
Perubahan pada Jasmin di mata Danu memang sangat jauh berbeda. Beberapa bulan tidak pernah bertemu dan tidak pernah tahu kabar dari mantan istrinya itu mmebuat Danu jadi merasa kasihan.
Ibu dan ayah Jasmin juga merasa ikut menyesal dan tidak enak hati harus minta bantuan pada mantan menantunya untuk pengobatan Jasmin. Ya, benar. Jasmin mengalami penyakit HIV, sudah bergejala dan dia tampak ringkuh tubuhnya.
Ternyata Dandy sejak Jasmin berpisah dengan Danu, dia sudah tertular. Dan ketika itu dia masih berhubungan dengan Jasmin, bahkan gadis itu semakin tidak terkendali. Hingga, Dandy pun pergi meninggalkannya tanpa kabar. Jasmin kalang kabut dan dia terus mencari Dandy di mana.
Mereka bertemu di sebuah depan halaman yayasan ODHA. Dandy keluar dari yayasan itu, dan tanpa membuang kesempatan Jasmin menarik Dandy meminta penjelasan padanya. Hingga akhirnya, Dandy bercerita kalau dia terkena penyakit HIV.
Tentu saja Jasmin terkejut, dan dia pun ikut tertular oleh Dandy. Dia pun stres, mengurung diri di kamar dan kadang menangis sampai tidak mau makan. Kedua orang tuanya pun bertanya padanya dan Jasmin pun menceritakannya pada kedua orang tuanya itu.
"Kamu harus di periksa Jasmin, ibu antar kamu ke dokter." kata ibunya.
"Aku takut bu, aku benar-benar takut." ucap Jasmin.
"Kalau kamu takut, kamu akan semakin di gerogoti oleh penyakit itu. Seberapa lama penyakit itu menyebar di tubuhmu, kamu akan tahu jika periksa ke dokter." kata ibunya.
Jasmin menangis, dia menangis sejadi-jadinya. Merasa menyesal telah bergaul dengan bebas, bahkan dia juga sering mabuk dengan Dandy. Bahkan pernah sekali mencoba narkoba. Begitulah kehidupan Jasmin selepas cerai dengan Danu.
Kini, Jasmin dan kedua orang tuanya bertemu Danu ingin meminta bantuan padanya. Dan tidak di sangka Danu justru membawa istrinya Laras menemui mereka. Membuat ketiganya merasa canggung dan semakin malu untuk meminta bantuan pada mantan suami Jasmin itu.
"Aku hanya meminta kebaikan dady saja, jika dady merasa kasihan padaku. Berilah bantuan padaku, dady." kata Jasmin tanpa malu-malu lagi.
Laras hanya mendengarkan semua cerita dan ucapak Jasmin. Dia tidak berani bahkan tidak punya kapasitas menyela ucapan Jasmin, itu tergantung dengan suaminya saja.
"Akan aku pikirkan dan aku diskusikan dengan istriku Laras. Aku ingin meminta persetujuan darinya, jika dia mengizinkanku membantumu. Maka akan aku bantu." kata Danu dengan tegas.
Laras menatap suaminya tidak percaya, apakah ucapan Danu itu sebagai bentuk menghargainya sebagai istri?
Kini beralih pada Laras, dia menatap datar pada istri pertama mantan suaminya itu. Tetapi seperti apa yang dulu di katakan suaminya, memang Laras itu perempuan yang baik. Jadi, Jasmin berharap Laras menyetujui permintaannya pada Danu.
"Nak Laras, ibu dengar kamu perempuan yang baik. Selalu menurut dan suka menolong orang lain, ibu meminta pada suamimu untuk membantu Jasmin yang sedang membutuhkan biaya pengobatan. Jadi, ibu mohon kamu tidak keberatan." kata ibu Jasmin ikut bicara.
"Maaf bu, mas Danu suamiku. Jika memang mas Danu berniat membantu, pasti dia akan membantu kok. Tapi membantu dalam sewajarnya, tidak semua kebutuhan harus mas Danu yang memenuhinya. Aku tahu Jasmin adalah mantan istri mas Danu, tapi aku juga istrinya dulu. Dan sekarang istrinya yang sah, berhak memberi batasan bantuan suamiku pada mantan istrinya. Aku juga harus tahu, seperti apa bantuan yang di berikan oleh mas Danu pada mantan istrinya yang sedang sakit. Karena mantan istri, sudah bukan tanggung jawab mantan suaminya. Apa lagi dulu ada masalah besar sehingga harus menempuh jalan bercerai." kata Laras dengan tegas.
