
"Maafkan Nathan, Ma!" kata Nathan sembari bersimpuh di depan kaki ibu mertuanya. Hanya kata itulah yang keluar dari mulut Nathan setelah Mama Rindi mencercanya dengan banyak pertanyaan.
Mama Rindi sudah dibebaskan. Bahkan Papa Erlangga dan Dean Nathan yang pergi menjemputnya barusan. Saat ini mereka berada di rumah Kakek Moeis. Alasan Oddie semakin kurus, alasan mata Oddie yang luka dan kakinya yang pincang. Alasan Oddie tak terawat dan terlihat menyedihkan, akhirnya Mama Rindi tahu apa penyebabnya.
Kakek Moeis dan Papa Erlangga yang berada di depan pintu hanya bisa menunduk saat mencuri dengar pembicaraan Nathan dan Mama Rindi. Tidak tahu lagi harus mengatakan apa selain ribuan maaf yang sudah mereka haturkan sebelum Mama Rindi ingin bicara empat mata dengan Nathan tadi.
Sebenarnya siapa yang harus disalahkan dalam kisah ini. Orangtua Oddie yang tak jujur karena diancam sekelompok orang, keluarga Nathan yang langsung percaya dengan hasil penyelidikan saat itu, atau penyidik yang langsung menutup kasus korupsi itu setelah orangtua Oddie mengakui semuanya tanpa menggali lebih jauh?
Entah siapa yang benar dan salah. Tapi terlepas dari semua itu, tetap Nathan lah yang paling salah. Kakek Moeis dan Papa Erlangga tidak melakukan apapun setelah orangtua Oddie ditangkap karena mereka menganggap orangtua Oddie sudah mendapatkan hukumannya. Tapi berbeda dengan Dean Nathan.
Pria itu membalas sakit hatinya dengan cara yang berbeda. Bukan hanya menikahi Oddie dan menjadikannya budak, tapi juga melakukan kekerasan fisik sampai Oddie cacat fisik dan mental.
Mama Rindi tak kuasa menahan lagi. Isak tangis itu akhirnya pecah juga. Oddie adalah satu-satunya anak yang dia punya. Anak yang dia besarkan penuh cinta dan dia jaga dengan sepenuh jiwa bersama suaminya. Selama 21 tahun sebelum ditahan, sekalipun Mama Rindi dan almarhum suaminya tidak pernah memukul Oddie. Sekalipun tidak pernah.
Wanita paruh baya itu memukuli Nathan sepuas hatinya diselingi isak tangis. Hati ibu mana yang tidak patah jika buah hatinya diperlakukan seperti itu. Selama ini Oddie selalu bilang baik-baik saja. Selalu mengatakan hal baik saat ibunya bertanya perihal kehidupan rumah tangganya. Oddie bahkan mengatakan kaki yang pincang dan mata yang luka itu dia peroleh karena kecelakaan.
"Kenapa kau melakukannya, Nathan. Dia sangat mencintaimu. Bukankah kau tahu?" tanya Mama Rindi.
"Maafkan Nathan, Ma!" jawab Nathan penuh sesal. Tentu saja Nathan tahu. Nathan sangat tahu Oddie pernah membalas cintanya. Tapi hatinya telah dibutakan oleh kebencian setelah kasus korupsi waktu itu.
"Apa salah Oddie padamu, Nathan? Dia tidak melakukan apa-apa. Jika kau marah karena korupsi itu, seharusnya kau melampiaskannya pada kami. Bukan pada Oddie. Apa kau tahu alasan suamiku mengakui tindakan korupsi itu? Itu karena seseorang mengancam akan membunuh Oddie kami yang berharga jika kami tidak mengakuinya. Untuk itulah kami rela mengakui perbuatan terkutuk itu. Menyandang status sebagai koruptor dan berakhir di penjara hanya untuk melindunginya. Tapi apa yang kau lakukan, Dean Nathan?" rutuk Mama Rindi.
Wanita itu kembali memukuli Nathan. Sementara Nathan terus pasrah saat ibu mertuanya memukulinya.
"Kalau tahu begini, aku pasti tidak akan memberimu restu saat kau bilang akan menikahinya hari itu, Nathan!" sesal Mama Rindi.
Tubuh wanita itu akhirnya roboh juga. Terlalu marah, kecewa, sakit hati semuanya bercampur jadi satu sehingga membuatnya lemas.
"Ma?" panggil Nathan.
Nathan segera membantu ibu mertuanya beristirahat. Lalu memanggil Dokter keluarga untuk memeriksanya.
"Biarkan Nyonya Rindi beristirahat dan menenangkan diri," kata dokter setelah memeriksa Mama Rindi.
