
Jasmin di antar oleh Danu pergi ke kampus seperti biasa. Kali ini Danu akan menyelidiki siapa laki-laki yang mengaku sebagai pacar Jasmin di telepon dulu itu.
Pikirannya masih penasaran, dia mengingat Jasmin selalu menginap pada temannya jika ada tugas itu. Jika di pikir-pkir, kenapa harus sering menginap. Bukankah dia sudah punya suami, kenapa dia lakukan itu?
Danu membandingkan antara Laras dan Jasmin itu sangat jauh perlakuan dan sikap mereka. Danu suka Jasmin yang manja dan sering membuatnya tersenyum, tapi sejak menikah itu Jasmin lebih banyak dengan teman-temannya di banding dulu sewaktu pacaran.
Sedangkan Laras, perempuan baik dan penurut. Danu belum bisa mencintainya. Hanya saja, sikap Laras yang lembut dan meskipun marah tapi dia masih tetap menurut dan tidak pernah berkata kasar.
Danu kini merenung, siapa yang lebih baik antara kedua istrinya itu. Tapi dia sangat mencintai Jasmin, cinta pertama pada gadis manja itu tidak mudah dia hilangkan begitu saja. Sedangkan Laras? Dia tidak mencintainya, gadis dari panti asuhan, rasanya sulit mengakui kalau Laras adalah gadis yang baik.
Dia merasa bersalah juga ketika baru tahu kalau Laras sedang hamil anaknya setelah lima bulan kandungannya.
Danu masuk ke dalam ruang kantornya, memanggil sahabatnya yang menjadi manager di bank dia bekerja.
Tok tok tok.
"Masuk."
Pintu terbuka, nampak managaer bawahannya bernama Rizwan. Dia duduk di depan Danu, heran kenapa Danu memanggilnya.
"Ada apa pak?" tanya Rizwan.
"Aku ingin cerita masalahku, kita tidak bicara kantor. Jadi kamu biasa aja, lagi pula ini sedang santai kan." kata Danu.
"Boleh, ada apa kamu memanggilku?" tanya Rizwan.
"Kita pergi ke kafe aja yuk, makan siang ini. Aku ingin cerita tentang rumah tanggaku." kata Danu.
"Oke, jam makan siang di kafe yang dekat sini aja ya." kata Rizwan.
"Ya, terserah aja." kata Danu.
Rizwan pun kembali lagi, padahal bisa saja dia menelepon sahabatnya itu. Tapi rasanya ingin dia bicara di kantor, setelah di pikir memang lebih baik cerita di luar jam kerja saja.
_
Danu dan Rizwan duduk di kafe menikmati makan siang kali ini. Danu masih belum cerita, hingga membuat Rizwan penasaran apa yang ingin di ceritakan oleh Danu.
"Kamu mau bicara apa?" tanya Rizwan setelah selesai makan siang.
"Kamu tahu kan, aku punya dua istri. Satu dari panti asuhan pilihan almarhum ibuku, dan satu adalah gadis yang aku pacari dan cinta pertamaku pada gadis remaja itu." kata Danu.
"Ya lalu? Apa kamu jadi mau menceriakan istri dari panti asuhan itu?" tanya Rizwan.
"Aku bingung, dia sekarang mengandung anakku." jawab Danu.
"Lho, kok bisa dia mengandung anakmu? Kamu sudah melakukan hubungan itu dengannya?" tanya Rizwan.
"Ya, itu karena Jasmin pergi menginap di rumah teman kuliahnya. Susah sekali di hubungi, dan aku pusing tidak bisa mendapatkan jatah. Akhirnya aku minta sama dia, ketika aku di tinggal oleh Jasmin." kata Danu.
"Ck, hebat kamu. Bisa tahan dengan gadis remaja itu. Kamu ternyata bucin ya sama dia." kata Rizwan tersenyum meledek.
"Iya, kan dia cinta pertamaku. Dia gadis yang membuat aku senang dengan sikap manjanya. Dan sekarang aku sangat mencintainya, meski dia terkadang sering aku rasakan dia membohongiku." kata Danu menghela nafas panjang.
"Lalu, istri dari panti asuhan itu? Bukankah kamu mau menceraikannya? Kenapa bisa dia hamil, kamu tidak tahu?" tanya Rizwan.