Danu tertegun dengan jawaban istrinya itu, dia baru tahu jika memang Laras itu pandai juga bicara dengan lugas dan tegas. Memang selama ini yang dia tahu Laras adalah perempua yang selalu menurut dan hanya bicara biasa saja. Danu tidak pernah bicara bertukar pikiran tentang masalah yang dia hadapi.
Danu tersenyum tipis, di bawah meja dia menggenggam tangan istrinya itu. Merasa kagum dengan jawabannya tentang permintaan mantan mertuanya.
"Tapi, dulu Jasmin dan Danu saling dekat. Mereka saling mencintai, dan kenapa dia pernah memilih Jasmin di banding kamu? Karena kamu bukan pilihannya, dan kamu tersisih." kata ibu Jasmin merasa tidak terima ucapan Laras tadi.
"Dulu, memang iya aku tersisihkan. Bahkan aku pergi sendiri untuk kebahagiaan mas Danu dengan Jasmin gadis yang dia cintai. Tapi sekarang? Aku yang jadi pilihannya, kami punya anak yang harus di besarkan secara bersama-sama. Jadi maaf untuk masa lalu itu, saya tidak tertarik. Sekarang yang saya hadapi adalah masa depan keluarga dan rumah tanggaku. Ibu meminta bantuan pada suamiku, itu sah-sah saja. Tapi sesuai apa yang tadi saya katakan, mas Danu boleh membantu Jasmin tapi sewajarnya saja." kata Laras lagi.
Dia merasa punya keberanian ketika tangannya di genggam oleh suaminya di bawah meja.
Jasmin dan kedua orang tuanya terdiam, mereka merasa tidak bisa menjawab lagi bahkan memaksa Danu untuk membantu apa yang mereka inginkan.
"Baiklah, aku kira cukup. Nanti aku akan transfer uang pada rekening Jasmin sesuai kesepakatan istriku. Kalau begitu, kami pergi dulu." kata Danu.
Mereka beranjak pergi meninggalkan Jasmin dan kedua orang tuanya. Bahkan ayah Jasmin diam saja, karena dia tidak bisa membantu dan merasa malu sendiri.
"Aku salut sama kamu, kamu bisa membalas ucapan mereka." kata Danu.
"Aku hanya menyambungi ucapanmu saja mas, jika kamu tidak berkata begitu. Maka, aku pun akan diam saja sesuai apa yang kamu katakan." kata Laras.
"Terima kasih, dan maafkan aku." kata Danu.
Mereka kembali diam, Danu membawa Laras untuk makan siang di restoran mahal. Karena dia belum pernah membawa Laras pergi makan di restoran apa lagi jalan berdua dengannya.
"Kamu lapar?" tanya Danu.
"Ya, aku lapar." jawab Laras.
"Kita makan di restoran." kata Danu.
"Kenapa tidak makan di sana tadi?" tanya Laras.
"Aku tidak mau makan dengan mereka."
"Tapi kenapa mas Danu mau menemui mereka?"
"Hanya untuk mengajakmu, dan kita bisa pergi berdua makan siang." kata Danu.
"Tapi aku khawatir sama Rion mas." kata Laras.
"Hanya sebentar, aku belum pernah jalan berdua dengan istriku ini. Apa kamu keberatan jalan denganku?" tanya Danu.
"Ya ngga mas, kamu ngajaknya mendadak. Jadi aku belum pesan sama Dian dengan asi yang akan di berikan sama Rion." kata Laras.
"Telepon saja kalau kamu khawatir sama Rion. Aku juga ingin di perhatikan sama kamu." kata Danu.
"Mas Danu merajuk?"
"Iya."
"Kok aneh sih?"
"Aku lagi aneh sekarang ini." kata Danu.
Laras tersenyum menatap suaminya. Kenapa Danu jadi manja padanya? Laras pun menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya, tapi dia juga merasa senang karena sikap kanak-kanak Danu baru terlihat kali ini.
_
_
*******************