
Jasmin dan ibunya saling pandang, mereka tidak mengerti apa yang akan di tunjukkan oleh Danu pada mereka. Sedangkan Danu masuk ke dalam kamarnya dan mengambil sesuatu. Dia berhenti sebentar menarik nafas kasar, sejenak dia memikirkan apakah dia benar-benar akan bercerai dengan Jasmin istrinya.
Dia membayangkan dan membandingkan antara Laras dan Jasmin. Dua orang berbeda jauh dari segi apa pun, kemudian dia menarik nafas panjang lagi. Membuka laci meja lalu mengambil amplop cokelat. Di pandanginya amplop cokelat itu, lalu di ambil isinya, menatap foto-foto Jasmin yang sedang merangkul Dandy.
Benar-benar Danu semakin bergemuruh amarahnya. Tapi dia bisa menahannya agar tidak meluap.
"Huh! Aku sudah lama mencintai dia, sangat mencintainya. Gadis SMA yang manis dan ceria pertama kali aku bertemu dengannya. Wajah cantiknya ternyata menyimpan segudang rahasia. Berteman liar dengan laki-laki lain, apakah ibumu tahu dengan kelakuanmu?" gumam Danu.
Tidak. Danu tidak sedang menyesalinya, dia hanya menyesal kenapa terlalu mencintai Jasmin begitu dalam. Ada perempuan lain yang selalu setia dengannya, wajah kalem dan selalu menunduk padanya.
Laras, gadis biasa. Meski cantik rupanya, Danu tidak tertarik waktu itu. Belum tahu sifat dan sikap gadis yang di persembahkan oleh ibunya saat menjelang kematiannya. Danu tersenyum, mmebayangkan Laras yang selalu memberinya makan.
Bahkan sikap dinginnya pada gadis itu, tetap saja dia melayani dan selalu mengalah.
"Di mana kamu Laras?" ucap Danu lagi.
Hingga sebuah langkah kaki mendekat padanya, Danu pun segera bangkit dan membawa amplop cokelat yang tadi dia pegang. Jasmin memperhatikan apa yang di bawa oleh Danu.
"Dady sedang apa?" tanya Jasmin.
"Keluarlah, aku ingin memberikan sesuatu padamu." kata Danu.
Jasmin diam, menatap wajah suaminya itu dengan tatapan tidak mengerti. Aneh, menurutnya. Namun, dia pun menurut. Menatap amplop cokelat yang di pegang Danu.
Danu melangkah pergi keluar dari kamarnya, di ikuti oleh Jasmin di belakang. Dengan tenang dan penuh kepastian, Danu melangkah menuju ruang makan. Menemui mertuanya yang sejak tadi menunggunya.
Jasmin berdiri, dia ragu untuk duduk. Danu menatap istrinya itu masih berdiri dan belum mau duduk.
"Duduklah." kata Danu.
Pikiran Jasmin, amplop yang di bawa oleh suaminya itu adalah surat cerai yang harus di tanda tangani. Dia diam masih belum duduk, tapi kenapa suaminya itu mau cerai dengannya?
"Dady, itu apa?" tanya Jasmin masih penasaran.
"Duduk saja dulu, nanti aku tunjukkan sama kamu apa isi amplop ini." kata Danu.
"Tapi dady, aku penasaran ingin tahu apa isinya." tanya Jasmin dengan manja tapi merasa takut.
"Makanya duduk. Aku juga mau tahu bagaimana reaksi kalian dengan isi amplop ini." kata Danu kesal.
"Kalau begitu, jangan tunjukkan lagi!" ucap Jasmin berteriak.
"Kenapa?"
"Itu, surat ceraikan?" tanya Jasmin ragu menatap amplop yang di pegang Danu.
"Hei Danu! Apa yang kamu rencanakan?!"
Kali ini mertuanya yang bicara keras. Dia tidak terima akan perceraian anaknya itu dengan menantunya. Danu tersenyum sinis.
"Ibu keberatan?" tanya Danu.
"Tentu saja! Apa alasanmu mau menceraikan anakku?!"
"Tentu saja ada bu! Makanya perhatikan baik-baik isi amplop ini. Akan aku tunjukkan bagaimana keputusanku ini benar adanya. Dan yang terbaru, baru kemarin aku mendapatkannya!" kata Danu dengan suara lantang.
Jasmin dan ibunya kembali saling pandang, mereka tidak mengerti apa yang di katakan oleh Danu. Dengan wajah memerah, Danu begitu marah sekali. Menatap satu persatu wajah Jasmin kemudian ibu mertuanya.
Danu membuka amplop cokelat itu, lalu mengambil isimya. Dia melempar beberapa foto-foto yang sudah dia tambahkan dari video rekaman kemudian dia jadikan foto.
Dia juga melangkah menuju saming rumah untuk mengambil laptopnya dan menunjukkan video pada kedua anak dan ibu itu.
Sedangkan Jasmin diam seribu bahasa. Ibunya mengambil lembaran foto itu, di lihatnya satu persatu foto-foto anaknya yang sedang tersenyum bahagia dengan laki-laki lain.