Danu kembali menceritakannya, setelah dia kembali harmonis dengan Jasmin. Dia tidak datang lagi ke rumah Laras dan hampir melupakannya. Dia melihat Laras dengan perut besar tanpa sengaja di jalan, hingga akhirnya dia datang lagi ke rumah Laras dengan diam-diam.
"Terus, kamu masih sering ke rumah istri pertamamu?" tanya Rizwan.
"Ya, tapi dia berubah sekarang. Lebih banyak acuh sama aku, mungkin dia sudah lelah denganku." kata Danu lagi.
Di membayangkan terakhir kali wajah Laras yang datar saja, biasanya terlihat wajah senangnya. Dia seperti kehilangan wajah Laras yang lembut.
"Kamu putuskan saja, siapa yang akan kamu pertahankan. Jasmin atau istri hasil jodoh ibumu, tapi jika kupikir lebih baik istri yang penurut dan tidak macam-macam." kata Rizwan memberi pendapatnya.
"Kadang aku tidak suka pada Laras, tapi aku butuh perhatian dan di layani. Jasmin jarang melakukan itu, dan sekarang dia sering sekali menginap di rumah temannya. Terakhir aku menelepon dia yang menjawab laki-laki dan mengaku pacarnya." kata Danu.
"Kamu marah?"
"Tentu saja aku marah. Tapi dia pulang dengan wajah kusut dan pusing, kutanya dia malah jawabnya lelah karena aku selalu curiga padanya." kata Danu lagi.
"Aku rasa, kamu perlu menyelidiki Jasmin. Dia itu masih muda, mudah sekali bergaul. Apa lagi istrimu itu gadis yang manja, dia pasti menyembunyikan sesuatu darimu. Coba saja kamu cari tahu dari teman-temannya." kata Rizwan.
Danu diam, dia sebenarnya ingin mencari tahu tentang Jasmin di kampus. Dan teman siapa saja yang sering mengajaknya menginap karena beralasan banyak tugas kelompok. Apakah harus seperti itu?
"Benar, aku harus menyelidiki Jasmin di kampusnya. Tapi, aku tidak kenal teman-temannya siapa lagi." kata Danu.
"Kamu cari orang yang bisa di jadikan detektif untuk menyelidiki istrimu. Kamu tinggal tunggu laporan saja dari orang yang menyelidiki istrimu itu." kata Rizwan.
"Aku takut kecewa, meski pun aku terkadang merasa curiga dengan sikapnya itu yang kadang manis kadang juga acuh padaku. Aku takut mendapati kebenaran yang menyakitkan." kata Danu lagi.
"Cinta memang buta ya." ucap Rizwan menyindir Danu.
Dia laki-laki pendiam dan juga keras kepala, tidak mau tahu jika bukan keinginannya. Tapi Rizwan berpikir harus merubah pikiran Danu itu, sebelum semuanya terlambat.
"Lalu, perempuan panti itu bagaimana? Dia sudah mulai acuh sama kamu, berarti dia sudah lelah. Karena kamu menganggapnya sebagai pelampiasan saja." kata Rizwan.
"Iya, tapi aku tidak akan menceraikan dia." kata Danu.
"Apa?! Kamu gila ya." kata Rizwan.
"Dia mengandung anakku, dan aku tidak mau dia ada laki-laki yang dekat dengannya. Ck, dia dekat dengan mantan bosnya. Aku pikir mantan bosnya itu suka sama Laras." kata Danu ingat perseteruannya dengan Andre.
"Mantan bos? Jadi, istri pertamamu dekat dengan mantan bosnya? Laki-laki?"
"Iya, dia sering datang katanya." jawab Danu.
"Heh, orang baik selalu saja di kelilingi oleh orang baik pula. Jangan sampai nanti kamu menyesal Danu, lakukan apa yang aku katakan tadi. Selidiki dulu Jasmin, sewa orang untuk jadi detektif." kata Rizwan lagi.
"Ya, nanti aku pikirkan."
"Jangan lama-lama, sebelum kamu menyesal nantinya." ucap Rizwan.
Rizwan berpikir, Danu itu laki-laki yang tidak pernah melihat orang dari sisi lain yang baik. Dia hanya berpikir masalah perasaannya saja, tidak memikirkan bagaimana baiknya dia nanti hidupnya.
_
_
******************