
Jasmin menatap suaminya dengan nanar, ternyata Danu mengetahui perselingkuhannya dengan Dandy. Tidak menyangka, tiga bulan mengacuhkannya karena dia sudah tahu akan kelakuan liarnya.
Air mata Jasmin pun mengalir, dia mendekat pada suaminya. Ingin meminta maaf padanya, tapi ibunya lebih dulu maju untuk bertanya dan memohon.
"Danu, mungkin itu semua hanya kesenangan semata. Dia masih remaja dan kehidupan remaja kebetulan berteman dengan orang yang salah. Jadi tolong maafkan Jasmin, dia belum tahu kalau itu salah." kata ibunya Jasmin.
"Salah berteman? Seharusnya dia sadar, kalau sudah punya suami. Bahkan aku selalu percaya jika dia menginap di rumah temannya. Ibu tahu kan dia sering menginap? Menginap di mana? Tentu saja di rumah teman laki-lakinya. Dan apa yang mereka lakukan jika dua orang laki-laki dan perempuan satu ruangan?" tanya Danu.
Ibu Jasmin diam, dia ikut menangis ketika Jasmin menangis. Ayah Jasmin diam saja, dia mengakui kesalahannya dalam mendidik anak satu-satunya itu.
"Dady, maafkan aku." kata Jasmin berusaha meminta maaf pada suaminya.
"Heh! Maaf? Kesalahanmu itu sangat fatal, selingkuh bahkan sampai kemarin kamu masih bisa bersenang-senang dengan selingkuhanmu itu di diskotek. Mau aku tunjukkan sesuatu yang membuat kalian pingsan?!" tanya Danu.
Dia sudah muak semuanya, lalu Danu pun memutar video kemarin yang di dapat oleh Reiga. Danu memutuskan terus mneyuruh Reiga mengikuti Jasmin pergi. Dan hasilnya sangat di luar dugaan. Untung saja Reiga tidak kepanasan ketika dia merekam Jasmin dan Dandy sedang melakukan hal nista di dalam diskotek itu.
Danu menunjukkannya pada Jasmin lebih dulu, agar dia benar-benar yakin sekali kalau istrinya itu tidak bisa berkutik. Jasmin sangat syok melihat video itu, dia membuang wajahnya dan menutup mulutnya.
"Cukup dady! Itu memalukan!" kata Jasmin.
"Memalukan! Tapi tingkahmu yang liar itu, apa tidak memalukan?!"
"Hik! Hik! Hik!"
Ibu Jasmin penasaran dengan video yang di tunjukkan oleh menantunya pada Jasmin. Dengan ragu dia pun melihatnya, dan betapa terkejutnya dia ketika melihat video liar anaknya. Mulutnya menganga, tiba-tiba tubuh ibu Jasmin pun ambruk secara perlahan.
"Ibu!"
"Bu!"
Teriak ayah dan Jasmin secara bersamaan. Ibu Jasmin pun pingsan, Jasmin mendekat ibunya, juga ayahnya.
"Bu, sadar bu. Apa yang ibu lihat?" tanya ayah Jasmin.
Danu segera mengambil laptopnya dan menutupnya. Dia genggam laptop itu dan menatap dingin dengan ibu mertuanya yang pingsan karena melihat video asusila anaknya di diskotek itu.
"Ayo Jasmin, bawa ibumu pulang. Kamu cari taksi untuk mengantar pulang ibumu." kata ayah Jasmin.
Jasmin menatap Danu dengan sedih, dia merasa Danu memang berbeda. Tidak ada tatapan cinta untuknya, yang ada kemarahan luar biasa. Air mata Jasmin mengalir, orang yang terlihat diam itu ternyata membahayakan.
"Jasmin!" teriak ayahnya.
Jasmin tidak menggubris, dia mendekat pada Danu dan bersimpuh di depannya. Menangis karena salah telah berselingkuh di belakangnya.
"Dady, maafkan aku. Hik hik hik." kata Jasmin memegangi kaki Danu.
"Maaf katamu? Aku mendiamimu selama tiga bulan agar bisa menyadari akan sikapku selama ini. Uangmu juga aku kurangi, tapi kamu justru masih saja berhubungan dengan temanmu itu. Dan parahnya kamu melakukan itu di tempat keramaian. Di mana otakmu? Menjijikkan sekali!" kata Danu dengan kemarahan yang sudah memuncak.
