Cinta Suamiku Bukan Untukku

Cinta Suamiku Bukan Untukku
41. Melihatnya


Sejak Danu berjanji hari itu pada Jasmin, dia tidak lagi pergi ke rumah Laras. Dia sekarang hampir melupakan Laras, karena Jasmin sepertinya tidak mau membiarkan Danu pergi lagi ke rumah istri pertamanya.


Di samping dia sekarang sedang menjaga jarak dengan Dandy. Bukan menjaga jarak, tapi Dandy sedang pergi ke luar negeri menemui pacarnya di saja. Dia mengatakan pada Jasmin kalau Dandy pergi selama satu bulan.


Mereka, Jasmin dan Dandy mempunyai hubungan yang sangat dekat. Mereka tidak mengikat satu sama lain, tapi keduanya sepakat hanya teman kencan selama kuliah itu.


Jasmin sendiri lambat laun dia jadi menyukai Dandy, hanya dia tidak mau pergi lebih dulu dari Danu. Dia ingin meminta di belikan mobil, makanya dia sekarang lebih sering berada di rumah ketika Danu pulang kerja.


Tentu saja Danu senang sekali jika Jasmin selalu menyambutnya ketika pulang kerja. Mereka juga sering pergi makan di luar, makan dj restoran mahal dan enak. Danu lupa dengan Laras, dia tidak tahu jika setiap hari kalau istri pertamanya itu menunggunya datang di waktu sore hari.


Seperti saat ini, Laras sedang sendiri di Sabtu sore. Dian menginap di panti asuhan dan akan pulang besok sore. Laras duduk di kursi teras rumahnya, dengan perasaan gelisah dia menunggu suaminya datang.


Berharap Danu datang lagi ke rumahnya, menatap jalan di depan. Sesekali dia bangkit dari duduknya dan menengok ke arah jalan persimpangan.


"Apa mas Danu tidak datang lagi kemari?" ucap Laras lirih.


Tiba-tiba hatinya rindu dengan kedatangan suaminya. Lalu tersenyum sendiri, merasa aneh kenapa dia merasa rindu pada suaminya.


"Apa aku mencintainya? Kenapa aku merindukannya? Bahkan setiap sore aku selalu menunggunya." ucap Laras lagi.


Dia duduk lagi di teras rumah, hingga terdengar azan maghrib berkumandang Laras tidak juga melihat mobil datang ke rumahnya.


"Mungkinkah gadis itu sudah kembali? Jadi dia lupa lagi denganku?" ucap Laras lagi.


Pukul enam tiga puluh Laras baru masuk ke dalam rumahnya. Dia masuk dan menutup pintunya, menunaikan sholat magrib lalu dia akan menunggu lagi suaminya itu. Berharap Danu datang lagi ke rumahnya, Laras sudah menyiapkan makan malam untuk Danu.


Tapi sampai pukul sembilan malam Laras menunggu, Danu tidak juga datang. Akhirnya Laras makan sendiri dengan tidak berselera, tapi dia merasa lapar.


"Mungkin besok dia datang ke rumahku." ucapnya lagi bermonolog.


_


Satu bulan Danu tidak datang lagi ke rumah Laras, hingga gadis itu sekarang lebih banyak diam dan melamun. Membuat Dian melihatnya heran, tubuh Laras semakin kurus. Entah karena memikirkan Danu, atau karena dia bekerja sambil melamun dan makan pun semakin jarang.


"Kak, kak Laras sakit ya?" tanya Dian.


"Ngga kok, kakak hanya pusing saja." jawab Laras.


"Tapi wajah kak Laras kok pucat. Apa aku antar kakak ke dokter?" tanya Dian.


"Kakak istirahat aja dulu, nanti kalau pusingnya hilang kakak juga sembuh kok." kata Laras lagi.


"Ya sudah, kakak istirahat aja. Biar Dian aja yang menyelesaikan pekerjaannya." kata Dian.


"Maaf ya Dian, kakak sering banyak istirahat dan melamun kerjanya. Jadi kamu yang jadi repot." kata Laras.


"Ngga apa-apa kak, istirahat aja. Jangan di paksakan." kata Dian.


"Besok kakak ke pasar." kata Laras.


"Biar Dian aja, kakak harus istirahat yang cukup. Aku yakin kakak banyak pikiran dan kurang istirahat, jadi sakit." kata Dian lagi.


"Mungkin ya. Tapi hari Minggu kamu harus ke panti, Dian."


"Ngga apa-apa, nanti aku bilang sama ibu Rima kalau Minggu besok ngga bisa ke panti." kata Dian.


"Ya udah, kakak masuk kamar dulu ya." ucap Laras.


