
Danu bingung, antara marah sama Laras dan Andre yang pergi meninggalkannya. Kemudian dia juga mengejar Jasmin yang sekarang entah kemana perginya.
"Aaargh! Sialan, kenapa semuanya jadi membuat kesal sih!" umpat Danu.
Dia kembali ke tempat semula, menaiki mobilnya dan mencari kemana Jasmin pergi. Dia melihat Jasmin menaiki motor, entah motor siapa. Yang jelas di depannya itu seorang laki-laki. Danu menggeram kesal, memukul setir mobilnya dengan berteriak kencang.
"Aaaargh!"
Danu berteriak kencang, melajukan mobilnya entah kemana. Pikirannya benar-benar-kacau, dia mengambil ponselnya dan menghubungi Jasmin. Tidak aktif, dia mencoba lagi menghubungi istrinya itu.
"Kemana dia?" ucap Danu.
Pikirannya pun tertuju pada ruam mertuanya, dia membelokkan mobilnya menuju rumah mertuanya. Ayah dan ibu Jasmin, berharap di sana Jasmin ada. Sepuluh menit mobilnya sampai di depan rumah mertuanya. Dia turun setelah mobip berhenti.
Bergegas melangkah menuju pintu dan mengetuknya dengan keras.
Tok tok tok.
Danu mengetuk pintu dengan cepat. Tak lama pintu terbuka, berdiri laki-laki berkumis tipis. Ayah Jasmin berdiri dengan wajah dingin. Tebakan Danu Jasmin ada di rumah ibunya. Dia menunduk lalu menarik nafas panjang.
"Ayah, apa Jasmin ada di dalam?" tanya Danu.
"Kenapa? Apa kalian sedang bertengkar?" tanya ayah Jasmin masih bersikap dingin.
"Tidak ayah, Jasmin salah paham sama aku. Apa aku boleh masuk ke dalam?" tanya Danu
"Kalian ini, baru juga satu tahun menikah. Tapi kenapa selalu saja bertengkar. Apa yang kalian ributkan?" kata ayah Jasmin.
"Tidak ayah, kami tidak ribut. Hanya saja kali ini kami salah paham." kata Danu mencoba menjelaskan pada mertuanya.
"Ck, seharusnya kamu itu mengerti kalau Jasmin itu masih remaja. Jika di sering ngambek, harusnya kamu mengalah. Jangan malah kalian bertengkar." kata ayah mertua Danu.
Danu bersyukur ayah mertuanya tidak banyak mengetahui tentang Laras. Dia pun menunduk dan memohon lagi agar bisa di izinkan masuk dan menemui istrinya.
"Saya bisa masuk kan ayah? Menemui Jasmin untuk menjelaskan semuanya." kata Danu lagi.
"Masuklah, tapi ingat. Jangan sampai membuat dia menangis lagi, ayah sudah bosan mendengar cerita pertengkaran kalian berdua." kata ayah Jasmin.
Danu heran, kenapa Jasmin bercerita mereka sering bertengkar? Bukankah itu karena anaknya yang sering menginap dengan temannya. Entah siapa temannya itu, Danu belum menanyakan pada orang yang dia suruh untuk menyelidiki Jasmin.
Dia ingin membujuk Jasmin lebih dulu, baru nanti dia akan bicara mengenai Laras. Ayah Jasmin pun mengizinkan Danu masuk, dia senang mertua laki-lakinya itu lebih bijak. Dia masuk ke dalam, berpapasan dengan ibu mertuanya yang menatapnya tajam.
"Kamu berani datang setelah menyakiti anakku?" tanya ibu Jasmin.
"Jasmin salah paham bu, tolong izinkan saya bicara dengannya." kata Danu memohon.
"Kamu tahu kenapa Jasmin sering kabur darimu?" tanya ibu mertuanya.
"Kenapa bu?" tanya Danu.
Ibu Jasmin diam, masih menatap menantunya yang kebingungan dengan ucapannya. Dia hendak bicara lagi, tapi di halangi oleh suaminya.
"Biarkan bu Danu bicara sama Jasmin. Mereka harus menyelesaikan urusannya itu, jika suaminya itu menyakiti anak kita lagi. Maka kita harus bertindak." kata ayah Jasmin itu.
Danu semakin bingung dengan ancaman kedua mertuanya itu. Namun begitu, dia hanya diam saja. Saat ini dia ingin bicara pada istrinya, dan Danu pun masuk ke dalam kamar Jasmin.
Dia berhenti setelah mendengar Jasmin seperti tertawa kecil di dalam kamar. Telinga Danu menajam, mendengarkan percakapan istrinya dengan seseorang di balik telepon.
"Iya, aku kesal sama suamiku." ucap Jasmin.
".....?"
"Ya, makanya aku pulang. Kita nanti bisa kok ketemu lagi, lagi pula kamu ngga ada sih." kata Jasmin.
".....?"
"Iya."
"....?"
"Oke, aku tutup teleponnya. Daah."
