
Niatnya ingin mengungkap dan menunjukkan semua bukti foto dan video rekaman perselingkuhan Jasmin tidak Danu lakukan. Karena dia ingin memberi pelajaran pada Jasmin dan orang tuanya, terutama ibunya.
Danu membiarkan Jasmin berbuat sesuka hatinya, berselingkuh dengan teman satu kampusnya. Tapi sikapnya yang berubah menjadi dingin. Seperti biasa dia masuk kantor pagi dan pulang mampir ke rumah Laras. Dia tidak bosan datang ke rumah itu, meski selalu kosong.
Bingung dia mau cari kemana Laras tinggal. Teman Laras pun dia tidak tahu, jadi hanya untuk mengobati rasa rindu dan kehilangan Danu pergi ke rumah Laras setiap sore. Bahkan bunga-bunga di halaman rumah banyak yang mati, terkadang Danu yang menyiramnya jika ingat.
Pagi ini Danu seperti kehilangan semangat untuk bekerja, namun dia tetap profesional bekerja. Karena ada tamu yang akan dia temui di kantor. Sebelum tamu itu datang, Rizwan masuk ke dalam ruangan Danu. Memastikan bagaimana sikap dan apakah Danu sudah memberitahu Jasmin masalah perselingkuhannya.
"Kamu sudah memutuskan bercerai dengan istrimu?" tanya Rizwan.
"Sudah." jawab Danu singkat.
"Sudah kamu tunjukkan semua bukti-bukti perselingkuhan dia?" tanya Rizwan.
"Belum." jawab Danu lagi dengan malas.
"Kenapa belum? Katanya kamu mau menceraikan dia? Atau kamu masih terlalu mencintai dia, jadi ragu untuk menunjukkan bukti-bukti itu padanya." kata Rizwan lagi.
Dia sudah menduga kalau Danu akan ragu dan tidak bisa memutuskan pernikahan dengan Jasmin. Meski bukti sudah ada dan lengkap.
"Bukan begitu, aku hanya ingin memberi dia pelajaran." kata Danu.
"Memberi pelajaran?"
"Ya, selama ini dia bergantung dengan uangku. Aku ingin mmebuat dia kelabakan dengan uang yang setiap minggu aku kurangi. Dan ibunya, setiap bulan aku kirimi. Jadi aku ingin mereka merasakan dengan susahnya uang yang aku kasih itu jadi berkurang. Aku ingin tahu mereka protes kekurangan uang yang selama ini aku kasih." kata Danu lagi.
Rizwan berpikir, memang harus di beri pelajaran. Dia tahu Danu memberikan uang setiap minggunya pada Jasmin lima juta. Jika di total dalam satu bulan jadi dua puluh juta. Dan ibunya Jasmin di beri setiap bulah hampir sepuluh juta. Jadi memang harus di beri pelajaran seperti itu.
Anaknya seenaknya selingkuh dengan teman kampusnya. Dan uang terus mengalir, itu memang keterlaluan.
"Jadi, menurutmu, Jasmin protes dan ibunya protes akan berkurangnya uang jatah darimu?" tanya Rizwan.
"Ya, dan dari situ aku akan berikan semua buktinya. Agar mereka tidak menuntut lagi, kurasa mertuaku akan marah jika aku beritahu anaknya itu selingkuh." kata Danu lagi.
"Hemm, bagus juga. Tapi kupikir jangan terlalu lama, karena aku pernah melihat istrimu itu di jalan dengan temannya naik motor dan berpelukan mesra sekali." kata Rizwan.
"Kamu tahu, semakin aku memikirkan perselingluhan Jasmin. Rasa di hatiku semakin hilang secara perlaha, dan entah kenapa aku kehilangan Laras." ucap Danu lirih.
Rizwan menatap ada kesedihan di wajah Danu. Dia memang sekarang berubah, lebih banyak diam dan banyak bekerja.
"Kamu sekarang tidak peduli pada Jasmin?" tanya Rizwan.
"Ya. Tapi aku masih sering mengantarkan dia ke kampus. Dia sekarang lebih menurut, tapi hatiku sudah sakit. Jadi itu mungkin hanya kedok saja." kata Danu.
Rizwan mengangguk, dia melihat Danu memang berubah. Entah dia sudah mencintai istri pertamanya tapi belum menyadarinya.
Tuuuut.
Ponsel Danu berdering, dia melihat nama istrinya yang menelepon. Danu membiarkan telepon itu, dia sudah menebak pasti Jasmin protes dengan uang yang dia kasih lebih sedikit.
