Cinta Suamiku Bukan Untukku

Cinta Suamiku Bukan Untukku
73. Salah Paham


Seperti apa yang di katakan oleh Laras, dia kembali ke rumah BTN yang dulu pernah dia tempati. Dia benar-benar tidak mau pulang ke rumah Danu, entah mengapa. Tapi dia kekeh tidak mau pulang ke rumah itu.


Danu pun mengalah, dia akhirnya tinggal juga di rumah BTN tipe tiga enam dengan Dian juga. Dian merasa tidak enak jika harus serumah juga dengan Danu, tapi Laras yang memintanya tetap tinggal di rumah itu.


"Kak, apa pak Danu mau tinggal di sini? Ada aku, aku merasa ngga enak sama pak Danu." kata Dian.


"Nggak apa-apa. Mas Danu tidak keberatan kok, kamu tenang aja. Lagi pula, dia sedang cari rumah baru yang lebih besar, nanti kita pindah ke rumah baru itu." kata Laras yang sedang mendandani anaknya sesudah mandi.


"Kenapa nggak ke rumah pak Danu saja kak?" tanya Dian.


"Aku nggak mau, Dian. Rasanya akan ingat terus ketika waktu dia mengusirku." kata Laras.


"Tapi, sekarang kak Laras sepertinya menerima pak Danu dengan baik. Bukankah dengan itu kakak sudah lupa dengan masalah pengusiran waktu itu." kata Dian.


"Entahlah Dian, di rumah itu juga banyak kenangan pahit. Meski sekarang kakak menerima mas Danu, tapi kakak belum bisa melupakan kenangan pahit di sana."


"Sewaktu hamil, aku pernah lihat kakak menangis karena merasa kangen sama pak Danu. Jadi, kak Laras cinta ya sama pak Danu?" tanya Dian dengan meledek Laras.


"Apa sih kamu. Kapan kakak menangisi mas Danu karena kangen sama dia." kata Laras dengan wajah memerah.


"Hahah! Jadi benar ya, kak Laras sudah jatuh cinta sama suami sendiri." kata Dian dengan tawanya.


"Memang tidak boleh jatuh cinta sama suami sendiri?"


"Entah. Dian nggak ngerti kak. Tapi pantas saja, kak Laras selalu menolak pak Andre. Padahal kan dia baik lho kak." kata Dian.


"Tapi statusku belum bercerai dengan mas Danu, Dian. Statusku masih gantung, di cerai nggak tapi dia tidak pernah ada." kata Laras.


"Iya sih, kata pak ustad jika masih punya suami tidak boleh terlalu dekat dengan laki-laki lain." kata Dian.


"Nah, itu kamu tahu. Kakak hanya tidak enak kalau sering menolak bantuan kak Andre, jadi kakak hanya menjaga perasaannya saja. Lagi pula, dia tidak pernah sering membantuk kok." kata Laras.


"Tapi katanya pak Andre itu suka sama kak Laras."


"Ya, dulu. Tapi sekarang dia sudah tidak lagi, mungkin pacarnya sudah kembali atau sudah dapat gadis yang lebih baik dariku." kata Laras.


Dian diam saja, dia masih mengaduk bahan yang akan di buat kue. Sekarang masalah kue di serahkan semuanya sama Dian, Laras hanya memantau apakah kue sesuai takarannya atau sudah bagus cara membuatnya.


Kini dia fokus mengurus anaknya yang lebih membutuhkan perhatiannya meski masih kecil. Laras mengurusnya sendiri.


Malam hari pukul tujuh lebih, Danu baru pulang dari kantor. Biasanya dia pulang menjelang maghrib, tapi sekarang pulangnya jam setengah delapan malam. Dia membawa kabar baik pada istrinya, jika rumah yang dia cari sudah di dapatkan.


"Assalamu alaikum." ucap Danu memberi salam


"Wa alaikum salam." jawab Laras.


"Rion belum tidur?"


"Sudah baru saja setelah minum asi." jawab Laras.


"Aku punya kabar baik untukmu." kata Danu.


"Kabar baik apa?" tanya Laras.


"Aku sudah dapat rumah barunya. Kamu pasti suka, kita akan pindah ke rumah baru itu Laras." kata Danu dengan bersemangat.


"Ooh sudah dapat ya." kata Laras.


"Iya. Kamu senang?" tanya Danu.


"Iya." jawab Laras singkat.


