Cinta Suamiku Bukan Untukku

Cinta Suamiku Bukan Untukku
34. Danu Kesal


Di kantor Danu awalnya bekerja dengan tenang dan baik-baik saja. Dia masih membayangkan jatah dari Jasmin yang belum di berikan. Nanti malam dia akan memintanya, meski dia sangat ingin bercinta. Tapi jika Jasmin menolak, dia tidak memaksanya. Dan tadi pagi Jasmin mengiyakan akan memberinya jatah malam ini.


Membayangkan percintaan dengan Jasmin sangat menyenangkan bagi Danu. Dia benar-benar mencintai gadis itu, hingga dia pun akan memintanya lebih dari satu kali. Itulah yang ada di benak Danu.


Tok tok tok.


Pintu ruangan kantornya di ketuk dari luar. Danu membereskan berkas yang tadi di periksa, laporan nasabah bank yang dia pimpin sudah sejak dua tahun lalu semakin meningkat. Tidak di ragukan lagi, sejak Danu menjadi direktur bank swasta yang dia pimpin. Banyak sekali nasabah baru yang ingin menyimpan uangnya di bank itu.


Juga nasabah lama banyak yang mempercayakan uangnya untuk di simpan dan bertransaksi apa saja sesuai layanan yang di berikan oleh pihak bank tersebut. Apa lagi cara pelayanannya juga sangat ramah dan mau melayani siapa saja.


"Masuk!"


Pintu terbuka, masuklah seorang berpenampilan rapi dan memakai rok span selutut. Dia membawa berkas tebal yang harus di periksa dan di tanda tangani, agar bisa di periksa lagi oleh kantor pusat.


"Kok banyak banget ini yang harus di periksa, Lena?" tanya Danu pada sekretarisnya.


"Iya pak, dari pusat minta di periksa oleh bapak dan nanti bagian administrasi suruh di bawa ke kantor pusat." jawab Lena.


"Hemm, memang ada utusan yang harus di kirim kesana ya. Aku tidak di suruh datang ke kantor pusat kan?" tanya Danu.


"Tidak pak, kebetulan yang di suruh dari bagian pengarsipan saja." jawab Lena.


"Baguslah, itu artinya malam ini aku di rumah." kata Danu dengan senyum tipis.


"Memang ada apa di rumah pak Danu?" tanya Lena.


"Tidak ada apa, hanya ingin istirahat saja di rumah." jawab Danu.


Tidak mungkin dia cerita masalah urusan ranjangnya pada sekretarisnya. Lena tersenyum, dia lalu keluar lagi setelah meletakkan berkas di meja Danu. Danu menghela nafas panjang, lalu dengan cepat dia segera memeriksa semua berkas-berkas itu agar cepat selesai sebelum sore tiba.


_


Jasmin sudah keluar dari kelasnya, dia menunggu Dandy. Teman baru di kuliahnya, dia senang sekali dekat dengan laki-laki yang sebenarnya biasa saja penampilannya. Tapi pesona dan gaya bicaranya membuat Jasmin menyukai laki-laki itu.


"Hai Jasmin." sapa Dandy.


"Hai Dandy, kamu sudah selesai?" tanya Jasmin.


"Ya, apa kita mau keluar dulu? Jalan-jalan setelah kuliah ini?" tanya Dandy.


"Hemm, ya."


"Jasmin! Lo mau kemana?" tanya Ira yang baru keluar.


"Mau jalan sama Dandy." jawab Jasmin.


Ira mendekat, dia menarik tangan Jasmin agak menjauh dan berbisik padanya. Jasmin mengerutkan dahinya, apa yang akan di bicarakan oleh Ira tersebut.


"Ko mau apa sih narik tangan gue?" tanya Jasmin.


"Lo mau kemana sama Dandy?" bisik Ira.


"Kan udah di jawab, mau jalan sama dia." jawab Jasmin.


"Lo ngga lupa kan kalau udah punya suami?" tanya Ira mengingatkan.


"Berisik lo, gue punya suami tapi gue bebas mau main sama siapa aja. Udah sana pulang, gue mau jalan sama Dandy." kata Jasmin kesal kenapa Ira mengingatkannya tentang suami.


Mulut Ira di bekap tangan Jasmin, dia tidak melanjutkan ucapannya dan Jasmin melototkan tangannya. Lalu dia melepasnya secara perlahan.


"Diam lo! Jangan berisik." kata Jasmin masih melototkan matanya pada Ira.


Ira menatap datar pada Jasmin, lalu dia pergi meninggalkan Jasmin. Meski dia memang teman Jasmin yang kurang suka dengan suami Jasmin, tapi jika berteman dengan orang baru. Jasmin akan melupakan teman-temannya yang dulu.


Dandy mendekat pada Jasmin, dia menatap Jasmin yang sedang menatap kepergian Ira. Dandy menarik tangan Jasmin agar cepat pergi dari depan kelas dan segera keluar dari kampus.


"Kita mau kemana?" tanya Dandy mulai berani merangkul pinggang Jasmin.


"Terserah kamu." jawab Jasmin.


Jasmin kaget, tapi akhirnya dia senang juga. Dia pun membalas tangannya di pinggang Dandy. Layaknya sepasang kekasih yang sedang berjalan berdua, mereka menuju parkiran. Dandy mengambil motornya, dia menaiki motor besar.


Jasmin senang, dia bisa berboncengan dengan Dandy. Dan itu sangat dekat sekali. Dandy menaiki motor dan Jasmin ikut di belakangnya, berpegangan pada pinggang Dandy. Mereka pun pergi dari kampus, dan mendapatkan tatapan dari teman-teman Jasmin.


"Mau kemana mereka?" tanya Beni.


"Gue ngga tahu, mungkin Ira tahu." jawab Seli melirik Ira.


"Gue juga ngga tahu, dia hanya bilang mau jalan-jalan aja." jawab Ira malas.


"Dia berubah ya." kata Seli.


"Jasmin memang begitu, kalau ada teman baru dia tinggalkan teman yang lama. Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan. Nanti juga ujung-ujungnya dia minta bantuan kita, kan itu udah biasa." kata Beni.


"Gue ngga suka Jasmin seperti itu." kata Ira.


"Benar kata Beni, biarkan aja. Kita udah punya teman masing-masing di kampus, tapi kalau untuk berteman seterusnya sama kalian. Gue oke kok, kalian tenang aja. Ngga kayak Jasmin, dia lupa kalau sudah dapat teman baru.


Begitulah obrolan teman-teman Jasmin yang kecewa dengan sikap Jasmin itu.


Sementara itu, hari sudah sore. Pukul enam kurang dua puluh menit, Danu sudah ada di jalan untuk pulang ke rumah. Hari ini dia sibuk sekali dan lupa menghubungi istrinya.


Akhirnya dia mengambil ponselnya dan menghubungi Jasmin kalau dia sudah ada di jalan menuju pulang.


Tuuut.


Tersambung, tapi belum di jawab. Danu masih menghubungi Jasmin, tetapi tetap tidak di jawab. Akhirnya masuk satu notif pesan.


Ting!


Danu melihat pesan singkat, dia membukanya. Itu dari Jasmin. Pesan itu berbunyi singkat, tapi mampu membuat Danu kecewa dan gelisah.


'Aku pulang ke rumah ibu dady, aku menginap di sana.'


Begitu pesan singkat Jasmin, Danu gusar. Dia kesal sekali dengan istrinya. Lalu menelepon Jasmin, tapi ternyata langsung di non aktifkan ponselnya.


"Aaargh! Sialan! Kenapa dia jadi seperti ini!" umpat Danu.


_


_


****************