
Sejak Danu mengetahui Laras hamil anaknya, dia sembunyi-sembunyi pergi ke rumah Laras. Pulang dari kantor dia percepat dan meluangkan waktunya pergi ke rumah Laras. Sehabis magrib baru dia pulang ke rumahnya.
Laras awalnya tidak peduli dengan kedatangan Danu hampir setiap hari. Tapi dengan seringnya Danu datang meski hanya sebentar dan membawakan makanan yang di ingnkan Laras. Laras jadi goyah, apakah akan mengharapkan suaminya itu bisa membagi waktunya dengannya.
"Kapan kamu periksa ke dokter kandungan?" tanya Danu ketika dia datang berkunjung.
"Minggu depan." jawab Laras memakan spageti yang di bawakan oleh suaminya itu.
"Minggu depan ya. Jam berapa biasanya periksa?" tanya Danu.
"Jam sepuluh pagi. Kenapa kamu tanya-tanya?" tanya Laras.
"Pengen aku ikut mengantarmu periksa kehamilanmu." kata Danu.
Laras diam, dia menatap suamintmya. Lalu mengunyah lagi spagetinya, tidak percaya akan ucapan Danu. Namun, dia senang sekali meski dia ragu akan hal itu.
"Terserah kamu mas. Aku sendiri juga bisa kok, biasanya sendirian." kata Laras belum yakin ucapan Danu.
"Tidak, aku ingin mengantarnya. Kamu bisa meneleponku jika aku belum datang menjemputmu di rumah." kata Danu lagi.
"Aku tidak punya nomor ponselmu." jawab Laras.
"Sini ponselnya, aku akan simpan nomor kamu." kata Danu.
Laras masih diam, tapi Danu mengambil ponsel Laras di meja dan memasukkan nomornya ke ponsel Laras. Laras hanya memperhatikan apa yang di lakukan suaminya.
"Simpan nomorku, jika ada apa-apa kamu bisa menghubungiku." kata Danu lagi.
"Jika menghubungimu malam-malam, apa kamu akan menjawabnya? Atau mau datang ke rumahku?" tanya Laras.
"Aku usahakan." kata Danu.
Laras tersenyum tipis, dia rasanya tidak percaya. Tapi akan dia coba melakukannya jika Danu yang memintanya, meski dia tidak yakin suaminya akan menjawab teleponnya.
"Kamu mengerti kan?" tanya Danu.
"Iya."
"Oh ya, apa teman laki-lakimu sering datang kemari?" tanya Danu.
"Tidak juga. Tapi hanya sesekali dia datang membawa makanan." jawab Laras.
Darah Danu berdesir, dia tidak suka laki-laki bernama Andre teman Laras itu sering datang ke rumah istrinya.
"Kamu jangan menemuinya lagi. Untuk apa dia datang kemari?" tanya Danu.
"Hanya mengobrol, dan memberi makanan cemilan saja." kata Laras lagi.
"Jangan temui dia lagi, kalau datang usir saja." kata Danu.
"Kenapa? Kak Andre baik kok, tidak macam-macam." ucap Laras.
"Ck, kamu istriku. Masih istriku, masih saja tanya." kata Danu kesal.
"Berarti sebentar lagi aku bukan istrimu?" tanya Laras.
"Tidak seperti itu, pokoknya kamu harus menurut sama suamimu. Kenapa kamu sekarang membantah sih?!" kata Danu semakin kesal.
Laras diam, dia menarik nafas panjang. Rasanya jika seperti itu, dia ingin mempercayai kalau dirinya memang sepenuhnya masih istri Danu. Tapi dia seperti tidak yakin dengan ucapan Danu.
Danu melirik jam di tangannya, waktunya dia pulang ke rumah. Bisa jadi Jasmin sudah pulang, karena biasanya dia pulang lebih dulu dari padanya.
"Aku pulang ya." kata Danu.
"Ya." jawab Laras singkat.
Danu menatap perut Laras, dia lalu mendekat pada Laras dan berjongkok. Mencium perut istrinya itu, lalu mengelusnya.
"Jaga dia baik-baik." kata Danu.
"Hemm."
Danu pun keluar dari rumah Laras, masuk ke dalam mobilnya dan melaju pelan meninggalkan rumah Laras. Hatinya merasa senang bisa membuat Laras makan apa yang dia bawa. Meski sikap Laras berbeda, tapi dia senang sekali.
