
Danu sampai di rumahnya, keadaan rumah sangat sepi. Selama pernikahannya dengan Jasmin, hanya tiga bulan dia merasakan kebahagiaan dengan Jasmin. Semenjak Jasmin kuliah, gadis itu banyak berubah.
Ada saja alasan ketika Danu meminta jatah malamnya, sering menolaknya. Membuat Danu semakin kecewa pada istrinya itu. Meski memag kadang meladeni Danu, tapi itu tidak lama. Karena Jasmin meminta tidak terlalu lama meminta jatahnya.
Danu mengambil ponselnya, dia menghubungi istrinya itu. Berharap Jasmin mengangkatnya, sejujurnya Danu sangat merindukan istri kecilnya itu. Tapi dia tidak bisa berkutik ketika Jasmin berkata atau marah padanya. Hal yang paling dia benci adalah menuruti kemauan Jasmin, meski dia sering menginap di rumah temannya.
Hari ini, seperti biasa Jasmin bersiap berangkat ke kampusnya. Dia sudah janjian dengan temannya yang bernama Dandy itu, menjemputnya tidak di depan rumah Danu. Tapi di pos satpam kompleks ketika Danu nanti sudah pergi lebih dulu.
"Sayang, ayo kita berangkat. Sudah siang, pagi ini aku ada rapat penting." kata Danu menyeruput kopinya hingga habis.
"Aku berangkat sendiri dady, naik taksi online aja." kata Jasmin memakan roti panggangnya.
Hampir setiap hari dia dan Danu sarapan roti panggang, karena Jasmin tidak bisa memasak untuk sarapan pagi. Danu tidak masalah, terkadang dia membuat mie rebus untuk sarapan. Kalau masalah sarapan, tidak masalah baginya.
Karena di kantor juga dia akan makan siang yang dia pesan pada OB di kantor. Danu diam, menatap istrinya heran. Kenapa dia sekarang tidak mau di antar ke kampus?
"Kok kamu sekarang jadi menolak di antar sih? Kenapa? Apa kamu janjian sama temanmu berangkat bareng ke kampus?" tanya Danu mulai curiga.
"Ih, dady jangan curiga. Aku hanya ingin naik taksi aja, kalau aku di antar dady ke kampus. Nanti dady ajak aku ngobrol, padahal nanti ada kuis di kelas. Aku mau menghafal poin-poin di jalan aja." kata Jasmin merajuk manja.
"Biasanya ngga begitu, kamu selalu minta jemput. Minta di antar, kenapa sekarang malah mau naik mobil taksi?" tanya Danu lagi.
"Kalau dady curiga begini, mana bisa aku fokus kuliah? Dady sendiri kenapa belum menceriakan istri pertamamu itu?!" tanya Jasmin kini menyudutkan Danu.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, aku tanya kenapa naik mobil taksi. Kok malah tanya kenapa ngga menceraikan Laras. Aku butuh perhatian, kalau kamu sering sibuk sendiri. Siapa yang memperhatikan aku? Kamu istriku sayang, aku butuh perhatianmu." kata Danu mengalihkan pembicaraan tentang Laras.
Dia belum mau menceraikan Laras, sedangkan dia butuh di layani. Tapi Jasmin belum bisa melakukan itu, dia sadar sikapnya itu tidak bagus.
"Ck, sudah sana berangkat. Aku tetap naik taksi online, dady tidak bisa melarangku." kata Jasmin kekeh mau berangkat dengan taksi.
Danu menghela nafas panjang, dia melirik jam di tangannya. Sudah siang, dia ada rapat pagi ini. Jadi akhirnya dia mengalah, dari pada berdebat masalah mengantar Jasmin ke kampus.
Akhirnya dia segera mengambil tasnya di kamar, lalu dengan langkah cepat tanpa pamit pada Jasmin dia masuk ke dalam mobilnya. Pikirannya kembali kacau, entah kenapa baru beberapa minggu kuliah Jasmin banyak sekali berubah.
"Apa aku harus menyelidiki dia? Dia terlalu mencurigai jika selalu menolakku dan sekarang tidak mau di antar ke kampus." ucap Danu menatap ke dalam rumah.
Jasmin belum keluar dari rumahnya, dia menunggu Danu pergi dari halaman rumah. Dan tak lama mobil Danu pun segera keluar pagar rumah menuju kantornya. Sekretarisnya sudah menghubungi kalau rapat pagi akan segera di laksanakan.
Sedangkan Jasmin sudah bersiap, dia menelepon seseorang.
"Kamu sudah siap?"
"Ya, Dandy. Suamiku sudah pergi, kamu ke depan rumahku aja. Aku segera keluar." kata Jasmin di telepon.
"Oke."
Klik!
Jasmin segera mengambil tas dan memakai sepatunya. Dia sangat cantik hari ini, Danu menyadari perubahan penampilan Jasmin berbeda, dandanannya juga berubah. Sedikit terbuka jika tidak memakai jaket levis atau jeansnya.
"Kamu cantik." kata laki-laki itu.
"Terima kasih." kata Jasmin.
"Sayang banget ya." kata Dandy.
"Sayang kenapa?" tanya Jasmin.
"Kamu sudah punya suami. Padahal kamu masih muda, bisa senang-senang dulu. Kenapa nikah muda?" tanya Dandy.
"Emm, aku suka banyak uang. Heheh." kata Jasmin.
Dia naik motor, bonceng di belakang Dandy. Dandy berpikir, maksud Jasmin itu apa?
"Maskud kamu, kamu menikah dengan laki-laki dewasa itu karena uangnya?" tanya Dandy.
"Emm, ya. Bagiku cinta untuknya sudah mulai pudar, tergantikan dengan ..." ucapan Jasmin terputus, melirik Dandy yang tersenyum tipis.
"Di ganti olehku?" tanya Dandy.
"Emm, iya ngga ya? Hahah!"
"Ish, kita sudah melakukan itu. Jadi sudah pasti cintamu untukku." kata Dandy.
"Kalau sudah tahu, kenapa tanya."
"Hanya menebak aja. Malam ini kamu mau menginap lagi?" tanya Dandy.
"Boleh, kita bisa melakukan itu lagi kan?" tanya Jasmin.
"Tentu, apa pun aku akan melakukannya. Kamu cantik dan ..."
"Apa?"
"Seksi."
"Hahah!"
Motor Dandy melaju pelan, Jasmin merangkul pinggang Dandy agar tidak jatuh, dia memeluk erat pinggang Dandy tersebut. Dalam hati, sangat menyenangkan berduaan dengan Dandy. Tidak dengan Danu dulu, sangat kaku sekali ketika berpacaran dengannya.
Meski selalu menuruti keinginannya, Danu sangatlah kaku. Dia tahu Danu sangat mencintainya, makanya dia memanfaatkan rasa cintanya untuk selalu meminta uang padanya. Tapi sekarang dia merasa khawatir jika dia jalan dan berhubungan dengan laki-laki lain.
_
_
****************