
Pagi sekali Danu bangun, dia sholat subuh dan segera mandi. Laras sudah berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan untuk suami dan dirinya serta Dian. Laras membuat nasi kuning dan juga lauk ayam suwirnya, tak lupa kerupuk dan sambal.
Ada saja yang membuat Danu merasa pensaran dengan masakan yang di buat Laras, hingga dia merasa ketagihan makan masakan istrinya itu. Dia masuk ke dapur dan melihat apa yang di lakukan Laras.
"Kamu buat apa?" tanya Danu melihat Laras memasak ayam suwir.
"Masak ayam suwir mas, teman nasi kuning. Cuma ayam suwir dan sambal nanti lauknya." jawab Laras.
"Sudah matang?" tanya Danu.
"Sebentar lagi. Kamu sudah lapar?" tanya Laras.
"Iya, aku harus serega ke kantor." jawab Danu.
"Iya mas, sebentar lagi kok." kata Laras.
Dia menambahkan bumbu dan juga kecapnya, setelah semuanya pas rasanya. Laras mengangkatnya dan memindahkan ke dalam mangkuk. Lalu membawanya ke depan, semuanya sudah lengkap. Danu juga sudah berada di sana, memakan kerupuk dengan pelan.
"Kamu ternyata suka memasak ya." kata Danu.
"Hanya hobi saja mas, dan memang aku suka memasak." kata Laras.
"Kenapa kamu tidak membuka restoran kecil aja?" tanya Danu.
"Belum kepikiran mas, aku masih mau menekuni toko kue saja dulu." jawab Laras.
"Terserah kamu." kata Danu.
Dia mulai memakan sarapan nasi kuningnya, dan seperti biasanya. Dia sangat lahap makan masakan Laras itu, tentu saja Laras sangat senang. Dia juga ikut sarapan dengan Danu, tidak mau di tegur lagi kenapa tidak makan dengannya. Jadi dia pun ikut sarapan.
Setelah selesai, Danu segera mengambil tasnya. Dia akan segera pergi ke kantor dan berpamitan pada Laras.
"Aku berangkat." kata Danu.
"Iya mas, hati-hati." kata Laras menyalami tangan suaminya.
Danu pun masuk ke dalam mobilnya lalu melajukannya menuju kantornya. Laras menatap kepergian suaminya dengan senyum mengembang, lalu masuk ke dalam merapikan kembali sisa makanan tadi.
"Kak Laras, biar aja di situ. Aku mau sarapan juga, nanti aku yang beresi." kata Dian.
"Oh ya udah, kakak mau pergi ke pasar dulu ya." kata Laras.
"Iya kak."
Laras bersiap untuk pergi ke pasar, motor sudah dia keluarkan dan di panasi. Setelah memgambil dompetnya, dia pun segera pergi ke pasar. Membeli stok lauk pauk jika Danu kembali datang dan makan di rumahnya lagi.
_
Sore hari, Danu pulang ke rumahnya. Berharap Jasmin juga pulang ke rumah. Entah kenapa gadis itu jadi semakin jarang pulang, Danu akan bertanya pada istrinya itu. Kenapa sekarang jarang pulang, tidak tahu kewajiban seorang istri. Hingga Danu harus menginap dan pergi ke rumah Laras.
Benar saja, Jasmin sudah ada di rumah. Danu segera masuk ke dalam rumah dan akan mananyakan kemana saja istrinya itu pergi. Sampai di kamar, Jasmin sedang bermain ponsel di atas ranjangnya sambil senyum-senyum sendiri. Danu berdiri di depannya dengan mendengus kesal.
"Kemana saja kamu pergi? Menginap di mana dan sama siapa?" tanya Danu pada Jasmin.
Jasmin mendongak, dia menatap suaminya ya g sedang kesal padanya. Lalu tersenyum sinis dan meletakkan ponselnya di atas kasur.
"Dady kenapa datang-datang marah-marah sama aku?" tanya Jasmin.
"Tentu saja aku marah sama kamu, sudah beberapa hari kamu tidak pulang. Di hubungipun susah, apa maksudmu tidak mau menjawab teleponku?!" tanya Danu yang mulai emosi melihat sikap Jasmin merasa tidak bersalah.
