Cinta Suamiku Bukan Untukku

Cinta Suamiku Bukan Untukku
67. Mencari Laras


Danu bersiap untuk pergi di mana Laras tinggal. Jika di hitung-hitung, kemungkinan Laras sudah hamil sembilan bulan. Dan sudah waktunya melahirkan, dia tidak mau Laras melahirkan tanpa di dampingi olehnya. Begitu pikir Danu.


Mobil melaju kencang melintasi jalalan yang ramai akan kendaraan lain. Seakan semuanya berpacu dengan waktu, mereka seperti saling berlomba untuk cepat sampai di tujuan masing-masing.


Begitu juga Danu, dia tidak sabar ingin bertemu dengan Laras. Istri yang selama ini dia abaikan dan di campakkan. Ada rasa menyesal ketika dulu dia benar-benar dengan tega mengusir Laras hanya karena dia membuat kue di dapur bersama dengan teman satu pantinya.


"Maafkan aku Laras, maafkan aku." gumam Danu.


Mobil pun berbelok, dia mencari alamat rumah sesuai nomornya. Kemungkinan alamat rumah yang dia pegang itu adalah rumah kontrakan. Dan sampailah Danu di depan rumah yang tertera di alamat itu, dia melihat rumah kecil yang sepi.


Danu turun dari mobilnya, di pandangi secara bergantian rumah dan alamat rumah di tangannya. Mencocokkannya, lalu dia melangkah menuju pintu rumah yang tertutup. Tampak ada rumah lain yang berjejer itu juga di sebelahnya ada penghuninya.


Dia mengetuk pintu dan mengucapkan salam.


Tok tok tok.


"Assalamu alaikum!" ucap Danu di depan pintu rumah itu.


Tak ada jawaban, Danu sekali lagi mengetuk pintu dan mengucapkan salam kembali. Tetap tidak ada jawaban, sudah sepuluh menit Danu menunggu dan mengetuk pintu.


Seorang ibu-ibu paruh baya bertubuh gempal itu tampak menghampiri Danu. Matanya tajam menatap Danu dan penuh selidik. Danu menoleh padanya dan bertanya tentang penghuni rumah itu.


"Bu, kemana ya penghuni rumah ini?" tanya Danu dengan sopan.


"Kamu siapa?" tanya ibu itu dengan tetap menyelidik matanya.


"Saya ..." Danu tidak melanjutkan ucapannya.


"Siapa?"


"Emm, apa benar di sini tempat kontrakan?"


"Ya."


"Lalu, orang yang mengontrak di sini kemana ya bu?"


"Kamu pacarnya ya? Banyak banget pacarnya." kata ibu itu dengan sinis.


"Pacar?"


"Iya, dia itu banyak sekali pacarnya. Jadi saya usir dia dari kontrakanku!" ucap ibu yang ternyata pemilik kontrakan itu.


Danu mengerutkan dahinya, dia bingung kenapa ibu itu berpikir pacarnya. Apakah memang selain dirinya ada yang datang?


"Bu, tunggu. Ibu tahu siapa yang mengontrak rumah di sini?" tanya Danu memastikan.


Jika benar Laras yang mengontrak, tidak mungkin Laras punya pacar. Danu jadi bingung, tapi dia bertanya lagi.


"Bu, siapa nama orang yang mengontrak di rumah ini?" tanya Danu.


"Namanya Laras kan? Dia hamil besar, selalu saja ada laki-laki yang datang kesini. Aku pikir dia itu gadis tidak baik-baik, di tanya kemana suaminya. Tapi dia hanya bilang sedang pergi. Sebulan lebih dia mengontrak kesini. Karena dia tidak bisa menjawab benar di mana suaminya, akhirnya saya usir. Saya tidak mau rumah kontrakanku ini di huni oleh orang yang tidak baik!" kata pemilik kontrakan itu.


Darah Danu berdesir, dia memejamkan matanya karena marah pada pemilik rumah kontrakan itu.


"Ibu tahu, aku suaminya. Aku memang pergi dan akan kembali padanya, kenapa ibu tega mengusir perempuan yang sedang hamil besar?!"


"Heh! Mana saya tahu kamu suaminya. Ada juga laki-laki yang datang dia mengaku-ngaku temannya. Awalnya mengaku temannya, mana ada teman begitu perhatian pada perempuan itu. Membawakan makanan, dan juga sering mengobrol lama. Jadi saya pikir lebih baik dia saya usir karena tidak bisa menunjukkan buku pernikahan jika memang dia punya suami!" kata ibu pemilik kontrakan lagi.


Kembali Danu diam, dia tertampar rasanya dengan ucapan ibu pemilik kontrakan itu. Benar, Laras dan dirinya tidak pernah mendaftarkan pernikahan mereka di KUA. Karena waktu itu dia sedang tergila-gila pada Jasmin.


Rasanya hati Danu hancur mendengar itu, dia ingin sekali membentak ibu di hadapannya. Mungkin memang tidak semua pemilik rumah kontrakan tidak peduli dengan orang yang mengontrak, tapi ibu itu sangat teliti dan tidak mau mencemari ruamh miliknya dari orang-orang yang mau bersembunyi karena malu.


