Cinta Suamiku Bukan Untukku

Cinta Suamiku Bukan Untukku
50. Di Depan Toko Kue


Danu sampai di depan restoran seafood di mana Jasmin sedang menunggunya di dalam. Dia akan makan dengan istri kesayangannya itu. Danu memarikirkan mobilnya di halaman parikir restoran.


Dia keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam restoran seafood tersebut. Dia mencari di mana Jasmin berada, dan satu lambaian tangan mengarah padanya. Danu tersenyum dan berjalan menghanpiri istrinya yang sedang menelepon seseorang lalu menutupnya.


"Sudah lama sayang kamu menunggu aku?" tanya Danu duduk di depan Jasmin.


"Ngga sih, tadi aku di temani sama temanku. Jadi dia pulang setelah aku menghubungi dady." kata Jasmin.


"Kamu sudah memesan makanan?" tanya Danu.


"Sudah. Tapi, dady suka ngga kepiting? Aku pesan kepiting lho dad." kata Jasmin.


"Ya udah, aku pesan lagi aja. Aku alergi sama kepiting." kata Danu.


"Ya, sayang banget. Padahal aku pesan dua porsi lho buat dady juga." kata Jasmin kecewa.


Danu diam, dia lalu tersenyum dan mencari pelayan yang lewat.


"Mas, meja empat belas sudah pesan ya?" tanya Danu.


"Oh, sedang do buatkan pak. Ada tambahan?" tanya pelayan itu.


"Iya ada, tapi itu pesan kepiting di ganti aja." kata Danu.


"Di ganti semua?"


"Tidak, kan pesan dua porsi. Satu di ganti dengan sup ikan aja, sama ikan bakarnya." kata Danu.


"Baik pak."


Setelah memesan pada pelayan, Danu pun menatap istrinya yang terlihat diam.


"Sudah, aku sudah ganti menu makanannya. Jadi tidak sia-sia kepitingnya terbuang." kata Danu.


"Memang kamu alergi kepiting dad?" tanya Jasmin.


"Ya, sejak kecil aku alergi kepiting." jawab Danu.


"Kok aku ngga tahu sih dady?"


"Karena kamu ngga pernah masak, dan ngga tahu aku punya alergi apa." jawab Danu biasa saja.


Membuta Jasmin menatap tajam pada suaminya itu. Tapi Danu tidak tahu kalau Jasmin kesal padanya dengan ucapannya tadi.


"Oh ya, kamu sudah selesai acaranya di kampus?" tanya Danu.


"Sudah." jawab Jasmin singkat.


Pesanan mereka pun datang, Danu memang lapar. Dia langsung makan setelah pelayan pergi, Jasmin sendiri juga makan dengan pelan. Danu makan dengan tenang, teringat dirinya akan Laras yang tadi berangkat menaiki motor pergi dari rumahnya.


Danu tertegun, kenapa dia mengingat istrinya itu? Tangannya berhenti menyuapi makanan ke dalam mulutnya, menarik nafas lalu mengambil air minum.


"Apa dia sudah kembali?" gumam Danu dengan suara kecil.


"Kamu bicara apa dady?" tanya Jasmin melihat mimik wajah Danu yang terlihat bingung.


"Ngga sayang, tadi makanannya enak banget. Ayo di habiskan setelah ini kita pulang." kata Danu.


"Kok pulang sih? Kan aku ingin jalan-jalan dan beli kue dady."


"Kue apa? Kok tumben kamu mau beli kue." tanya Danu.


"Buat ayah dan ibu dad, tadi ibu telepon minta di bawakan kue. Jadi selesai makan beli kue lalu kita ke rumah ibu ya." kata Jasmin.


"Ooh, kalau kue sih beli aja sama ...." ucapan Danu terputus.


Dia ingat Laras membuat kue dan menjualnya. Tapi kemudian dia diam tidak meneruskan ucapannya itu.


"Beli di mana? Ada toko kue yang enak di mana dady?" tanya Jasmin.


"Ngga, ada toko kue di pinggir jalan banyak kok. Ya udah nanti kita mampir di toko kue ya setelah selesai makan." kata Danu.


"Aku sudah selesai makannya, kelihatannya dady juga udah kan?" tanya Jasmin.


"Ya udah, ayo kita keluar. Aku bayar dulu di kasir."


Mereka pun keluar, Danu menuju kasir untuk membayar makanan yang dia pesan itu. Setelah selesai, Danu menuju mobilnya dan masuk ke dalam. Dia segera menjalankan mobil menuju toko kue di pinggir jalan.


