
Sudah satu bulan Laras dan Danu pindah ke rumah baru mereka. Semua nampak senang, baik Laras atau pun Danu kini mereka saling menyayangi. Jika sudah sore, Danu selalu pulang cepat karena ingin bermain dengan anaknya Rion.
Anak laki-laki Danu sudah berusia dua bulan lebih. Tubuhnya sudah gembul dan sangat menggemaskan. Danu lebih sering pulang cepat dan jarang sekali dia berkumpul dengan para karyawan bank, lebih senang bermain dengan Rion.
Minggu ini, Danu sedang libur kerja. Dia selalu bermain dengan anaknya, sedangkan Laras sibuk di dapur dengan Dian membuat kue-kue pesanan pelanggan.
"Kak, sekarang pak Danu sangat baik ya. Sering pulang cepat dan sering juga main sama Rion." kata Dian.
"Iya. Aku senang mas Danu sekarang lebih berubah. Dia senang sekali bermain dengan Rion." kata Laras.
"Apa kak Laras bahagia?" tanya Dian.
"Ya Dian. Kakak bahagia, seperti ini yang kakak inginkan. Mas Danu selalu ada setiap hari, bermain dengan Rion. Semuanya aku impikan, sudah aku dapatkan sekarang." kata Laras dengan senyum bahagianya.
"Apa kak Laras pernah tanya, bagaimana mantan istrinya itu?" tanya Dian lagi.
"Aku tidak berani bertanya tentang Jasmin sama mas Danu. Mungkin itu sangat menyakitkan baginya, dia hanya bercerita kalau dengan Jasmin sudah bercerai. Itu saja, tidak menceritakan masalah apa yang membuat mereka cerai, aku tak pernah menanyakannya. Biar saja itu jadi urusan mas Danu, aku tak mau mencampurinya." kata Laras lagi.
Meski dalam hatinya dia selalu ingin bertanya, tapi Danu tidak pernah menyinggung Jasmin. Jadi, dia menghargai privasi suaminya. Mungkin hal yang menyakitkan baginya, tidak perlu di ungkit lagi.
_
Setelah menidurkan Rion, Laras pun beranjak naik di atas ranjangnya. Danu masih berkutat dengan laptopnya, hari ini sangat lelah bagi Laras. Dia ingin cepat tidur, tapi suaminya belum juga menyelesaikan pekerjaannya. Jadi, dia pun bermain ponsel.
Sepuluh menit, Danu selesai. Dia menutup laptopnya dan segera naik di atas ranjang dengan istrinya. Dia melihat Laras sedang bermain ponsel dan matanya hampir menutup.
"Kamu sudah mengantuk?" tanya Danu ketika dia masuk ke dalam selimut.
"Oh, ngga mas. Nunggu mas Danu selesai." jawab Laras mengucek matanya.
"Kalau mengantuk, tidur saja." kata Danu.
"Sekarang nggak kok." jawab Laras meletakkan ponselnya di nakas.
"Kalau tidak mengantuk, aku ingin cerita sama kamu."
"Cerita? Masalah apa?"
"Tentang perusahaan Manahakam Corps."
"Perusahaan siapa itu mas?" tanya Laras.
"Kamu lupa?"
"Lupa apa? Lha, kan aku tanya perusahaan siapa itu?" tanya Laras, dia memang lupa dengan perusahaan itu.
"Itu perusahaan bersama milik ibu dengan temannya. Sahamnya kan kamu yang punya, di kelola oleh teman ibu. Aku belum pernah berkunjung ke perusahaan itu dan bertanya tentang masalah saham itu." kata Danu.
Laras diam, dia masih belum mengerti masalah saham atau apa pun itu. Ternyata memang dia lupa, kalau sebagian saham perusahaan Manahakam Corps itu sebagian ada milik Laras yang di berikan oleh ibunya sebagai warisan.
Danu pun akhirnya menceritakan kembali tentang saham perusahaan itu, hingga Laras akhirnya ingat kalau dia juga memiliki saham di perusahaan tersebut.
"Aku ngga mengerti mas, kamu saja semua yang mengurusnya." kata Laras.