_
Sampai rumah, Danu tidak melihat Jasmin di rumahnya. Dia heran kemana Jasmin, apakah dia masih ada tugas kelompok? Atau mau menginap lagi ke rumah temannya.
"Apa dia menginap lagi?" ucap Danu.
Dia lalu mengambil ponselnya dan menghubungi istrinya itu.
Tuuut.
"Halo? Siapa ini?"
Suara laki-laki yang menjawab telepon Danu, dia tertegun. Tangannya mengepal keras.
"Kamu siapa?!" tanya Danu mulai emosi.
"Aku pacarnya Jasmin. Kamu siapa?" tanya laki-laki di seberang sana.
"Mana Jasmin?!"
"Hei! Jangan berteriak!"
Klik!
Sambungan telepon putus, Danu menatap ponselnya. Dia benar-benar marah sekali dengan laki-laki yang menjawab teleponnya di ponsel Jasmin.
Tak lama, ponsel Danu berdering. Jasmin yang menghubunginya, Danu mendongak. Dia belum menjawab telepon istrinya, dia marah. Tapi akhirnya di jawab juga telepon dari Jasmin.
"Halo, kamu di mana?!" tanya Danu ketus.
"Dady, jemput aku dong." kata Jasmin di seberang sana.
"Tadi siapa yang menjawab teleponku?!" tanya Danu emosi.
"Dia temanku, aku tadi di kamar mandi dan ponselku ketinggalan. Jadi dia asal jawab aja dady." jawab Jasmin.
"Heh, bohong kamu!"
"Dady tidak percaya sama aku?"
"Tapi suara laki-laki itu yang membuat aku tidak percaya. Bahkan dia menutup teleponku!" kata Danu lagi masih marah.
"Ya sudah, kalau dady ngga mau jemput aku. Lebih baik aku menginap di rumah temanku, aku bosan selalu saja di marahi sama kamu dady!"
Klik!
Jasmin menutup sambungan teleponnya, Danu geram sekali dengan sikap istrinya itu. Nafasnya memburu, di tariknya rambutnya secara acak dan berteriak kencang.
"Aaargh! Seharusnya aku yang marah, tapi kenapa dia yang marah padaku. Dan tidak mau pulang ke rumah, sialan!" umpat Danu.
Dia duduk di kursi ruang tamu, hatinya benar-benar kacau. Dia sangat marah sekali pada istri kesayangannya itu, merasa di permainkan oleh anak kecil.
"Dia kurang ajar sekali, mempermainkan aku." kata Danu tanpa sadar mengumpat istrinya.
Di tarik nafasnya dengan kasar, rasanya dia harus menyelidiki kehidupan di kampus Jasmin. Ya, Danu akan menyuruh orang untuk menyelidiki istrinya itu. Siapa saja temannya dan kemana saja dia pergi. Lalu dia menginap di rumah siapa.
"Ya, sebaiknya aku selidiki dia." ucap Danu.
Baru saja dia mengucapkan seperti itu, Jasmin masuk ke dalam rumah dengan wajah kusut. Dia menampakkan wajah kusut dan seperti kelelahan, membuat Danu heran dan lupa dengan rencananya serta kemarahannya itu.
Jasmin langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa mempedulikan suaminya menatapnya. Danu mengejar Jasmin, dia pun ikut masuk dan penarasan kenapa istrinya itu kusut dan seperti ada masalah.
"Jasmin, sayang." panggil Danu mengejar istrinya masuk ke dalam kamar.
Dia melihat Jasmin berbaring di atas ranjangnya dengan tengkurap. Entah apa yang di pikirkan. Danu mendekat dan memegangi tubuhnya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Danu.
"Aku pusing." jawab Jasmin.
"Pusing kenapa?" tanya Danu lagi.
"Pusing karena dady selalu curiga padaku. Kenapa tidak percaya sama aku." kata Jasmin lagi.
"Tapi tadi siapa yang menjawab teleponku? Dia mengaku pacarmu, apa kamu punya pacar di kampusmu?" tanya Danu.
"Aku sudah bilang, dia temanku yang selalu bersikap nyeleneh. Kenapa dady masih tidak percaya sih" kata Jasmin kesal.
"Oke, kali ini aku percaya. Tapi selanjutnya, aku tidak tahu lagi." kata Danu.
"Terserah dady!" ucap Jasmin.
Danu pun pergi ke kamar madi, dia segera mandi kali ini. Sedangkan Jasmin tersenyum sinis, merasa bisa membodohi lagi suaminya.
_
_
*********************