Cinta Suamiku Bukan Untukku

Cinta Suamiku Bukan Untukku
36. Hanya Pelampiasan Saja?


"Laras, aku mau hakku." kata Danu dengan suara parau.


"Apa?!" kata Laras kaget.


"Ya, aku mau hakku. Kamu layani aku di sini, kamu masih istriku." kata Danu mendorong Laras pelan.


"Tapi mas, aku ..." kata Laras berusaha menolak.


Meski itu tidak boleh di lakukan, tapi kenapa Danu meminta haknya? Apakah dia sudah berubah pikiran? Mau menerima Laras sebagai istrinya.


Tanpa pikir panjang lagi dan pertimbangan apa pun, Danu membawa Laras ke dalam ranjang kecil itu. Pikirannya dia ingin menuntaskan rada gairah dalam dirinya yang menggebu. Dia ingin segera keluar dari rasa gelisah karena Jasmin tidak memberinya jatah sudah satu minggu ini.


Lagi pula, Danu berpikir Laras masih istrinya. Jadi dia wajar meminta jatah pada istri pertamanya. Meski tidak ada cinta, tapi dorongan kuat untuk bercinta. Di tambah lagi dia tadi melihat Laras yang memakai handuk masuk ke dalam kamarnya. Jadi itu cukup baginya untuk segera menuntaskan hajatnya itu.


Laras sendiri awalnya menolak, tapi Danu terus mendesaknya dan membaringkannya di kasur. Dan akhirnya Laras pasrah, jika suaminya meminta jatahnya untuk melayaninya di atas ranjang.


Satu jam lebih mereka bercinta, Laras sendiri merasa sakit karena itu pertama kali baginya. Danu? Dia sangat senang dan lega, karena kepalanya sudah tidak pusing lagi. Dia tertidur di atas kasur Laras, sedang Laras merasa kesakitan.


Dia melihat Danu tertidur pulas, meski sakit tapi Laras merasa lega. Dan berdoa semoga pernikahannya tetap baik-baik saja, meski Danu masih belum menerimanya sepenuhnya. Tapi setidaknya dia sudah bisa memberi hak pada suaminya itu.


Laras beringsut pelan, dia takut Danu terbangun. Dia akan ke kamar mandi untuk mandi lagi. Rasanya sakit sekali di bagian bawahnya, tapi dia harus segera mandi sebelum sore hari tiba.


Selesai mandi, Laras segera mengambil bajunya dan segera memakai baju di kamar mandi lagi. Dia tidak mau Danu melihatnya hanya memakai handuk saja. Selesai memakai baju, Laras segera membuat makanan untuk suaminya. Ini siang hari, jadi dia akan membuat soto dan juga ayam goreng serta sambal. Tak lupa juga pepes ikan makarel segar.


Semua serba cepat Laras lakukan, agar Danu bangun bisa makan. Berkutat di dapur, dan akhirnya selesai. Melirik jam di dinding, sudah satu jam lebih dia memasak.


"Apa mas Danu sudah bangun?" ucap Laras.


Dia menuju kamarnya, terlihat Danu menggeliat dan bergumam lirih. Laras berdiri di samping ranjang, menatap wajah suaminya dan mulut yang bergumam mengigau.


"Jasmin, kemana kamu pergi." ucap Danu lirih dengan perubahan raut wajah sedih.


Laras terpaku, tangannya mengepal pelan. Di tariknya nafas pelan lalu berbalik dan keluar dari dalam kamarnya. Dia keluar rumah, duduk di kursi depan. Pikirannya sedikit kacau, namun akhirnya dia menyadari kalau Danu datang hanya untuk melampiaskan hasratnya yang tidak bisa di salurkan pada Jasmin.


"Hanya pelampiasan, mas Danu tidak pernah ada dalam hatinya. Hanya gadis itu yang selalu dia sebut." ucap Laras dengan lirih.


Air matanya menganak sungai, matanya menatap ke depan jalanan kompleks perumahan yang sepi. Di usapnya air mata mengalir di pipi, lalu beranjak bangun. Hatinya perih, namun kembali di kuatkan lagi.


Laras masuk ke dalam rumahnya, dia akan menyiapkan makanan ke depan. Agar suaminya bangun bisa makan dengan kenyang. Saat sedang memindahkan makanan, Danu sudah berdiri di pintu tengah menuju dapur. Dia melihat Laras menyiapkan makanan, keduanya saling menatap


Kemudian Laras memutusnya dan tersenyum tipis. Danu menunduk, lalu masuk ke dalam kamar mandi.