"Sekarang anak kita sudah lahir, nanti kita datangi direktur utamanya. Dia teman ibu juga, dan sejak kematian ibu belum pernah bertemu. Aku ingin mengurusnya, dan juga keluar dari kantor bank." kata Danu.
"Maksudnya kamu mengeluarkan diri dari kantor bank itu?"
"Ya, dan mau mengurus perusahaan itu." kata Danu.
"Terserah kamu saja mas. Itu semua milikmu kok."
"Tidak, sebagian milikmu. Jadi aku hanya bekerja atas namamu, atau kamu yang akan bekerja di sana?" tanya Danu.
"Terus, kalau aku kerja. Siapa yang jaga Rion?" tanyq Laras.
"Ada Dian. Dia bisa menjaga Rion." ucap Danu lagi.
Danu diam, dia menatap istrinya kemudian tersenyum. Satu lagi yang membuat dia merasa yakin kalau Laras adalah istri dan ibu yang baik. Dia memang tidak salah untuk mencari Laras dan sekarang membahagiakannya.
"Benar, tapi bisa kamu pertimbangkan Laras?" tanya Danu mencoba menggoyahkan pemikiran istrinya itu.
"Tidak mas, aku tidak mau. Biar saja itu jadi urusan kamu. Urusan pekerjaan di luar rumah itu tugas kamu, sedangkan aku di rumah mengurus anak. Bagiku itu sudah cukup." kata Laras.
"Tapi jika ada yang naksir sama aku?" tanya Danu memancing lagi istrinya.
"Tergantung kamu."
"Kok tergantung?"
"Ya, jika kamu tertarik sama perempuan lain. Ya, aku tidak akan memaksa mas. Aku yang akan pergi, karena kamu sudah tidak butuh aku lagi kan." kata Laras.
Danu diam, dia memeluk Laras erat. Sebegitu pasrahnya istrinya itu tentang dirinya. Meski dia tahu itu akan sakit, tapi memang Laras tidak mau berharap pada orang yang tidak menginginkannya.
"Maaf, aku hanya mengetes kamu saja. Aku tidak akan meninggalkan kamu lagi kok. Sungguh. Bagiku, kamu dan Rion adalah segalanya." kata Danu.
Laras diam, dia tahu itu. Suaminya tipe laki-laki setia, dia tidak akan tergoda dengan perempuan lain. Tetapi jika itu terjadi, maka dia yang akan pergi sendiri. Seperti dulu, menjauh dari Danu. Begitu kira-kira yang di pikirkan Laras jika itu terjadi.
"Aku tahu kamu sudah berubah mas. Dan, aku juga senang dengan perubahan kamu itu." kata Laras.
"Hanya senang?"
"Bahagia juga."
"Yakin?"
"Ya, tentu saja. Kamu sudah memberikan aku semuanya, kecuali satu ..." kata Laras.
"Apa?"
Laras diam, dia tidak berani mengatakannya. Berharap suaminya itu tahu apa yang dia maksud.
"Kecuali apa Laras?" tanya Danu penasaran.
"Nanti kamu tahu sendiri mas." kata Laras tersenyum.
"Kamu membuatku jadi tambah berpikir."
"Jangan di pikirkan. Nanti kalau sudah tahu, katakan saja ya." kata Laras tersenyum.
"Kok bikin tebak-tebakan sih?"
"Sudahlah mas, jangan di pikirkan. Aku hanya bercanda kok." kata Laras lagi, dia tidak mau suaminya terus bertanya.
"Yakin cuma bercanda?"
"Iya. Sudah, aku mau tidur." kata Laras merubah posisinya untuk tidur.
Tapi di cegah oleh Danu agar jangan tidur dulu. Dia masih penasaran dengan ucapan Laras itu.
"Tunggu dulu, kamu jelaskan itu kecuali apa?"
"Ish, kok masih itu aja sih. Kan aku sudah bilang hanya bercanda mas, udah deh. Aku ngantuk, mau tidur." kata Laras.
Danu diam, dia masih memikirkan apa yang di katakan oleh Laras itu. Kecuali apa?
Dia menatap istrinya yang sudah terpejam, memang sejak tadi dia sudah mengantuk sekali dan segera tidur. Danu pun akhirnya mencoba tidur, tapi pikirannya masih memikirkan ucapan Laras.
_
_
********************