
Tiga hari Danu gelisah, dia tidak bisa menghubungi istrinya sejak sore setelah Jasmin sampai di kampus. Dan ini sudah siang hari, Jasmin belum pulang juga ke rumahnya. Dia benar-benar gelisah karena Jasmin tidak bisa di hubungi.
"Kemana dia? Seharusnya sudah pulang hari ini." kata Danu semakin gelisah.
Dia kembali menghubungi Jasmin, namun tetap saja tidak di angkat. Akhirnya dia pun pergi ke kampus Jasmin, menjemput gadis itu agar nanti bisa menanyainya kenapa tidak di jawab teleponnya. Pulang dari kantor dia langsung menuju kampus, karena memang tidak jauh dari kampus Jasmin.
Sampai di depan kampus, suasana masih sepi. Atau memang sudah bubar. Ada beberapa mahasiswa yang keluar dari kampus. Danu turun dari mobilnya, berjalan menuju kampus. Dia mau bertanya tapi pada siapa bertanya.
Ada seorang staf kampus, dia pun mendekat dan mencegah langkah staf kampus tersebut.
"Emm, mas. Tunggu sebentar." kata Danu.
"Ya pak, ada apa?" tanya staf itu berhenti.
"Apa rombongan mahasiswa baru yang menginap selama tiga hari itu sudah pulang ya?" tanya Danu.
"Sudah dari jam dua siang tadi. Senior dan panitia juga masih ada kok di dalam kampus." jawab staf tersebut.
"Ooh, begitu ya. Apa ada mahasiswa yang tersisa di dalam kampus?" tanya Danu lagi.
"Kurang tahu, tapi coba saja tanya sama panitia penyelenggaranya di dalam senat. Barangkali ada mahasiswa yang masih di sekitar kampus. Memang bapak cari siapa?" tanya staf itu.
"Ooh, cari mahasiswa baru yang ikut acara menginap itu. Apa mungkin dia sudah pulang ya."
"Coba hubungi ponselnya pak."
"Ya, terima kasih ya."
"Sama-sama."
Danu menghela nafas panjang, mengambil ponselnya. Mencoba menghubungi Jasmin lagi, namun justru tidak aktif nomornya. Dia bingung kemana harus mencari Jasmin, sedangkan dia tidak tahu teman-teman istrinya itu. Akhirnya dia memutuskan pergi ke rumah mertuanya, barangkali pulang ke rumah orang tuanya.
Danu melajukan mobilnya menuju rumah mertuanya setelah keluar dari kampus, dia benar-benar cemas dan gelisah kenapa Jasmin susah sekali di hubungi.
Sampai di rumah mertuanya, dia melihat rumahnya sepi. Tapi lampu rumah terlihat menyala, lalu dia keluar dari mobil dan dengan cepat menuju rumah mertuanya. Mengetuk pintu pelan sesampainya di depan pintu.
Tok tok tok.
Ceklek!
Pintu terbuka, ayah Jasmin yang membuka pintu. Dia heran, ada apa petang begini Danu datang. Ayah Jasmin tidak melihat anaknya juga ikut dengan Danu.
"Lho, kok petang begini datang? Ada apa nak Danu? Dan kemana Jasmin, dia tidak ikut?" tanya ayah Jasmin.
"Emm, saya kemari mau mencari Jasmin yah. Tiga hari dia ikut acara kampus menginap, dan seharusnya hari ini dia pulang. Saya pikir Jasmin pulang ke rumah ayah." kata Danu.
"Ada apa yah?" tanya ibunya Jasmin dari dalam, suaminya menoleh.
"Ini, Danu datang mencari Jasmin. Katanya Jasmin ikut acara kampus dan seharusnya pulang hari ini, tapi di kampus tidak ada katanya." jawab ayah Jasmin.
"Lho, kenapa kamu cari kemari?"
"Ya, di kampusnya tidak ada bu. Dan ponselnya juga tidak aktif. Apa mungkin dia pergi dengan teman-temannya?" tanya Danu.
"Masa sama temannya, kan dari kampus sama temannya. Seharusnya pulang, kamu sudah pulang ke rumahmu?" tanya ibunya Danu.
"Belum sih bu, saya dari kantor langsung ke kampus dan kesini. Saya pikir Jasmin pulang kemari." kata Danu lagi.
"Ya sudah, kamu pulang dulu. Barangkali Jasmin sudah pulang, nanti kalau tidak ada kamu hubungi ayah dan ayah akan cari ke rumah teman-temannya menanyakan Jasmin kemana." kata ayah Jasmin.
"Iya yah. Kalau begitu, saya pulang saja. Nanti ayah kabari saya kalau Jasmin pulang kesini." kata Danu.
"Iya."
"Jaga istrimu Danu, ibu tidak mau kenapa-kenapa sama Jasmin." kata ibu Jasmin.
"Iya bu." jawab Danu.
Dia seperti di tuduh menelantarkan istrinya, padahal Jasmin sendiri yang menghilang tanpa kabar. Tapi dia juga khawatir, istrinya itu memang tidak memberi kabar padanya. Jadi selama ini dia gelisah, dan tidak bisa mendapatkan pelayanan di kamar dari istrinya.
"Kemana kamu Jasmin, kenapa jadi begini sih." gumam Danu.
Sepanjang jalan jalan dia memikirkan istrinya, memperhatikan jalanan di sebelah kanan dan kiri. Matanya tertuju pada motor yang berhenti dan di sana berdiri seorang perempuan. Mobil Danu melambat, dia memperhatikan perempuan yang sedang berusaha menyalakan mesin motor tapi belum juga menyala.
Danu tersenyum sinis, mobilnya tetap melaju tanpa berniat membantu Laras. Dia masih melihat Laras sedang mencoba menyalakan mesin motor. Sepanjang jalan dia melihat dari kaca spion, Laras belum bisa menyalakan mesin motor. Hingga ada mobil berhenti dan mendekat pada Laras.
Mobil Danu berhenti, dia masih memperhatikan Laras dari kaca spion dan terlihat laki-laki membantunya menyalakan mesin motornya. Ada pembicaraan dan canda tawa, rupanya Laras mengenal laki-laki itu. Tak lama mesin motor Laras pun menyala.
"Dia sama siapa? Apa lupa kalau aku masih suaminya?" gumam Danu terlihat sinis.
Setelah motor Laras melaju, laki-laki yang membantunya itu juga pergi dengan mobilnya. Danu pun menjalankan mobilnya pelan, dia memperhatikan motor Laras yang berada di depannya berjarak sepuluh meter. Danu melambatkan motornya, tidak terasa dia mengikuti kemana arah motor Laras pergi.
_
_
********************