Tapi Mama Rindi mengabaikan saran dokter. Dengan bantuan maid dia kembali duduk bersandar. Lalu meminta ijin untuk berbicara dengan Kakek Moeis dan Papa Erlangga.
Kakek Moeis dan Papa Erlangga mengangguk. Sementara Nathan keluar dari kamar. Duduk di ruang keluarga dimana ada Mama Maureen yang sudah ada disana sejak tadi. Sama seperti Nathan. Wanita itu juga sama menyesalnya. Makanya dia hanya diam saja, memilih menunggu perintah dari suami dan ayah mertuanya apa yang harus dia lakukan agar tidak salah lagi.
"Bagaimana sekarang?" tanya Mama Maureen.
Nathan yang ditanya hanya diam. Jujur saja dia sendiri juga tidak tahu harus melakukan apa. Pria itu memijit keningnya, mengacak-acak rambutnya dan berkali-kali menarik dan membuang nafas dengan kasar. Oddie pasti tidak akan memaafkannya. Pasti.
"Ma, tolong jangan bicara lagi! Nathan sangat pusing sekarang!" potong Nathan.
Nathan belum membuat perhitungan dengan mamanya karena mengambil uang Oddie selama ini. Tapi itu sudah tidak penting lagi saat ini. Yang lebih penting adalah mencari cara agar Oddie mau memaafkannya. Tapi cara apa yang bisa dia lakukan?
Sementara itu Mama Maureen yang mendapatkan larangan dari Nathan tidak bisa diam begitu saja. Dia sangat penasaran kenapa Leah mengemasi barang-barang milik Kirana.
Baiklah, katakanlah Nathan sangat pusing. Tapi sejujurnya Mama Maureen juga sangat pusing sekarang. Dia tahu Nathan pasti ingin berbaikan dengan Oddie, tapi bagaimana dengan Kirana. Karena sampai saat ini sebenarnya tidak ada satupun yang tahu bahwa Kirana bukan hamil anak Nathan, melainkan anak Ray.
Selain itu, tidak ada yang tahu juga bahwa Oddie sedang hamil. Terlalu banyak yang Nathan pikirkan sampai dia lupa memberitahu semua orang bahwa Oddie sedang mengandung anaknya sekarang.
"Nathan, bagaimana dengan Kirana?" tanya Mama Maureen. Bukannya Mama Maureen membela Kirana. Tapi sepengetahuan Mama Maureen, Nathan dan Kirana saling mencintai.
"Ma, jangan membicarakan wanita penipu itu lagi. Aku tidak suka!" jawab Nathan.
"Penipu?" tanya Mama Maureen tidak mengerti.
"Dia bukan hamil anakku. Sudahlah, Ma! Jangan membahasnya lagi. Nathan lelah," jawab Nathan.
Nathan mengambil sebuah buku yang ada di bawah meja. Lalu menggunakannya untuk menutupi wajahnya. Apa Nathan tidur? Tentu saja tidak. Bagaimana dia bisa tidur disaat-saat seperti ini. Dia hanya memikirkan apa harus dia lakukan meskipun tidak kunjung menemukan jalan keluarnya.
Sementara itu di dalam kamar, Kakek Moeis dan Papa Erlangga saling berpandangan setelah Mama Rindi mengajukan permohonan pada mereka.
"Kau ingin Nathan dan Oddie bercerai?" tanya Kakek Moeis.
"Iya, Tuan Moeis!" jawab Mama Rindi mantap.
"Rin, aku tahu bagaimana perasaanmu. Anakku memang salah dan kami mengakuinya. Tapi tidak bisakah memberi Nathan kesempatan satu kali saja. Kau sudah melihatnya sendiri kan, dia sungguh sangat menyesal," mohon Papa Erlangga.
Mama Rindi menggelengkan kepalanya. Merasa tidak ada alasan yang membuatnya mengabulkan permintaan Erlangga agar anak-anak mereka mempertahankan rumah tangganya.
"Maaf, tapi sebaiknya mereka bercerai saja. Tolong katakan pada Nathan untuk segera mengurus perceraian mereka!" kata Mama Rindi.
Papa Erlangga tidak memaksa lagi. Lalu melihat ayahnya sebentar. Oddie sudah pernah meminta cerai hari itu. Tapi Nathan menolaknya. Dan sekarang, setelah faktanya terungkap bukankah Nathan semakin enggan bercerai?
Kakek Moeis yang merasa buntu akhirnya bangkit. Meskipun Nathan sudah menyesal, tapi seperti inilah jalan terbaiknya. "Aku akan membahas dengan cucuku sekarang. Kau istirahatlah baik-baik. Setelah kau baikan nanti, kami akan mengantarmu melihat Oddie," kata Kakek Moeis.
...***...