
Sepulang dari rumah Laras, Danu langsung pulang ke rumahnya. Dia kini memikirkan Jasmin yang belum juga pulang, entah kemana gadis itu. Apa mungkin dia sudah pulang di rumahnya, dia belum menghubungi kembali istrinya.
Sampai di rumahnya, Danu melihat lampu di rumahnya sudah menyala. Itu artinya istrinya sudah ada di rumah. Dia senang, ternyata Jasmin sudah pulang. Dengan bergegas Danu turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah.
"Sayang, kamu sudah pulang?" teriak Danu setelah sampai di dalam rumahnya.
Danu melihat Jasmin ada di dapur sedang membuat mie instan. Jasmin tidak menoleh sedikit pun pada suaminya, Danu mendekat dan memeluk istrinya dari belakang. Merara rindu sekali pada istri kecilnya itu.
Namun, Jasmin merespon menggoyangkan lengannya agar Danu melepasnya. Tapi laki-laki itu tidak mau terlepas.
"Dady, lepas dong. Berat." kata Jasmin.
"Aku kangen sayang, kamu kok susah sekali di hubungi sih. Kemana saja? Sama siapa kamu pulang?" tanya Danu memberondong pertanyaan pada Jasmin.
"Di antar teman. Kamu pertanyaannya banyak banget." kata Jasmin.
"Karena aku khawatir sama kamu, aku tadi ke rumah ayah dan ibu mencari kamu. Kata mereka kamu ngga pulang ke sana." ucap Danu.
"Aku sudah besar dady, jangan mencariku. Memangnya aku anak kecil apa." sungut Jasmin.
"Tapi aku suamimu, kamu istriku. Aku khawatir dan gelisah, sejak di telepon tiga hari lalu kamu ngga menjawab teleponku bahkan ponsel kamu tidak aktif. Kenapa kamu tidak mengaktifkannya?" tanya Danu lagi.
"Banyak kegiatan di sana. Jadi aku matikan ponselnya, dan lagi aku ngga bisa juga harus menjawab teleponmu." kata Jasmin lagi.
Dia menuangkan mie rebusnya di dalam mangkok, lima buah cabai pedas dan juga di campur telor serta baso juga. Menggugah selera menurut Danu, tapi dia sudah makan di rumah Laras. Jadi dia tidak mau makan lagi, apa lagi mie instan.
Baginya, makan malam itu pantangan. Dia tidak pernah makan malam setelah makan malam tadi sehabis isya itu. Kalau makan cemilan saja, itu pun hanya sesekali. Danu selalu menjaga kesehatan tubuhnya.
Jasmin makan dengan lahap, dia duduk di hadapan istrinya yang sedang makan dengan nikmat. Dia ingin meminta jatah malam ini, tapi apakah Jasmin akan memberikannya?
"Sayang, aku ke kamar dulu. Dan aku tunggu di kamar ya." kata Danu.
Jasmin tidak menjawab, dia asyik makan mie rebusnya dengan lahap. Ponselnya di samping tangannya berbunyi notif pesan singkat. Dia tersenyum, lalu membalas pesan singkat itu.
Danu masuk ke dalam kamarnya, segera mandi agar segar kembali. Rasanya dia tidak tahan ingin segera tidur dengan istrinya, sudah tiga hari dia tidak mendapat jatah dari Jasmin. Jadi malam ini dia akan meminta jatahnya.
_
Pagi ini, seperti biasa Danu membuat kopi sendiri. Wajahnya murung dan kusut, semalam dia meminta jatah pada Jasmin. Tapi gadis itu menolaknya, dengan alasan lelah karena baru pulang dari acara di kampus itu.
Dia mungkin memang lelah, karena sejak menolak permintaan Danu. Jasmin langsung tidur, alhasil Danu tidur dengan gelisah dan tidak dapat tidur dengan nyenyak. Dan pagi ini dia uring-uringan karena belum mendapatkan jatah dari Jasmin. Tapi dia akan menunggu malam nanti, lalu dia membuat sarapan sendiri.
Hanya roti panggang dengan selai kacang, lalu makan dengan pelan. Jasmin keluar dari kamar, dia mendekat pada Danu. Dengan pakaian rapi untuk pergi ke kampus, dia sangat senang kalau hari ini hari pertama perkuliahannya di kanpus.
Jasmin duduk di samping Danu, mengambil roti dan mengoleskan selainya. Lalu makan dengan santai, tanpa melihat suaminya sejak tadi memperhatikannya dengan heran.
"Apa sekarang sudah mulai kuliah aktif?" tanya Danu.
"Biasanya juga selalu mengantar kamu ke kampus. Tapi kok kamu senang banget sih mau ke kampus?" tanya Danu.
"Iya dong dady. Kan hari ini pertama masuk kuliah aktif, jadi aku ngga sabar ingin perkuliahan di mulai. Menunggu tugas-tugas dari dosen." jawab Jasmin.
"Sayang, kamu tidak lupa jatahku belum kamu berikan. Nanti malam ya." kata Danu mengingatkan Jasmin.
"Iya, dady tenang aja. Kan tadi malam aku capek, dad. Jadi aku ngga bisa kasih jatah dady." kata Jasmin.
Danu tersenyum senang, dia lalu mencium pipi Jasmin. Gadis itu diam saja, masih sibuk dengan ponselnya. Lalu Danu bangkit dari duduknya dan menuju kamar, mengambil tas kerjanya. Wajahnya tidak lagi murung, karena nanti malam dia akan mendapatkan jatah tidur dengan Jasmin seperti biasanya.
"Kamu sudah selesai sarapannya?" tanya Danu.
"Ya dad, tunggu aku ambil tas di dalam kamar." kata Jasmin menelepon seseorang.
"Aku tunggu di mobil."
"Ya."
Jasmin buru-buru masuk ke dalam kamarnya, mengambil tasnya dan berhenti. Dia masih menghubungi seseorang di balik telepon.
"Halo Jasmin?"
"Halo, Dandy. Kamu hari ini masuk kampus kan?" tanya Jasmin.
"Ya, kamu juga masuk kampus?"
"Iya. Kita ketemu di kampus ya."
"Oke, see you Jasmin."
"See you, Dandy." jawab Jasmin dengan tersenyum.
Dia memandangi ponselnya dengan tersenyum senang, setelah menelepon teman laki-laki bernama Dandy itu Jasmin sangat senang sekali. Sejak acara menginap di puncak itu, dia sangat akrab dengan laki-laki bernama Dandy. Dan sekarang mereka semakin dekat, Jasmin sangat senang punya teman baru di kampusnya selain Ira, Seli dan Beni.
Sayaang! Cepatlah, sudah siang." kata Danu dengan berteriak dari luar.
"Iya dady. Aku keluar!" sahut Jasmin.
Jasmin keluar membawa tasnya, lalu merapikan sepatunya kemudian berjalan cepat memghampiri suaminya. Di rumah Danu, belum ada pembantu. Jika mencuci baju, mereka mencucinya ke laundry dan besoknya di kirim ke rumah.
_
_
*******************