Cinta Suamiku Bukan Untukku

Cinta Suamiku Bukan Untukku
Bab 21 Terungkap


Oddie tergeletak di ubin dengan kesadaran yang nyaris hilang. Meskipun begitu, dia masih sempat melihat punggung Nathan dengan senyum kecil yang sempat terukir di sudut bibirnya. Senyum kecil yang bisa saja menjadi senyum terakhirnya untuk seorang Dean Nathan yang semakin tidak Oddie kenal.


"Dean, bukan aku yang membunuh anakmu. Tapi kau yang hampir membunuhku dan anakku," batin Oddie.


Sebelumnya, Oddie masih menyisakan sedikit ruang untuk Nathan. Mengira Nathan akan bertobat dan menyadari kesalahannya selama ini. Tapi hari ini Oddie sudah sampai pada batasnya. Tidak ada lagi pintu maaf untuk Nathan. Mulai detik ini dan selama Oddie hidup, Oddie sudah memutuskan untuk membenci Nathan.


Oddie mulai menggigil, penglihatannya semakin buram. Ubin itu memang terlalu dingin, tapi Oddie juga terlalu lemah untuk bergerak. Entah fisiknya, hatinya, tulangnya semuanya terasa sakit. Sampai Oddie pingsan setelah mengingat sekelebat bayangan pria yang mencuri ciuman pertamanya dan mengatakan sangat mencintainya.


Saat ini, Nathan kembali ke rumahnya. Entah apa yang Nathan pikirkan saat ini. Tapi pria itu hanya memegangi kepalanya yang berat. Miris memang. Menyiksa istrinya sendiri dan mengurungnya, lalu merawat selingkuhannya yang hanya memanfaatkannya.


Bodoh?


Ya. Nathan memang bodoh karena dibutakan cintanya kepada Kirana. Siapa yang tidak pernah bodoh karena cinta?


Tapi kebodohan itu akan segera berakhir sebentar lagi. Bukan karena tamparan dari Papa Erlangga yang akan dia dapatkan sebentar lagi. Tapi karena sebuah fakta yang baru terungkap setelah dua tahun lamanya. Dari Oddie yang normal dan sempurna menjadi Oddie yang cacat dan penuh keterbatasan.


"Nathan?"


Panggil Papa Erlangga. Pria paruh baya itu segera mendekati Nathan yang sedang kacau. Nathan yang ditemukan oleh papanya segera bangkit. Melihat papanya dengan tatapan penuh tanda tanya. Nathan tidak tahu apa yang membuat papanya kemari tapi yang jelas, tepat setelah Nathan berdiri sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.


Plak


Nathan tersenyum sinis. Lalu melihat papanya dengan amarah yang naik.


"Pa!" teriak Mama Maureen ketika melihat suaminya menampar Nathan. Tapi teriakan Mama Maureen tidak dihiraukan Papa Erlangga.


"Dimana Oddie?" tanya Papa Erlangga.


Nathan menyunggingkan senyum lebar. Oh, jadi inikah yang membuat ayahnya menamparnya?


"Aku baru saja memberikan pelajaran untuknya. Kalau papa ingin bertemu dengannya, maka temukan sendiri kalau bisa, Pa?" tantang Nathan dengan satu bibir yang terangkat keatas


Papa Erlangga mengepalkan tangannya erat-erat. Mencari Oddie sendiri ya? Sebenarnya Papa Erlangga sudah melakukannya. Tapi kalau Nathan sudah menyembunyikannya, apa ada kemungkinan bagi Papa Erlangga untuk menemukannya?


"Sampai kapan kau akan memperlakukan Oddie seperti itu, Nathan? Apa salahnya? Tidak cukupkah setelah memberikannya dua tahun hidup seperti di neraka?" tanya Papa Erlangga geram.


"Tidak cukup. Tidak akan pernah cukup, Pa! Apa papa tahu apa yang dia lakukan tadi? Dia membuat anakku yang ada di perut Kirana gugur, Pa!" jawab Nathan.


"Nathan!" bentak Papa Erlangga.


Dua pria itu semakin meninggikan nada bicaranya. Membuat pengawal segera memegangi mereka sebelum mereka semakin mengamuk.


"Sudah, jangan bertengkar!" kata Mama Maureen lagi.


Dua pria itu masih emosi. Seandainya hubungan mereka bukan ayah dan anak, sudah pasti mereka adu jotos saat ini. Untung saja Leah datang tepat waktu. Karena saat melihat Leah datang dengan wajah aneh, Nathan dan Papa Erlangga baru melupakan emosi yang sempat meledak.


"Ada apa. Kenapa kau kemari?" tanya Papa Erlangga.


