
Gea mengangguk setuju dengan apa yang mama nya kata kan. Walau bagi Gea, jadi wanita sejati itu sangat sulit. Namun, ia yakin jika ia juga bisa kayak mama nya.
Saat mereka berdua masih berada di dapur, dan melupakan tentang nasi goreng yang baru bawang nya saja yang ada dalam kuali itu. Ada suara seseorang memberi salam dan masuk kedalam rumah.
"Ge, itu kakak mu sudah pulang. Ayo keruang keluarga, nanti masak nya di lanjut kan lain kali aja." kata mama.
"Iya ma, Gea juga gak mau masak lagi hari ini. Udah dua kali Gea bikin kacau dapur." kata Gea sambil mengikuti langkah mama yang berjalan menuju ruang keluarga.
"Udah pulang sayang." kata mama saat melihat Dewa.
"Udah ma, itu ada siapa tuh di belalang mama. Kayak istri orang deh, di belakang mama itu." kata Dewa saat melihat Gea berjalan di belakang mama.
"Apaan sih kak Dewa, aku ini adik kakak tahu gak. Gak perlu bilang istri orang lah, adik sendiri juga." kata Gea sambil duduk di samping Dewa.
Saat itu, Gea melihat sesuatu yang salah di samping dagu kakak nya. Di sana ada bekas memar, ntah apa yang kakak nya laku kan. Sehingga ada bekas memar di sana, memar nya terlihat seperti akibat pukulan.
"Kak Dewa abis ngapain sih, ini kok memar." kata Gea sambil melihat memar di dagu kakak nya.
"Auk, apaan sih kamu Ge. Sakit tahu gak, itu karna kakak jatuh di toilet kampus." kata Dewa.
"Ada apa sih, sini mama lihat." kata mama pula.
"Gak usah ma, Dewa gak papa kok. Mama gak usah dengarin apa yang Gea kata kan. Dia kan memang suka memperbesar sesuatu yang kecil." kata Gea.
"Kamu yakin gak papa Dewa, iya sih mama tahu siapa anak mama. Tapi terkadang kamu terlalu meremah kan." kata mama.
"Alah, aku pula yang salah. Ini mah bukan karna jatuh ma, melain kan karna pukulan. Apa jangan-jangan kak Dewa habis bertengkar ya di kampus." kata Gea.
"Enak aja bertengkar, kakak itu beneran jatuh Ge. Kakak bukan kamu tahu gak, yang hobi nya bikin masalah saat di tempat umum." kata Dewa.
"Lho kok jadi ngatain aku bikin masalah sih, aku kan hanya bilang sama apa yang aku lihat saja. Lagian aku gak suka bikin rusuh kalo gak ada yang layan." kata Gea.
"Udah-udah, kalian kok jadi berdebat sih. Kalian berdua itu sama aja sebenar nya, mama jadi bingung deh mau percaya kata siapa. Yang satu nya suka memperbesar masalah, dan yang satu lagi suka meremeh kan masalah. Jadi nya yang bingung kan mama juga." kata mama.
"Kali ini aku yang benar ma, kakak Dewa itu bertengkar di sekolah." kata Gea.
"Gak kok ma, Dewa jatuh di toilet. Mama gak perlu cemas, mana ada Dewa berantam kan selama ini." kata Dewa.
"Iya gak berantam, tapi sering di buli dan gak akan melawan." kata Gea.
"Udah, biar mama yang lihat apa iya yang Gea kata kan." kata mama sambil mendekat.
"Gak usah ma, gimana kalau bikin minum aja lah. Gak usah dengarin apa yang Gea kata kan. Dewa sangat baik-baik aja." kata Dewa.
"Alah modus minta di bikinin minum, padahal biasa nya bikin minum sendiri kamu kak. Biar mama gak lihat kan memar di dagu mu." kata Gea.
"Ya udah, mama bikinin minum dulu. Apa kamu juga mau mama bikinin minum Gea." kata mama.
"Gak usah deh ma, Gea gak mau minum kok sekarang, gak haus soal nya." kata Gea.
"Tangan kamu kenapa Ge, luka ya sampai harus di plaster gitu." kata Dewa saat melihat tangan adik nya.
Gea cepat-cepat menyembunyi kan tangan nya yang di tegur Dewa. Ia tak ingin kakak nya menertawan kan ulah nya hari ini.
"Gak papa kok, hanya ada sedikit luka saja." kata Gea.
"Kak, apa kuliah di tempat kakak itu enak." kata Gea.
"Tumben kamu bertanya pada ku masalah kuliah hari ini. Sudah setahun kakak kuliah di kampus itu, kenapa baru sekarang kamu bertanya." kata Dewa.
"Gak ada, kemarin kan aku masih sekolah. Mana ada waktu untuk nemikir kan masalah kuliah, apa lagi kuliah nya kak Dewa kan." kata Gea.
"Jangan bilang kamu mau kuliah Gea, kakak keberatan kalo kamu berniat ingin kuliah. Apa lagi di tempat kuliah yang sama dengan kakak." kata Dewa cemas.
"Aku emang ingin kuliah kak, dan memang berniat kuliah di tempat yang sama dengan kakak Dewa." kata Gea.
"Kamu gak bercanda kan Gea?" kata Dewa.
"Gak kok kak, aku udah ngomong malahan sama Elang. Kalo aku mau kuliah, di tempat yang sama dengan kak Dewa dan teman-teman yang lain." kata Gea bahagia.
"Kamu udah mikir masak-masak buat kuliah Ge, apa kamu gak mikir tugas mu akan dua kali lipat. Kamu kan istri orang Gea, lagian suami kamu itu ceo lho di perusahaan kalian." kata Dewa.
"Aku ingin sama kayak yang lain kak, aku ingin kuliah juga kayak Rika dan danu, kayak kakak juga. Apa salah nya kalau aku adalah istri dari seorang ceo di ELGA. Aku rasa sah-saj aja kan kalau istri ceo kuliah, mungkin akan lebih baik lagi." kata Gea panjang lebar.
"Masalah nya bukan itu Gea, kamu istri orang. Di tempat kuliah kamu akan bertemu banyak orang baru, kamu cantik dan pintar. Apa kamu tidak akan jadi pusat perhatian orang lain nanti nya." kata Dewa.
"Kak Dewa kok mikir nya giti sih, lagian gak ada yang lebih cantik dari aku apa di dunia ini. Apa salah nya kalau aku jadi pusat perhatian, yang penting kan hati gak kemana-mana." kata Gea.
"Kakak harap begitu, semoga saja gak akan ada pengaruh nya buat rumah tangga kamu dan Elang." kata Dewa.
Mama datang sambil membawa jus naga kesukaan Dewa. Walau pun Gea menolak saat mama tawar kan mau buat minum. Namun mama juga membuat untuk Gea.
"Nih, minum nya udah sampai." kata mama sambil meletak kan tiga gelas jus naga di meja.
"Makasih mama, ternyata ada untuk Gea juga." kata Gea senyum manis.
"Alah modus, tadi nya gak mau sekarang paling dulu." kata Dewa.
"Biarin, tadi aku gak haus. Tapi habis ngomong sama kak Dewa jadi haus, panas membara gimana gitu ya." kata Gea sambil mengibas-ngibas kan tangan nya.
"Emang ngomong apa sih kalian berdua, mama dender serius banget tadi." kata mama.
"Gak da papa ma, hanya sedikit masalah kuliah." kaya Dewa.
Jangan tanya Gea, dia sibuk menikmati jus naga nya. Ia tidak bisa menjawab apa yang mama tanya kan lagi pada nya. Karna ia sangat menikmati minuman nya.