Cinta Suamiku Bukan Untukku

Cinta Suamiku Bukan Untukku
69. Di Pemakaman


Reiga pun meluncur menuju alamat yang sudah dia dapatkan. Memang agak jauh tempatnya, tapi yang terpenting bisa melihat wajah pemilik toko online di sosial media tersebut. Dia berharap orang yang akan dia jumpai itu adalah Laras, istri dari Danu.


Motor melaju kencang agar bisa sampai lebih cepat. Jika di tempuh dengan menaiki mobil umum maka akan memakan waktu dua jam setengah, tapi Reiga naik motor dan mengendarai dengan kecepatan delapan puluh perkilo meter rata-rata.


Jadi bisa sampai satu jam di alamat tersebut. Dia berharap Danu bisa menemukan istri pertamanya itu. Menurut Rizwan, memang Danu punya dua istri. Tapi satunya istri di jodohkan dan yang pertama dia selidiki istri yang dia cintai.


Memang aneh cinta itu, kenapa ada yang lebih baik. Malah justru mencari yang tidak baik, dari segi perlakuan dan pergaulan Jasmin memang tidak baik. Bahkan liar, entah kedua orang tuanya tahu atau tidak. Begitu pikir Reiga.


"Hampir sampai, aku harus mencari-cari secara pelan. Rumahnya seperti masuk gang." gumam Reiga.


Dia membelokkan motornya dan masuk sebuah gang sempit, tapi motor bisa di lalui. Reiga menjalankan motor dengan pelan, mengingat-ingat alamat rumahnya. Ponsel dia genggam untuk memastikan alamat rumah itu.


Ternyata gang itu dekat dengan TPU, sepanjang jalan memang terlihat pemakaman umum. Dia kembali melihat alamat di ponsel, dan tampak rumah-rumah berjejer. Reiga bingung, kemudian dia bertanya pada orang yang lewat.


"Permisi pak, mau tanya. Apa bapak tahu alamat rumah ini?" tanya Reiga menunjukkan ponselnya.


"Ooh, itu sebentar lagi. Yang bercat hijau mas. Yang ada motor scoopy biru itu." kata bapak tadi.


"Oh terima kasih pak. Tapi, benar kan pemilik rumah itu menjual kue?"


"Iya mas, kuenya enak. Orangnya juga baik." kata bapak itu lagi.


"Baiklah pak, terima kasih ya."


"Ya mas, sama-sama."


Reiga menjalankan motornya lagi pelan, mencari alamat rumah yang di tunjukkan bapak tadi. Dan benar saja, ada rumah bercat hijau dan ada motor scoopy biru di depan. Ragu Reiga, tapi kemudian dia pun memarkirkan motornya di depan pagar rumah bercat hijau itu.


Rumahnya kecil dan atapnya juga agak rendah. Seperti rumah orang dulu. Reiga melihat-lihat seluruh rumah itu, dia masuk karena pagar di depan tidak di tutup. Melangkah menuju pintu dan mengetuknya.


Tok tok tok


"Permisi! Assalamu alaikum."


Ceklek!


"Wa alaikum salam. Ada apa ya mas?" tanya gadis yang membuka pintu.


"Emm, benar ini yang jual kue ya?" tanya Reiga ragu.


Karena gadis di depannya itu bukan orang yang dia cari dan juga tidak sedang hamil.


"Iya. Kenapa mas? Mau pesan juga?" tanya gadis itu.


"Saya sudah pesan sih mbak, melalui aplikasi. Saya sengaja datang sendiri kemari mau ambil pesanannya." kata Reiga.


"Ooh, ya ya. Sebentar ya, mas yang di sosmed itu?"


"Iya. Saya yang minta datang sendiri kemari."


"Tunggu ya, sudah di siapkan sih. Sebentar saya ambil dulu." kata gadis itu masuk.


"Iya mbak."


Reiga jadi pesimis, bukan dia ternyata. Tapi kata pak Danu, dia bersama dengan seorang gadis. Tak lama, gadis tadi pun keluar lagi dengan membawa kantong plastik besar berisi kue pesanan Reiga.


"Ini mas kuenya, semuanya lima puluh ribu." kata gadis itu.


"Oh ya mbak."