"Iya kak, biar semuanya aku yang kerjakan." kata Dian.


"Iya, terima kasih Dian."


Laras pun mencuci tangannya dan segera masuk ke kamarnya. Kepalanya benar-benar pusing, mungkin dia kurang tidur dan juga istirahat karena selalu gelisah memikirkan Danu yang sudah satu bulan tidak datang ke rumahnya.


Di pejamkannya matanya, tapi pikirannya tetap pada suaminya. Entah dia sudah merasa jatuh cinta, hingga setiap kali memikirkan Danu selalu saja hatinya sedih dan merindukannya.


"Mas Danu, apa kamu sudah lupa lagi padaku?" gumam Laras.


Sementara itu, Danu sedang bahagia karena Jasmin sekarang sudah menurut padanya. Mau di antar lagi pergi ke kampus, tapi dia tidak tahu kalau Jasmin sedang memikirkan Dandy yang sudah satu bulan lebih tidak memberi kabar dan belum pulang juga.


Akhirnya, dia kembali menyibukkan diri pada kuliah dan juga mendekat lagi pada teman-temannya dulu. Ira, Seli dan Beni. Mereka kini kembali lagi berteman, meski Ira sendiri sering diam saja ketika Jasmin mengajak mereka pergi ke kantin bersama.


"Ra, kenapa lo jadi diam begini sih? Gue ada salah ya sama lo?" tanya Jasmin.


"Ngga kok, gue lagi malas ngomong aja." jawab Ira.


"Emm, pulang kuliah kita ke mall yuk? Gue traktir deh kalian semua." kata Jasmin.


"Asyiik! Gue ikut." kata Seli.


"Kalian semua ikut, kalian juga boleh kok beli apa saja. Tapi sesuai bujet yang gue tentukan ya." kata Jasmin.


"Oke."


Baru saja mereka berencana mau pergi ke mall, ponsel Jasmin berdering. Dia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelepon. Danu.


"Halo dady?"


"Sayang, kamu sudah keluar dari kelas?" tanya Danu.


"Iya, kenapa?" tanya Jasmin.


"Aku di depan pintu gerbang kampus, mau ajak kamu ke toko berlian. Rencananya mau beli cincin berlian untuk kamu sayang." kata Danu.


"Oh ya?! Oke, aku kesana sekarang."


"Aku tunggu ya."


Klik!


"Sori.teman-teman, traktirnya lain kali aja ya. Gue mau di ajak dady berli cincin berlian. Daah!"


Jasmin langssung berlari meninggalkan teman-temannya. Ira, Seli dan Beni hanya diam saja, lalu tersenyum kecut dengan gagalnya mereka di traktir oleh Jasmin.


Sedangkan Jasmin dan Danu sudah berada di dalam mobil. Mereka akan pergi ke toko berlian, membeli cincin untuk Jasmin.


"Kamu dapat bonus ya dad, mau beli cincin berlian untuk aku." kata Jasmin dengan senangnya.


"Ya, aku dapat bonus lumayan besar. Jadi aku ingin belikan kamu cincin, kamu senang kan?" tanya Danu.


"Tentu saja aku senang dady." kata Jasmin.


Mereka lalu tertawa kecil, mobil Danu pun berhenti di pusat belanja. Dia membawa Jasmin ke toko berlian yang memang terkenal bagus-bagus barangnya. Mereka berjalan bergandengan tangan dan melewati banyak outlet.


Tanpa mereka tahu, ada perempuan yang memperhatikan Danu dan Jasmin menuju toko berlian. Ya, dia Laras yang kebetulan saja sedang berada di outlet dekat dengan toko berlian itu.


Hatinya sedih dan sakit melihat suaminya begitu dekat dan mesra bergandengan dengan Jasmin. Dia melihat keduanya menuju toko berlian.


"Jadi, selama ini kamu sudah baikan sama gadis itu mas?" gumam Laras.


Tiba-tiba matanya berair, tapi segera di usapnya air mata yang hampir jatuh itu. Dia menunduk dalam, hatinya benar-benar sakit sekali.


Lalu Laras pun pergi dari outlet tadi dia berdiri, lupa kalau Dian masih berada di sana. Pikirannya kacau mengingat senyum Danu begitu bahagia dengan istri keduanya. Dia ke parkiran, tapi baru ingat kalau Dian masih ada di dalam outlet itu.


"Aah, aku lupa kalau Dian masih di sana." kata Laras.


Akhirnya Laras menghubungi Dian dan memberitahu kalau dia sudah ada di parkiran. Menunggu Dian selesai membeli baju kesukaannya.


_


_


******************