"Heh, apa aku juga tidak pernah tahu. Kalau dady sering pergi ke rumah istri pertamamu itu. Aku malas pulang, karena kamu sering ke rumah perempuan itu. Kamu senang kan berada di sana?!" kata Jasmin menyudutkan suaminya.
"Aku pergi kesana, karena aku kesepian. Setiap pulang kerja, kamu tidak ada di rumah. Siapa yang aku ajak bicara di rumah? Kamu tidak ada, jadi aku pergi ke rumah Laras. Dia melayaniku dengan baik, sedangkan kamu selalu pergi dan menginap entah di rumah siapa. Apa perlu aku ikuti kamu jika pergi ke kampus dan kemana saja, dengan siapa? Aku bisa melakukannya, Jasmin!" kata Danu dengan nada keras.
"Dady membentakku?" tanya Jasmin dengan mimik di buat sedih.
"Bukan begitu, aku bertanya kemana saja kamu pergi? Dengan siapa dan kenapa kamu selalu menonaktifkan ponselmu." kata Danu.
"Hik hik hik, kamu sudah tidak sayang aku lagi dady. Aku sepertinya di nomor duakan olehmu, hik hik hik." kata Jasmin menangis.
"Tidak begitu, aku kesal sama kamu sayang. Beberapa kali kamu selalu menginap di rumah temanmu, dan kamu tidak mau menjawab teleponku. Bagaimana aku tidak marah dan kesal? Aku gelisah sayang." kata Danu mulai melemah suaranya.
"Maafkan aku dady, aku tidak akan pergi lagi." kata Jasmin.
"Sungguh?"
"Ya, tapi dady harus janji." pinta Jasmin.
"Janji apa?" tanya Danu.
"Jangan datang lagi ke rumah perempuan itu, aku tidak suka dady pergi kesana terus. Makanya aku jarang pulang dan menginap di rumah temanku, karena aku kecewa sama dady." kata Jasmin lagi.
Danu menarik nafas panjang, dia menarik tubuh istrinya dan memeluknya. Dia merasa rindu pada istrinya itu, beberapa hari tidak bertemu dan susah sekali di hubungi.
Jasmin tersenyum, dia membalas pelukan suaminya itu lalu mencium pipi Danu. Danu pun membalas ciuman Jasmin lebih dari dia mencium pipinya. Dan terjadilah mereka pergumulan panas, setelah tadi berdebat masalah Jasmin.
Satu jam selesai, Danu segera mandi. Dia sangat lengket sekali. Hatinya bahagia sekarang Jasmin sudah bisa dia rengkuh lagi.
"Kamu janji kan dady, tidak akan datang lagi ke rumah perempuan itu?" tanya Jasmin setelah mereka selesai bercinta.
"Ya, aku janji. Tapi kamu juga janji tidak lagi menginap di rumah temanmu itu. Apa yang kamu lakukan dengan temanmu ketika menginap?" tanya Danu.
"Ya banyak, diskusi dan juga merumpi. Namanya juga cewek dad, pasti merumpilah kerjanya." jawab Jasmin.
"Yakin hanya itu?" tanya Danu.
"Tentu saja, dady tidak percaya?" tanya Jasmin.
"Ya, aku percaya." kata Danu.
Danu masih berada di dalam kamar mandi, sedangkan Jasmin membalas chat di ponelnya. Senyumnya selalu mengembang, membaca chat yang masuk ke ponselnya. Sesekali dia menoleh ke arah pintu kamar mandi, Danu belum selesai mandi.
"Minggu depan honey aku pulang.' begitu chat yang di terima Jasmin.
'Aku tunggu dengan sabar.'
'*Jangan lupa janjimu ya.'
'Tentu saja, kamu jangan khawatir.'
'Oke*.'
Jasmin memgakhiri chat dengan seseorang, siapa lagi jika bukan dengan Dandy. Entah apa yang di bicarakan dalam chat tersebut, tapi Jasmin mempunyai rencana dalam benaknya. Dan entah rencana apa, dia akan membicarakannya dengan Danu nanti malam.
_
_
******************