu." kata Laras.


"Tapi, kamu hamil anakku." kata Danu lagi.


"Iya, tapi kamu sendiri tidak lagi peduli padaku mas. Mungkin kamu juga mau menceraikan aku kan?" kata Laras.


Danu diam, dia memang dulu mau menceraikan Laras. Tapi karena terlalu bahagia dengan Jasmin yang selalu ada di dekatnya, jadi dia melupakan Laras dan tidak lagi menemuinya. Danu menarik nafas berat, rasanya dia bingung.


"Kamu hamil anakku, sudah berapa bulan?" tanya Danu.


"Enam bulan." jawab Laras.


"Jadi, sejak aku tidak datang kemari. Kamu sudah hamil?" tanya Danu, Laras mengangguk.


Danu diam lagi, entah apa yang dia rasakan. Bahagia atau kecewa, dia bingung.


"Kamu mau apa kemari mas?" tanya Laras.


"Aku ..."


"Kalau hanya mau melihatku, kamu sudah melihatnya. Kamu bisa pulang lagi mas." kata Laras berusaha tegar menolak kedatangan Danu.


"Kenapa kamu mengusirku?" tanya Danu.


"Karena aku tidak mau jadi pelampiasan kamu saja. Meski aku istrimu, tapi aku tidak mau hanya jadi pelampiasan saja." kata Laras mencoba berani mengatakan semua unek-uneknya.


Danu diam, dia tidak suka ucapan Laras itu. Namun, benar adanya apa yang di katakan Laras itu. Saat ini dia sedang baik-baik saja dengan Jasmin. Istrinya itu meski pun menginap di rumah temannya, dia selalu menghubungi Danu lebih dulu. Atau meneleponnya malam harinya, dan di rumah juga semua baik-baik saja.


"Kamu menungguku datang lagi?" tanya Danu.


"Tidak." jawab Laras, matanya menatap ke arah lain.


Dia benar-benar sakit dan kecewa, Danu sepertinya tidak mengharapkannya hamil anaknya. Danu memandangi perut Laras kembali, dia menunduk dan mengelus perut Laras.


Ada rasa aneh dalam hatinya, dia merasakan ikatan batin pada janin di dalam perut Laras itu.


"Aku pernah ke rumahmu, tapi kamu tidak pulang-pulang mas. Niatku hanya mau memberitahu kalau aku hamil, tapi aku tidak menjumpaimu sampai malam hari." kata Laras.


"Tapi, kamu baik-baik saja kan? Kandunganmu juga sehat?" tanya Danu.


"Aku baik-baik saja, kandunganku juga. Kamu jangan khawatir." kata Laras lagi.


Dia kembali ke dapur, tidak berniat menawarkan Danu minum atau memberinya makan. Sedangkan Danu masih bingung dengan semuanya. Senangkah atau bagaimana, dia masih bingung.


Danu keluar dari rumah Laras dan duduk di teras. Dia memikirkan semuanya, dia memang salah melupakan Laras setelah Jasmin kembali padanya. Bahagia sendiri, sedangkan istri pertamanya sedang mengandung tanpa dia tahu dan tidak pernah datang lagi.


_


_


*******************