Tapi Laras tidak seperti itu, dia gadis baik-baik dan penurut. Danu pun mengusap wajahnya kasar, menatap ibu itu sekali lagi yang sedang cemberut.


"Ibu tahu, saya ini suaminya. Saya ingin menjemputnya untuk pulang." kata Danu.


"Kamu mengusirnya?"


"Tidak, tapi dia ...."


"Kalau jadi suami itu yang baik. Jangan membiarkan istri hamil besar kabur, jika dia melahirkan di jalan bagaimana?!"


"Tapi ibu juga mengusir perempuan yang sedang hamil! Kenapa ibu lakukan? Seharusnya ibu tunggu dia melahirkan dulu, baru dia boleh pergi. Sangat tidak manusiawi!" ucap Danu kesal.


"Heh! Anda juga tidak manusiawi! Mengusir istri sedang hamil besar!"


"Ibu!"


Dia berlalu meninggalkan Danu yang sedang bingung. Kemana lagi dia mencari Laras. Rasanya penyesalannya karena banyak salah pada Laras membuatnya ingin sekali berteriak.


"Di mana kamu Laras?" ucap Danu bingung harus mencari Laras kemana.


Kemudian akhirinya dia pun memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Siapa tahu temannya di sana tahu keberadaan Laras, meski itu rasanya mustahil.


Danu masuk ke dalam mobil, dia melajukannya dengan pelan. Sambil berpikir tentang keseharian Laras jika belanja bahan kue kemana saja. Barangkali dia melihat Laras tidak sengaja di jalan, karena sering sekali dia melihat Laras di jalan dengan mengendarai motor.


Tapi rasanya mustahil jika Laras mengendarai motor sendiri dengan perut besar itu. Sepanjang jalan Danu melihat ke setiap sisi pertokoan di pinggir jalan. Berharap dia melihat Laras atau Dian yang biasa membantunya membuat kue.


Sampai mobil sudah jauh dari rumah kontrakan tadi, Danu tidak melihat di setiap toko terlihat istrinya itu. Dia menarik nafas kasar, rasanya dia benar-benar bingung harus mencari Laras kemana.


Akhirnya dia pun tetap pergi ke perpustakaan, dia ingat kalau Laras pernah bercerita jika pemegang perpustakaan itu setiap bulan melaporkan semua keadaan dan keuangan perpustakaan padanya. Danu akan bertanya pada kepala perpustakaan tentang keberadaan Laras.


Sampai di perpustakaan, dia memarkirkan mobilnya. Keadaan perpustakaan sedang ramai pengunjung, jadi Danu akan langsung bertemu dengan kepala perpustakaannya saja. Bertanya apakah pak Robi, kepala perpustakaan pernah bertemu dengan Laras.


Danu masuk ke dalam perpustakaan dan bertanya pada penjaganya.


"Mbak, pak Robi ada?" tanya Danu.


Nita, penjaga perpustakaan teman Laras pun kaget dengan kedatangan Danu secara tiba-tiba. Dia diam menatap Danu.


"Mbak, pak Robi ada?" tanya Danu lagi.


"Ada pak di ruangannya. Pak Danu mau ketemu dengan pak Robi?" tanya Nita gugup.


"Ya." jawab Danu.


Nita pun mengantar Danu menuju ruang kantor pak Robi. Dia mengetuk pintunya dan Nita pun masuk, memberitahu kalau Danu ingin bertemu dengannya.


"Silakan masuk pak Danu." kata Nita.


"Terima kasih."


Danu pun masuk, dia melihat pak Robi berdiri kaget tiba-tiba Danu datang dan ingin bertemu dengannya.


"Silakan duduk pak Danu." kata pak Robi.


"Terima kasih, saya hanya ingin tanya tentang Laras saja. Apa dia pernah datang kemari?" tanya Danu.


"Hanya sekali, dan itu pun tiga bulan lalu. Setelah itu tidak datang lagi. Memangnya ada apa ya pak Danu mencari Laras?" tanya pak Robi.


"Pak Robi tahu kalau saya ini ..."


"Ya, saya tahu. Dan Laras pernah cerita." kata pak Robi.


"Oh ya. Lalu, apa pak Robi tahu keberadaan rumah Laras?"


"Setahuku di BTN itu pak."


"Aah, ya. Dia sudah lama tidak tinggal di sana." kata Danu.


"Ooh, mungkin Nita tahu tentang Laras. Dia itu teman Laras yang paling dekat." kata pak Robi.


"Nita yang tadi itu?"


"Iya. Saya panggil dia dulu pak."


Pak Robi menelepon Nita dan menyuruhnya datang ke ruangannya. Kemudian tak lama, Nita pun masuk. Dia menatap Danu dan pak Robi secara bergantian.


"Ada apa pak Robi memanggil saya?" tanya Nita.


"Kamu tahu rumah tempat tinggal Laras? Kamu pernah menghubungi dia?" tanya pak Robi.


"Kami los kontak pak, sejak tiga bulan lalu. Dan saya belum bertemu Laras lagi." jawab Nita.


Lesu, Danu tiba-tiba lesu. Ternyata Laras tidak datang lagi ke perpustakaan sejak tiga bulan lalu. Akhirnya Danu pun berpamitan pada pak Robi, dia bingung mau mencari Laras kemana.


_


_


*********************