Wajah Danu seperti kecewa, karena istrinya itu tidak terlihat antusias mendengar kabar baik darinya. Dia mendekat pada Laras dan memenga kedua pundaknya. Menatap pada wajah istrinya itu, Laras jadi heran dan malu di lihat seperti itu oleh Danu. Dia menunduk.


"Kamu sepertinya kurang suka dengan ucapanku?" tanya Danu masih memegangi pundak Laras.


"Tidak mas, hanya saja ...."


"Apa kamu tidak percaya aku berubah?"


"Aneh bagaimana? Aneh jika aku suka sama kamu?"


"Eh? Bukan itu."


"Sudahlah, aku minta maaf sama kamu. Nanti aku cari lagi rumah lain yang cocok untukmu." kata Danu melepas tangannya dari pundak Laras.


Dia melangkah masuk ke dalam kamar, mengganti bajunya dan hendak mandi. Laras masuk ke dalam kamar, mendekat pada suaminya yang sepertinya sedang kecewa padanya.


"Maafkan aku mas Danu, bukan aku tidak senang kamu sudah dapat rumah. Tapi, apakah akan terus berpindah?" tanya Laras.


"Rumah ini terlalu kecil Laras, kurang baik untuk Rion nantinya." kata Danu


"Iya, Rion juga belum bisa apa-apa mas. Dia terlalu kecil untuk mengerti rumah ini kecil." kata Laras lagi.


"Sudahlah, terserah kamu." ucap Danu sedikit kesal, tepatnya kecewa karena Laras kurang antusias dengan apa yang dia bicarakan tadi.


Danu keluar dari kamar, mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Kebetulan Dian menginap di panti asuhan, jadi kedua suami istri yang sedang salah paham itu tidak di dengar oleh Dian.


Laras sendiri bingung, dia kemudian menyiapkan makanan untuk suaminya. Menunggu Danu selesai mandi di depan hidangan sejak tadi. Tapi Danu belum juga keluar dari kamar mandi, Laras pun menuju dapur dan memanggil suaminya.


"Mas Danu, kamu sudah selesai mandi?" tanya Laras dengan suara keras.


"Belum!"


"Kok lama banget sih mas? Ini sudah hampir jam setengah sembilan. Ayo makan dulu." kata Laras.


"Iya sebentar." jawab Danu.


Laras menghela nafas panjang, kenapa Danu jadi marah tadi. Dia bukannya tidak menerima rumah yang di beli olehnya, tapi jika harus pindah lagi. Apa lagi membereskan barang-barangnya lagi, sangat melelahkan. Begitu pikir Laras.


Tak lama Danu pun keluar dari kamar mandi, wajah datarnya menatap Laras. Membuat gadis itu semakin bersalah.


"Makan dulu mas." kata Laras.


"Ya."


Danu masuk ke dalam kamar, kemudian keluar lagi. Menghampiri istrinya yang sedang duduk menunggunya segera makan. Dia tersenyum senang, karena inilah yang dia harapkan. Selepas pulang kantor, Laras menyiapkan makanan untuknya. Meski dulu sewaktu awal menikah, memang Laras selalu menyediakannya. Tapi dia tidak berselera, karena Laras.


"Kamu masak apa?" tanya Danu.


"Hanya tumis kangkung dan kerang bumbu pedas. Sama ayam krispi bumbu asam pedas mas." jawab Laras.


"Kelihatannya enak." kata Danu lupa dengan kekesalannya.


"Makanlah kalau suka." ucap Laras.


Danu pun makan dengan lahap, Laras melihat dengan senang hati. Memikirkan bagaimana bertanya tentang rumah baru yang di beli oleh Danu.


"Rumah baru itu, di mana tempatnya mas?" tanya Laras pelan.


"Dekat dengan butik ibu dulu." jawab Danu.


"Butik ibu?" tanya Laras heran.


"Iya. Kamu lupa dengan butik yang di wariskan ibu buat kamu?" tanya Danu.


"Aku tidak ingat mas." jawab Laras.


Laras tidak pernah mengingat apapun tentang warisan dari ibu mertuanya itu. Dia hanya ingat ucapan terakhir yang di ucapak oleh ibu Ramona. Jangan meninggalkan Danu, meski apa pun yang terjadi. Dia sudah berusaha dulu tidak pernah meninggalkan Danu, tapi Danu sendiri justru memilih Jasmin saat itu.


Danu menatap istrinya seperti sedang sedih mengingatkan ibunya. Tapi bukan itu yang di pikirkan Laras.


_


_


*********************