
Dia melajukan mobilnya menuju rumah mertuanya, dia harus membawa Jasmin pulang. Masalahnya dia masih belum dapat jatah dari istrinya itu, hingga sejak di kantor sebenarnya Danu uring-uringan.
"Kenapa sejak masuk kuliah dia berubah jadi seperti ini. Kadang susah sekali di hubungi, dan malah mau menghindar dariku. Dasar anak kecil!" umpat Danu lagi yang mulai marah dengan sikap Jasmin itu.
Tiba-tiba dia melihat motor melintas di depannya. Danu melihat motor itu, gadis uang membonceng itu seperti mengenalnya. Akhirnya Danu pun mengejarnya, dia ingin memastikan kalau matanya benar melihat Jasmin berboncengan di motor dengan laki-laki lain.
Sialnya, motor itu melaju dengan kencang dan Danu tidak bisa mengejarnya.
"Kemana motor itu ya? Kok aku penasaran dengan gadis di belakangnya?" gumam Danu.
Akhirnya dia pun mengubah arah jalan, berbelok menuju rumahnya. Benar-benar dia sangat kesal sekali, entah dia masih mau menunggu Jasmin pulang atau tidak.
Tapi lagi-lagi dia melihat sebuah motor matik yang dia kenal melintas di depannya. Motor itu bermuatan barang banyak sekali, Danu mengikuti motor tersebut hingga jauh. Tidak sadar kalau dia masih mengikuti motor matik menuju jalan perumahan.
Ya, Danu mengikuti motor matik milik Laras. Laras terus melajukan motornya, dia tahu ada mobil yang mengikutinya dari belakang, sesekali menoleh ke belakang dan itu adalah mobil suaminya.
Laras membelokkannya masuk ke dalam blok perumahannya. Dan berhenti di rumah paling ujung, dia melihat mobil Danu juga berhenti agak jauh dari rumahnya. Laras ragu untuk memanggil agar suaminya itu lebih dekat parkir mobilnya di depan rumahnya.
Karena dia pikir mungkin Danu hanya mengantarnya saja sampai pulang, dia pun hanya tersenyum lalu membawa masuk barang-barang yang tadi di belinya. Dian menghampiri Laras mengambil barang yang tadi di beli oleh Laras.
"Semua masih di mobil, kamu bawa aja masuk Dian." kata Laras.
"Iya kak, di letakkan di dapur semuanya?" tanya Dian.
"Iya, jangan di depan. Takut ada tamu datang." kata Laras melirik mobil Danu yang masih terparkir.
"Baik kak Laras." ucap Dian.
Dia membawa bahan-bahan kue ke belakang dan menyimpannya di dapur sesuai perintah Laras. Laras sendiri masih merapikan motor yang masih ada keranjang kain dan melepasnya. Belanja bahan untuk membuat kue hanya tiga hari sekali di pasar induk, kalau kebutuhan mendadak dia beli di toko langganannya saja.
Lagi-lagi Laras menoleh ke arah mobil Danu, tapi sudah tidak ada. Ternyata dia sudah pergi dari parkir di mana dia berhenti.
"Mas Danu ngga mampir ya, hanya mengantar saja." gumam Laras, dia menghela nafas panjang kemudian masuk ke dalam rumah.
Hari ini dia lelah sekali, pikirannya masih memikirkan Danu yang tidak jadi mampir ke rumahnya. Apa karena Danu melihat Dian ada di rumah Laras, jadi tidak ke rumah Laras.
_
Minggu pagi, Laras sudah sibuk mengepak kue-kue yang mau di kirim. Dengan cekatan dan sangat hati-hati dia mengemasnya, karena memang tidak boleh ada yang cacat atau rusak kue yang dia buat untuk pelanggan.
"Kak, biar Dian aja yang kirim ke kantor ekspedisi ya. Sekalian siang ini Dian mau ke panti, ibu Rima minta Dian pulang dulu ke panti. Nanti sore pulang lagi kok ke rumah kak Laras." kata Dian ikut mengemas pesanan dengan rapi.
"Iya ngga apa-apa, kamu boleh pakai motor kak Laras. Kak Laras hari ini ngga kemana-mana kok." kata Laras.