Dia tidak peduli lagi apa pun. Sudah tidak ada kata cinta atau sayang untuk Jasmin. Jasmin sendiri terisak, dia memang terlalu liar dengan Dandy. Hanya menginginkan uang Danu dan tidak memikirkan bagaimana hancurnya laki-laki itu.
"Maafkan aku dady. Hik hik hik." ucap Jasmin sekali lagi.
"Teruslah lakukan itu, aku tidak peduli kamu seperti apa. Aku sudah mengurus perceraian denganmu. Tunggu saja aku kirim surat perceraian ke rumah ibumu. Jangan pikir aku karena mencintaimu, tapi terus saja di selingkuhi anak kecil. Kamu membutuhkan uangku, tapi kamu selingkuh di belakangku." kata Danu lagi meluapkan semua unek-uneknya.
Meski apa yang di katakan Danu, tetap saja anak mereka di hina.
"Cukup Danu! Jangan teruskan penghinaan pada Jasmin!" teriak ibu Jasmin.
Dia mendekat pada anaknya dan memeluknya. Menangis sedih karena anaknya bersimpuh di depan suaminya. Danu mendengus menatap keduanya dengan sinis.
Sedangkan ayah Jasmin hanya bisa diam, dia merasa salah mendidik anaknya. Kemudian ayah Jasmin mendekat pada istri dan anaknya.
"Bangunlah bu, bawa Jasmin pulang." kata ayah Jasmin.
"Tapi dia menghina Jasmin pak. Jasmin anakku! Aku tidak terima anakku harus bersimpuh di hadapan orang lain." kata ibunya dengan menangis.
"Karena dia salah, dia berdosa pada suaminya. Apa ibu tidak melihat kesalahan anakmu? Tadi ibu pingsan karena melihat apa?" tanya ayah Jasmin kesal pada istrinya itu.
"Tapi dia jangan bersimpuh."
"Itu kemauan dia. Sudahlah, sampai kapanpun salah tetap salah. Jangan membela anakmu itu! Kita bawa saja pulang, dan jangan biarkan dia pergi lagi seenaknya." kata ayah Jasmin.
Jasmin sendiri masih menangis, dia mendongak melihat suaminya yang masih dingin dan membuang muka. Dia lalu berdiri dan mengusap air matanya.
"Aku akan pergi. Aku tidak takut kamu menceraikanku! Kamu sendiri yang akan mencariku!" teriak Jasmin tiba-tiba dengan menatap tajam pada Danu.
Ayah dan ibu Jasmin pun terkejut, mereka pikir Jasmin merasa bersalah. Tapi justru menantang Danu dan marah padanya.
"Jasmin!" teriak ayahnya.
"Baik, pergi dari rumahku! Dan tunggu surat perceraian datang ke rumah ibumu." kata Danu.
Jasmin dan Danu saling tatap. Ibu Jasmin pun hanya menggelengkan kepala dengan sikap anaknya. Dia menarik tangan Jasmin dan membawa keluar rumah. Ayah Jasmin menghela nafas panjang, menatap menantunya yang sebentar lagi akan jadi mantan menantu.
"Maafkan ayah nak Danu. Mungkin ayah yang salah mendidik dia. Dan jangan dendam lagi pada Jasmin. Ayah tidak memintamu untuk tidak bercerai dengan Jasmin. Tapi tolong bercerai dengan baik-baik." kata ayah Jasmin.
"Aku mau bercerai baik-baik ayah. Aku tidak berniat untuk menunjukkan video lebih cepat, ingin menunggu kesadaran Jasmin. Tapi ibu dan Jasmin menuntut uang yang aku batasi selama ini. Dan Jasmin, ayah sendiri tahu dia tidak tahu diri." kata Danu.
"Ya, ayah tahu. Sekali lagi, ayah minta maaf atas kesalahan Jasmin."
"Ayah tidak salah, tapi Jasmin yang salah. Aku tidak akan memaafkan dia begitu saja." kata Danu lagi.
Ayah Jasmin diam, dia lalu berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Danu sendirian di rumahnya. Danu menatap kepergian ayah Jasmin, menarik nafas panjang. Niatnya ingin ke panti asuhan siang ini jadi gagal karena kejadian yang tidak terduga itu.
Danu pun masuk ke dalam kamarnya, rasanya sudah cukup untuk memikirkan Jasmin. Dia harus mencari Laras, kemana pun itu. Dia akan ke panti asuhan lebih dulu, atau ke perpustakaan. Siapa tahu temannya tahu keberadaan Laras.
"Aku akan mencarimu Laras. Akan terus mencarimu." ucap Danu lirih.
_
_
********************