"Tuan Besar meminta kedua Tuan dan Nyonya ke perusahaan sekarang juga!" jawab Leah dengan sopan.


"Aku tidak ingin pergi!" tolak Nathan.


Pria itu sudah berbalik arah. Siap pergi ke rumah sakit untuk mengantarkan barang milik Kirana. Tapi hanya dengan satu kalimat, Leah bisa membuat Nathan berhenti.


"Apa maksudmu?" tanya Nathan.


Nathan kembali berbalik arah. Sementara Papa Erlangga dan Mama Maureen semakin mendekati Leah. Tapi Leah enggan mengatakan lebih jelas karena itu bukan haknya.


"Tuan Besar sudah menunggu," kata Leah.


.


.


.


Semuanya berawal dari kecurigaan tim elit khusus yang Kakek Moeis bentuk untuk menyelidiki setiap transaksi mencurigakan belum lama ini. Niatnya untuk menyelidiki adakah penyelewengan dana di perusahaan besarnya. Tapi mereka akhirnya malah menemukan sebuah fakta yang cukup mencengangkan. Yaitu, orangtua Oddie bukanlah seorang koruptor.


Tidak ada yang bersuara lagi setelah tim gabungan mengungkap semuanya. Sangat terlambat memang. Setelah dua tahun berlalu. Setelah ayah Oddie mati dan tidak akan pernah kembali, orang itu baru dinyatakan tidak bersalah. Hal konyol macam apa ini.


Saat itu ayah Oddie mengakui kesalahan yang tidak dia lakukan demi melindungi keselamatan Oddie, satu-satunya anak yang dia punya. Alasannya adalah karena seseorang telah mengancam ayah Oddie waktu itu. Mereka mengancam akan membunuh Oddie jika ayah Oddie berani buka mulut dan tidak mengakui kesalahan itu.


Nathan mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak lagi banyak bergerak meskipun hanya sekedar mengangkat kepalanya. Nathan mencoba menolak kenyataan. Oddie yang selalu dia hancurkan itu, bagaimana bisa bukan anak seorang koruptor. Pasti ada yang salah. Pasti ini ulah kakeknya yang sengaja melakukan ini untuk melindungi Oddie.


"Kalian pasti bohong kan?" tanya Nathan.


Nathan melihat kearah tim gabungan itu. Berharap mereka akan segera mengaku bahwa apa yang mereka katakan salah. Tapi jawaban mereka membuat Nathan frustasi.


"Kami sangat menyesal atas kelalaian kami di masa lalu. Tapi inilah kebenarannya, Tuan!" kata penyidik sembari menyerahkan bukti-bukti yang mereka dapatkan.


Waktu itu, kasus itu tidak di selidiki ulang karena terdakwa sudah mengakui semuanya. Jadi kasusnya di tutup. Siapa yang menyangka ternyata ayah Oddie sengaja mengaku karena berada di bawah tekanan beberapa orang.


"Sepasang suami istri itu benar-benar bukan pasangan koruptor?" tanya Mama Maureen.


Sama seperti Nathan. Wanita itu juga sama terkejutnya.


"Bukan," jawab penyidik dengan rasa bersalah.


Berbeda dengan Nathan dan Maureen yang masih tidak terima. Papa Erlangga dan Kakek Moeis merasa lega karena akhirnya kasusnya diusut tuntas. Ya, mereka lega meskipun sekarang tidak tahu harus melakukan apa. Minta maaf dan memberikan kompensasi sudah pasti. Tapi untuk Oddie yang sampai cacat, bagaimana cara mereka meminta maaf. Lalu untuk nyawa yang telah hilang itu, bagaimana cara mereka mengembalikannya?


Nathan membaca satu persatu bukti itu dengan teliti. Sampai pada lembaran terakhirnya, Nathan baru meremas bukti itu sebelum membuangnya dengan kasar di meja.


"Nathan?" panggil Kakek Moeis.


Tapi Nathan tidak menyahut sampai Papa Erlangga meminta Nathan memberitahu mereka dimana Nathan menyembunyikan Oddie yang malang.


"Anakku. Katakan dimana Oddie sekarang!" kata Papa Erlangga lembut.


Nathan langsung berdiri. Meninggalkan perusahaan dengan tergesa-gesa tanpa menjawab pertanyaan Papa Erlangga. Papa Erlangga ingin menyusulnya saat itu juga tapi Kakek Moeis melarangnya dan memilih mengirimkan beberapa orang untuk mengikuti Nathan. Setelah kenyataan terbongkar, Kakek Moeis yakin Nathan tidak akan berbuat apa-apa meskipun tahu sedang di buntuti.


"Die, kau tidak mati kan?" gumam Nathan.


...***...