Klik!
Jasmin memutus sambungan teleponnya, dia melihat suaminya berdiri di depan pintu menatapnya datar dan merasa bersalah. Jasmin mendengus kesal, dia membuang muka ke samping. Danu menutup pintu pelan dan melangkah mendekat pada istrinya yang sedang marah itu.
"Sayang." panggil Danu.
"Mau apa dady datang kemari?!" tanya Jasmin ketus.
"Kan mau menjemput kamu pulang sayang." kata Danu.
"Buat apa, dady saja masih sering menemui istri panti asuhanmu itu. Bahkan dady marah dia bersama laki-laki lain. Itu artinya dady suka kan sama dia?!"
"Tidak. Kan aku sudah bilang, kalau dia mengandung anakku. Jadi dia tidak boleh sembarangan pergi dengan laki-laki lain." kata Danu menjelaskan.
"Heh! Alasan! Kalau tidak suka, kenapa tadi dady marah sama laki-laki itu? Padahal dia ganteng banget, tahu begitu lebih baik aku yang menikah dengannya." ucap Jasmin.
Dia tidak suka Jasmin membandingkan dirinya dengan laki-laki yang bersama dengan Laras tadi. Dia kesal sekali, kenapa juga bisa-bisanya Jasmin memujinya.
"Kalau dady tidak suka, ya udah. Tinggalkan istri panti itu, jangan lagi datang ke rumahnya. Dia juga sudah sama laki-laki itu kan?"
"Tapi dia mengandung anakku, jadi wajar saja kalau aku marah. Aku harus menjaganya juga." kata Danu.
"Bohong! Aku tidak suka ya dady dekat dan pergi ke rumah dia lagi secara diam-diam. Sebelum dady janji padaku, aku tidak akan pulang ke rumah!" ucap Jasmin.
"Sayang, jangan begitu." bujuk Danu.
"Kamu cinta ngga sih sama aku, dady?!" tanya Jasmin kesal.
"Ya cinta sama kamu sayang, aku tidak mau kehilangan kamu." kata Danu lagi memohon.
"Kalau begitu, dady harus secepatnya menceraikan perempuan panti itu!" kata Jasmin dengan marahnya.
"Dia sedang hamil, tidak mungkin aku ceraikan."
"Halah! Itu artinya kamu pengecut dady! Jadi tidak usah kamu berharap aku akan pulang ke rumah!" ucap Jasmin mengancam.
Danu diam, dia tidak mungkin menceraikan Laras dalam keadaan hamil. Paling tidak nanti setelah melahirkan, itu pun menunggu dua bulan setelah melahirkan.
"Sayang."
"Pergi!"
"Sayang, jangan marah sama aku."
"Pergi tidak?!" teriak Jasmin dengan mata melebar.
"Kamu mau aku bagaimana?"
"Ceraikan perempuan panti itu secepatnya!"
"Oke, aku akan ceraikan. Tapi nanti ya, tunggu dia lahiran dulu."
"Kalau begitu, tunggu juga aku kembali ke rumah dady setelah dady menceraikan dia!" kata Jasmin.
"Baiklah, aku akan secepatnya menceraikan Laras."
"Besok!"
"Besok? Tapi ..."
"Ya sudah, dady pergi saja sana!"
"Baiklah."
"Aku ikut."
"Untuk apa ikut?"
"Aku ingin memastikan kalau dady benar-benar menceraikan dia. Aku tidak mau dady bohong lagi sama aku, tidak datang ke rumahnya. Tapi kenyataannya dady sering datang kesana tanpa sepengetahuanku." kata Jasmin lagi.
Danu diam saja, dia menunduk dalam dan menghela nafas panjang. Rasanya berat sekali untuk melakukan itu, tapi dia juga tidak mau kehilangan Jasmin.
Jasmin menatap tajam pada suaminya itu, lalu dia mengambil ponselnya dan bermain game. Danu menatap istrinya, dia seperti kehilangan kekuatan untuk menolak keinginan Jasmin.
"Sayang, ayo kita pulang." kata Danu kembali membujuk.
"Aku mau pulang jika besok dady menceraikan dia. Dan aku ikut dengan dady, ingin melihat apakah benar dady menceraikan perempuan panti asuhan itu." kata Jasmin.
"Tapi sayang ...."
"Ya sudah, aku tidak mau pulang kalau dady masih ragu begitu."
"Ya baiklah."
"Kapan?"
"Pulang dari kantor."
"Bagus, aku tunggu dady jemput di rumah ibu. Lalu pergi bersama ke rumah perempuan itu." kata Jasmin lagi.
Danu tidak bisa membantah, entah karena dia terlalu mencintai istrinya dan takut kehilangan dia. Jadi dia tidak berani membantah ucapan Jasmin.
Benar apa yang di katakan Andre, Danu laki-laki pengecut. Tidak berani dengan istri kecilnya itu, entahlah. Apa yang di pikirkan Danu tentang Jasmin.
_
_
***************