"Ya udah, terima kasih kak. Nanti sore Dian pulang kok. Kak Laras mau di belikan apa pulangnya?" tanya Dian.
"Emm, enaknya makan baso ya sore-sore. Boleh deh kamu beli baso ya nanti kalau pulang." kata Laras.
"Baik kak. Ini sudah semua kan kak?" tanya Dian merapikan paket yang akan di kirim.
"Sudah, semuanya berjumlah dua puluh lima paket. Kamu hati-hati ya, dan nama serta alamatnya sudah tertera di sana, nanti di kantor ngga usah bikin alamat lagi." kata Laras.
Dian memasukkan paket-paket itu dan di tata dengan rapi, di bantu oleh Laras. Hari Minggu ini Laras ingin santai juga di rumah, karena sudah selesai semua pekerjaannya. Dian sudah siap untuk mengirim paket menaiki motor, Laras memberikan uang untuk membayar ongkos kirim paket.
Dian sudah pergi, kini tinggal Laras di rumah. Membereskan semua barang yang berantakan di dapur maupun di ruang tamu. Dia menyapu lantai dan mencuci barang-barang yang tadi di pakai membuat kue.
Satu jam Laras bersih-bersih rumah dan peralatan kue. Kini saatnya dia mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket, meski pagi tadi dia sudah mandi. Tapi karena lengket, akhirnya dia mandi lagi.
Dia mandi dengan santai dan menikmati guyuran air dingin. Sebelum dia selesai mandi membersihkan kamar mandi juga, lalu mengambil air wudhu untuk sholat duhur. Karena sudah biasa dia sehabis mandi bethrop, tapi kali ini bethropnya dia cuci. Jadi hanya memakai handuk saja, melewati ruang tamu.
Laras tidak sadar kalau jendela depan terbuka, berdiri laki-laki yang sedang menatapnya memakai handuk masuk ke dalam kamarnya. Laki-laki itu menelan ludahnya sendiri, berbalik degup jantungnya berdebar. Lalu di netralkan lagi, batinnya bergejolak dengan keinginan otak serta hatinya bertolak belakang.
Ya, dia Danu. Niatnya ingin mampir ke rumah Laras, dan melihat rumah itu pintunya tertutup. Tapi jendelanya terbuka. Ketika dia melongok ke dalam, justru melihat Laras lewat dari belakang dengan memakai handuk saja.
Dia yang sudah beberapa hari tidak mendapat jatah dari Jasmin, otaknya kini terusik. Hasratnya bergejolak. Tapi hatinya menolak, karena dia tidak mau tidur dengan Laras. Tapi ternyata otak dan keinginannya berkata lain, hasratnya semakin menggebu.
Akhirnya dia masuk, pikirannya mengatakan kalau Laras adalah masih istrinya. Jadi sah saja dia memita haknya untuk di layani. Lama dia berdiri di depan pintu dan mengetuk pintunya
Tok tok tok.
"Laras!" teriaknya.
Tak lama pintu terbuka, Laras membukanya dan sudah berpakaian rapi. Dia heran dan terkejut pada Danu, kenapa ada di depan rumahnya.
"Mas Danu kesini?" tanya Laras.
Danu langsung masuk ke dalam rumah, pikirannya semakin kacau ketika melihat Laras di depannya berbeda dan menggairahkan.
"Mas, kamu mau apa?" tanya Laras.
"Laras, kamu masih istriku?" tanya Danu.
"Ya, ... Sejauh ini mas Danu belum menceraikan aku. Jadi aku masih istrimu." kata Laras pelan.
Akhirnya Danu menarik tangan Laras, dia membawanya ke dalam kamar Laras. Menatap seluruh kamar dan ranjang yang hanya berukuran kecil. Dia dudukkan Laras di ranjang dan menatapnya penuh keraguan.
Laras heran, kenapa suaminya itu membawanya ke dalam kamarnya. Dia pun bangkit dari duduknya dan hendak keluar, tapi di cegah oleh Danu tangannya.
"Tunggu, jangan keluar dari kamar." kata Danu.
"Ada apa mas?" tanya Laras semakin kebingungan.
"Aku minta hakku." kata Danu parau.
"Apa?!"
_
_
*********************