Reiga merogoh saku celananya dan mengambil uangnya. Saat dia mengambil uang, keluar dari dalam rumah tampak perempuan yang bertubuh sedang hamil tua. Reiga menatap perempuan itu keluar dan bicara pada gadis itu.


"Dian, aku ke makam dulu ya. Nanti kamu antar saja kue-kue yang sudah di pak tadi." kata perempuan itu.


"Iya kak Laras. Motornya mau di bawa?" tanya Dian.


"Ngga, kamu aja yang pakai. Aku jalan kaki aja kok. Lewat belajang biar cepat sampai." kata Laras.


"Terima kasih mas." kata Dian.


"Oh ya mbak. Emm, mau tanya. Itu ibu pemilik toko kuenya ya?" tanya Reiga.


"Iya mas, kasihan sedang hamil dan dia ..."


"Kenapa?"


"Oh, ngga kok mas. Masnya kok rela datang kemari sih? Kan bisa lewat layanan pesan antar." kata Dian.


"Emm, ngga apa-apa. Pengen tahu aja tempatnya, kalau enak kuenya bisa datang lagi kemari. Heheh." kata Reiga.


"Oh ya."


"Saya permisi dulu mbak." kata Reiga berpamitan.


"Iya mas."


Reiga buru-buru keluar dari rumah itu. Dia ingin mengejar Laras dan mengikutinya kemana dia pergi dengan perut besar itu. Tadi dia mengatakan mau ke makam. Makam siapa yang dia kunjungi?


Reiga melihat Laras berjalan menuju makam melalui jalan kecil dan ada pintu masuk. Dia berjalan cepat agar cepat sampai di makam, tangannya membawa keranjang bunga tabur. Agak susah dia berjalan karena perut besarnya itu.


"Hemm, jadi ibu Laras ini yang di cari pak Danu. Kasihan sekali dia sampai pergi dari rumah suaminya. Apa sebenarnya yang terjadi?" ucap Reiga mengikuti Laras dari belakang.


Jaraknya agak jauh. Reiga memarkirkan motornya di tempat sepi dekat makam juga. Lalu dia mengikuti Laras dari jarak lima meter, agar tidak ketahuan. Dan sampailah Laras di sebuah makam berbatu dengan nisan keramik.


Dia berdiri dan memandangi makam tersebut. Di ambilnya bunga dalam keranjang, lalu air dalam botol di siramkan di atas kuburan tersebut. Kemudian dia duduk di atas batu agak besar masih menatap makam tersebut, kerudung panjangnya di rapihkan.


Reiga masih memperhatikan Laras dari jauh yang sepertinya sedang membacakan doa untuk penghuni kubur. Dia lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Danu.


Tuuuut.


"Halo?"


"Saya sudah menemukan ibu Laras pak Danu." kata Reiga masih memperhatikan Laras dari jauh.


"Di mana? Aku ingin segera kesana!"


"Di pemakaman pak, dia sedang berkunjung di makam seseorang." jawab Reiga.


"Makam? Di TPU?"


"Iya."


"TPU apa?"


"TPU Makam Panjang. Nanti saya kirim alamatnya ke pak Danu.


"Tidak usah, aku tahu TPU itu. Jaga dia jangan sampai dia pergi lagi. Tunggu aku akan datang kesana."


Klik!


Danu menutup ponselnya dengan cepat. Reiga masih menunggu Laras selesai berdoa di makam tersebut. Jika pun selesai, dia bisa memberitahu rumah Laras yang dekat makam itu.


Terlihat Laras sedang mengaji sebentar, Reiga memperhatikan sepertinya Laras memang istri yang baik. Entah kenapa Danu menyia-nyiakan istri sebaik Laras itu.


"Kenapa pak Danu memilih gadis seperti Jasmin di bandingkan dengan ibu Laras? Dia sepertinya seusiaku, masih muda. Memang berbeda jauh dengan Jasmin, tapi mungkin pak Danu memilih gadis yang punya keluarga utuh. Sedangkan ibu Laras, hanya dari panti asuhan. Entahlah, kenapa bisa ibu Laras menikah dengan pak Danu." ucap Reiga masih memperhatikan Laras yang sedang mengaji di depan makam itu.


_


_


******************