"Aku siapkan makan siang mas, nanti setelah di kamar mandi kamu bisa makan dulu sebelum pergi." kata Laras.


"Hemm."


Hanya gumaman jawaban Danu, dia lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi besar. Laras sudah menata makanan di ruang tamu, di atas karpet. Dia belum bisa membeli sofa atau meja makan untuk di dapur, jadi jika mau makan harus di tata di ruang tamu.


Laras menunggu suaminya selesai mandi, sembari menunggu Laras mengecek ponselnya. Melihat pesanan yang masuk hari ini, dan ternyata lumayan banyak. Dia pun tersenyum, hari ini lebih banyak pesanan dari pada kemarin.


"Ahh, lumayan yang pesan kue red velvet juga bronis. Aku pasti akan sedikit kewalahan jika mengerjakan sendiri." ucap Laras membalas pesan masuk di aplikasi online shopnya.


Danu selesai mandi, dia melihat Laras sibuk membalas chat yang dalam pesan singkatnya. Dia pun duduk di hadapan Laras yang masih sibuk dengan ponselnya.


Laras mendongak, lalu tersenyum. Dia kembali membalas pesannya lagi tanpa menanggapi ucapan suaminya.


"Kamu menyiapkan makan untukku?" tanya Danu lagi.


"Iya mas, makan aja." kata Laras.


"Ck, apa aku harus mengambil sendiri?" tanya Danu kesal karena Laras masih saja sibuk dengan ponselnya.


"Oh ya mas, sebentar. Ini ada pesanan yang masuk, aku harus rekap dulu biar tidak lupa dan terlewat." jawab Laras.


Danu mendengus kesal. Dia mengambil air dalam teko dan menuangkannya ke dalam gelasnya. Menenggak isinya hingga tandas, Laras masih sibuk. Dia tidak sabar dan bangkit dari duduknya hendak pergi.


"Mas, kenapa bangun? Kan belum makan." kata Laras.


"Kamu sibuk dengan duniamu, aku suamimu di abaikan. Untuk apa aku makan?!" kata Danu mendengus kesal, Laras bangkit dan menarik tangan suaminya untuk duduk lagi.


"Maaf mas, ayo makan dulu. Setelah itu mas Danu bisa kok pergi lagi." kata Laras.


"Kamu mengusirku?" tanya Danu masih kesal.


"Bukan begitu, maksud aku kalau mas Danu mau pergi nanti setelah makan siang." kata Laras.


Danu akhirnya duduk kembali, dia duduk dan melihat Laras dengan cekatan mengambil makanan untuknya. Makanan yang menggugah selera, dia mengakui kalau masakan Laras itu sangat enak. Dia sendiri entah kenapa bisa kembali lagi ke rumah Laras.


"Ini mas makanannya, di makan." kata Laras menyodorkannya di depan Danu.


Danu mengambinya dan makan dengan lahap. Laras kembali membalas chat dari pelanggan, dia benar-benar sibuk dengan ponselnya. Hingga Danu selesai makan dia masih saja membalas chat pelanggan.


"Aku pulang, buat apa di sini kalau kamu sendiri sibuk dengan ponselmu." kata Danu setelah selesai makan, dia langsung bangkit.


Laras mendongak dan berdiri. Menatap suaminya heran, apa yang di inginkannya? Kenapa dia jadi marah seperti itu, tapi Laras pun mematikan ponselnya. Mencoba menurut apa yang di katakan Danu.


"Aku sudah matikan ponselnya, terus mas Danu mau apa?" tanya Laras.


Danu diam, dia bingung mau apa sebenarnya di rumah Laras. Sedangkan dia sudah makan dan juga sudah mendapatkan jatah dari istri pertamanya itu.


"Mas Danu, apa istrimu di rumah tahu kalau kamu kemari?" tanya Laras takut-takut.


Danu baru sadar, dia lalu bergegas keluar dan segera masuk ke dalam mobilnya. Menancap gas dan meninggalkan Laras yang masih bingung dengan sikap Danu yang aneh. Dia menghela nafas panjang, wajah kecewa jelas sekali terlihat.


"Hanya pelampiasan saja, tidak lebih." ucap Laras lirih.


Dia merapikan piring dan sisa makanan yang tadi di makan Danu, membawanya ke dapur dan mencuci piringnya. Perasaan sedih dan kecewa, tapi dia merasa senang sesaat ketika Danu meminta haknya dan makan di rumahnya. Tapi lagi-lagi dia harus kecewa kalau Danu belum bisa di ajak bicara santai, dia masih ingat dengan Jasmin.


_


_


**********************