Banyak toko kue yang berjejer, ada dua toko kue yang di singgahi. Tapi Jasmin sepertinya tidak ada yang cocok dengan kue yang mau dia beli.


"Kata ibu, dia pernah makan kue enak bangey dari temannya. Makanya ibu minta di belikan, nama kuenya red velvet. Katanya enak banget, tapi tadi di dua toko itu ngga ada red velvet." kata Jasmin.


"Ya udah, nanti kita mampir ke toko kue lainnya. Nah, itu ada toko kue lengkap." kata Danu melihat satu toko yang menampilkan pamflet gambar kue-kue lengkap. Mobil dia pinggirkan dan Jasmin pun keluar, Danu ikut keluar tapi dia dapat telepon dari orang suruhannya.


"Halo? Bagaimana?" tanya Danu.


Matanya menatap ke depan, ada seseorang yang dia kenal sedang berjalan dengan seorang laki-laki. Dia menatap keduanya yang sedang tertawa senang. Darah Danu berdesir ketika lelaki itu mengelus kepala perempuan di sampingnya.


Mereka bicara sebentar, dan menyuruh perempuan itu duduk. Laki-laki itu masuk ke dalam toko di mana Jasmin juga ada di dalamnya. Wajah Danu merah padam, dia melihat adegan manis antara laki-laki dan perempuan yang sedang duduk itu.


Danu keluar dari mobilnya, dia tidak fokus mendengar laporan dari orang suruhannya di telepon.


"Nanti aku hubungi kamu lagi."


Klik!


Danu berjalan menghampiri perempuam yang duduk di kursi depan toko. Bertepatan dengan laki-laki bersama perempuan tadi membawa kantong plastik dan memberikannya pada sang perempuan itu.


"Bagus ya, kalian jalan berdua. Sedangkan aku di tinggalkan di rumau?!" kata Danu dengan wajah marah dan memerah menatap perempuan yang sedang duduk.


"Mas Danu sedang apa di sini?" tanya perempuan itu yang tak lain adalah Laras, istrinya.


"Kamu sedang apa dengan laki-laki ini hah?!" teriak Danu pada Laras.


"Jangan berteriak padanya! Laki-laki kasar!" kata Andre yang tadi bersama Laras.


"Diam kamu! Aku tidak peduli denganmu!" bentak Danu pada Andre.


"Mas Danu sudah, jangan ribut di sini." kata Laras merasa tidak enak di lihat oleh orang yang lewat.


"Jadi ini yang kamu lakukan setelah pergi meninggalkan aku di rumahmu?!"


"Mas Danu bicara apa? Aku memang membeli bahan kue, tapi ketemu dengan kak Andre." kata Laras menjelaskan pada suaminya.


"Munafik!" ucap Danu benar-benar marah pada Laras.


Laras diam saja, dia merasa bersalah. Tapi dia heran, kenapa Danu ada di depan toko kue itu?


"Cepat pulang kamu!" kata Danu.


"Belanjaanku ada di mobil mas." kata Laras.


"Mobil siapa?" tanya Danu.


"Ya kak Andre."


"Pindahkan ke mobilku, aku yang akan mengantarmu pulang." kata Danu.


Dia lupa kalau di dalam toko kue itu Jasmin sedang membeli kue. Bahkan sekarang gadis itu sedang berdiri dan melihat suaminya sedang memarahi Laras. Dia pun mendekat dan menatap kesal pada suaminya itu.


"Dady! Apa-apaan sih?! Kenapa dady mengajak perempuan itu?!" tanya Jasmin dengan menatap marah pada Danu.


"Sayang, aku ..."


"Jadi, selama ini dady masih berhubungan dengan perempuan panti asuhan ini?! Iya!?" teriak Jasmin.


"Sayang, dia itu kan ..."


"Cukup dady!"


Jasmin pergi meninggalkan Danu yang bingung dengan semuanya. Dia lupa kalau dia menunggu Jasmin membeli kue di dalam toko. Sedangkan Laras menyaksikan suaminya begitu takut dengan kemarahan gadis yang di bawah usianya. Dia tersenyum sinis, lalu meminta pada Andre untuk segera pergi dari tempat itu.


"Kak Andre, ayo kita pergi." kata Laras.


"Ya, untuk apa meladeni laki-laki munafik dan takut sama anak kecil." kata Andre melirik Danu yang sedang kebingungan dan marah pada Laras.


"Kamu, Laras!"


"Urus istrimu itu mas!"


Setelah Laras dan Andre pergi, kini Danu bingung mau mengejar siapa. Dia lalu memutuskan mengejar Jasmin yang pergi menjauh dari toko kue tersebut dalam keadaan marah padanya.


_


_


*******************