Tangan ibu Jasmin gemetar melihat setiap lembaran foto anaknya. Dua foto terakhir itu menunjukkan kalau Jasmin sedang berjoget dan sedang di cumbu oleh laki-laki di diskotek.
Wajah ibu Jasmin memerah, dia menatap anaknya yang sedang menunduk.
"Jasmin! Apa ini?!" tanya ibunya dengan marah.
"Jasmin! Kamu kenapa seperti ini hah?!" tanya ibunya lagi.
Dia mendekat pada anaknya dan menatap tajam padanya.
"Ini kenapa kamu lakukan?! Kamu kenapa?!" teriak ibunya marah dan malu.
Danu melihat istrinya sedang di marahi oleh ibunya. Dia tersenyum sinis. Kemudian dia pun melangkah mendekat, meletakkan lapotop di meja makan dan memutar video terbaru yang dia dapatkan dari Reiga.
Ibu Jasmin mendekat pada Danu, matanya tajam menatap menantunya itu.
"Danu, ini salahkan? Kamu bisa saja membuat foto palsu." kata ibu Jasmin.
"Foto palsu? Tanyakan saja sama anak ibu. Kenapa saya membuat foto palsu?" kata Danu sengit.
Ibu Jasmin beralih pada anaknya dan bertanya lagi, dia memegang bahu Jasmin dan menunjukkan ke wajah gadis itu.
"Jasmin! Jelaskan pada ibu tentang foto ini. Siapa laki-laki yang ada di sini, hah?!" tanya ibunya dengan kesal karena sejak tadi Jasmin diam saja.
Sedang mengintrogasi anaknya, muncul ayah Jasmin dengan membawa kotak makan juga. Dia melihat istrinya sedang memarahi anak gadisnya.
"Bu, apa yang ibu lakukan pada anakmu?!" tanya ayah Jasmin.
Semua mata menatap ke arah sumber suara, Jasmin ketakutan. Tapi dia diam saja, berlari mendekat pada ayahnya dan memeluknya. Ibunya menarik nafas panjang dan membuang muka, karena kesal kenapa anaknya berbuat tidak senonoh dengan laki-laki lain, padahal dia sudah punya suami.
"Ayah." ucap Jasmin lirih.
"Ayah diam saja, ibu sedang bertanya mengenai foto ini!" teriak ibunya.
Ayah Jasmin mengambil lembaran foto di tangan istrinya dan melihatnya satu persatu. Danu, dia diam saja, menyaksikan adegan yang dramatis. Sungguh ironi sekali, anak yang begitu di sayang dan di manja justru berbuat di luar dugaan.
Apa jadinya jika kedua orang tua itu melihat rekaman terbaru anaknya itu. Mungkin akan malu dan pingsan. Akan mengemis padanya meminta maaf.
Ayah Jasmin pun merah padam wajahnya, dia melepas kasar pelukan anaknya. Menatap pada Danu dan kembali melihat semua foto-foto di tangannya.
Jasmin kembali menunduk, dia menangis terisak. Entah kenapa jadi seperti itu, ingin memprotes masalah keuangan pada suaminya. Justru jadi bumerang baginya. Perselingkuhannya dengan Dandy bahkan di ketahui oleh kedua orang tuanya.
"Jasmin! Ayah tidak menyangka kamu berbuat seliar ini!" kata ayah Jasmin.
"Maafkan Jasmin, yah." kata Jasmin lirih.
"Heh! Kamu minta maaf, berarti kamu mengaku salah!" ucap ayahnya.
"Tapi, hanya sebatas itu kok yah." ucap Jasmin berusaha membela.
Danu geram sekali dengan pembelaan Jasmin. Dia mendengus kesal. Lalu memutar video terbaru, dan tersenyum sinis.
"Hanya sebatas ini? Maksudnya kamu hanya berteman saja dan hanya seperti itu? Iya?!" teriak ibunya.
Berharap memang benar adanya, nanti dia meminta maaf pada menantunya.
"Danu, ini semua hanya sebatas berteman. Wajar saja kan berteman anak muda seperti itu." kata ibunya membela Jasmin.
"Oh ya? Dia itu punya suami. Seharusnya bisa menjaga diri, apa ibu buta apa yang di lakukan oleh temannya di foto itu? Dia di cium, tapi dia diam saja. Aku harus memakluminy?" tanya Danu.
"Tapi, mungkin saja dia tidak sadar karena pengaruh mabuk." kata ibunya berusaha membela.
Dia tahu anaknya salah, tetapi setidaknya Danu memaafkan istrinya itu.
"Ibu tanyakan berapa kali dia menginap di rumah temannya? Bahkan kadang satu minggu, dan tanyakan juga kemana dia menginap dan apa yang di lakukan olehnya menginap dengan temannya. Sebelum saya tunjukkan sesuatu yang membuat kalian tidak bisa membelanya lagi." kata Danu dengan tajam.
Ayah dan ibu Jasmin diam, ayah Jasmin bingung kenapa semua jadi seperti itu. Niatnya ingin membawa kotak makan yang tertinggap satu dan membawanya ke rumah menantunya, tapi dia menemukan peristiwa seperti itu.
_
_
******************