Tuuut.
"Ponselmu berbunyi." kata Rizwan.
"Biarkan saja, dia pasti protes masalah jatah uangnya berkurang." kata Danu.
Rizwan tersenyum, memang gadis itu harus di beri pelajaran lebih dulu. Dia bisa mengkadali Danu, tapi dia bergantung pada uang Danu. Jadi memang harus di beri pelajaran lebih dulu agar bisa lebih puas untuk membalas perselingkuhan Jasmin pada Danu.
_
Sejak sore dia menunggu Danu pulang, tapi sampai jam delapan malam Danu belum juga pulang. Ponsel Jasmin berdering, yang menelepon ibunya.
"Ck, kenapa ibu telepon sih?" ujar Jasmin kesal, tapi dia menjawabnya juga.
"Halo, ada apa bu?" tanya Jasmin.
"Suamimu kenapa sih Jasmin? Kenapa dia transfer uang ke rekening ibu cuma satu juta. Kenapa dia pelit sih?" tanya ibunya di seberang sana.
"Aku juga ngga tahu bu, aku aja di kasih satu juta minta tadi pagi. Ini aku lagi nunggu dady pulang." kata Jasmin.
"Bilangin sama suamimu, tambahin lagi transferan uangnya seperti dulu. Kirim satu juta mana cukup buat kebutuhan satu bulan." kata ibunya Jasmin.
"Iya nanti aku tanya sama dady, dia belum pulang sampai malam begini. Kesal aku jadinya, kalau bukan karena uangnya. Sudah aku tinggalin dia itu, kolot orangnya. Masa aku harus masak, layani dia setiap hari." kata Jasmin berkeluh kesah pada ibunya.
"Kan kamu istrinya, Jasmin. Kamu harus melayani dia, jangan sampai dia mengurangi jatah ibu dan kamu."
"Tapi aku malas bu, ibu aja jarang memasak buat ayah." kata Jasmin.
"Itu beda, ayahmu tidak kerja. Kalau kerja cuma serabutan, jadi buat apa ibu capek-capek masak. Tunggu transferan dari suamimu saja, itu lebih baik." kata ibunya.
"Aku juga malas bu, aku kan kuliah setiap hari. Mana sempat, dan pulang kuliah kan capek." kata Jasmin beralasan.
"Seharusnya dia memahaminya kalau kamu capek pulang kuliah."
Jasmin diam, dia melihat mobil suaminya memasuki halaman rumahnya. Lalu dia menutup sambungan telepon dan segera menghampiri Danu dengan wajah kesal. Dia berdiri dengan bersedekap menatap tajam pada suaminya.
Danu berjalan menatap istrinya lalu melewatinya tanpa mempedulikan istrinya yang sedang kesal padanya. Dia masuk saja melewati Jasmin.
"Dady, stop!" teriak Jasmin.
Danu terus saja melangkah masuk ke dalam kamarnya. Jasmin mengejar masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan keras.
Brak!
"Dady! Kenapa uangku di kurangi jatahnya?" tanya Jasmin.
"Ya, kenapa memangnya?" tanya Danu.
"Ya kenapa dady mengurangi jatah mingguanku? Seharusnya lima juta, tapi dady mengirimnya cuma satu juta." kata Jasmin.
"Itu cukup untukmu yang tidak pernah membeli bahan makanan di dapur. Semuanya aku pesan sendiri, jadi cukup satu juta seminggu. Bahkan itu sangat lebih dari cukup." kata Danu masih bersikap sabar.
"Tapi segitu kurang dady, kenapa di kurangi? Dan ibu juga katanya dady kurangi jatahnya. Ada apa sih? Dady marah sama aku?" tanya Jasmin.
"Ya." jawab Danu singkat.
"Ck, seharusnya aku yang marah sama dady. Dady tiap hari pulang kerja selalu mampir ke rumah perempuan panti asuhan itu, aku ngga marah sekarang. Tapi kenapa dady mengurangi jatahku juga?"
"Cukup Jasmin! Aku lelah, tidak mau berdebat lagi denganmu. Jika kamu keberatan, kamu tidak usah pergi kuliah. Biar jatah uangmu tetap utuh." kata Danu.
Dia lalu masuk ke dalam kamar mandi, rasanya memang cukup melelahkan memikirkan keberadaan istri pertamanya yang belum di ketahui. Sedangkan Jasmin masih kesal sekali dengan suaminya yang sekarang lebih dingin padanya.
_
_
********************