
Dua tahun kemudian.
"Selamat ya Rika, Danu, akhirnya gelar sarjana kalian raih juga," kata Elang.
"Makasih banyak kak Elang, semua berkat doa dan dukungan kalian semua," kata Rika.
"Iya, kak Elang. Jika bukan doa dan dukungan kalian, kami tidak mungkin bisa meraih gelar sarjana ini. Terutama buat aku, bukan hanya dukungan mental, tapi materi pun kak Elang berikan buat aku," kata Danu sambil tersenyum manis.
"Eh tunggu, kayaknya ada yang kurang deh," kata Rika.
"Apa yanh kurang?" kata Danu kaget campur bingung.
"Iya, apa yang kurang Rika?" kata Elang.
"Itu mommy sarjana dimana, bukannya tadi masih ada disini," kata Rika.
Rika teelihat celingak celinguk mencari satu lagi sahabatnya. Ia mencari keberadaan Gea yang barusan masih berada disamping dia tadinya.
"Oh, induk sing a ternyata yang kamu cari," kata Danu tanpa sengaja bicara didepan Elang.
"Enak aja kamu ya, bilang istri aku induk singa. Kurang aja benar kamu," kata Elang pura-pura marah.
"Yah, maaf kak Elang. Gak maksud bilang gitu kok, aduh jangan marah dong."
"Gak marah, palingan, kamu diturun pangkatnya aja. Dari sekretaris Herika, menjabat jadi tukang sapu halaman kantorku," kata Elang.
"Ya ampun, jangan dong kak. Itu nama sangat amat kejam, akukan hanya bercana. Masa langsung turun pangkat aja sih kak Elangnya," kata Danu dengan wajah memelas.
"Gak kejam kok sayang, kamu sangat hebat deh. Kalo bisa, langsung aja berhentikan Danu dari kantor," kata Gea yang tiba-tiba datang bersama Elsy dan seorang bayi perempuan.
"Ibuk ceo yang baik hati, kamu jangan ikut-ikutan memojokkan aku dong," kata Danu sambil nyengir kuda cuma gak enak dilihat.
"Jangan ya kak Elang, anakku mau makan apa kalau aku gak kerja," kata Danu lagi.
"Bodo amat," ucap Gea.
Saat mereka sedang bercanda ria setelah resmi jadi sarjana. Datang Dandy menghampiri Gea sambil mengulurkan tangannya.
"Selamat ya, kamu sudah jadi sarjana," ucap Dandy.
Bukan Gea yang menyambut uluran tangan Dandy, melainkan Elang dan Danu secara bersamaan. Mereka terlihat inisiatif sekali buat mencegah Dandy bersalaman dengan Gea. Walaupun begitu, tangan Elang duluan yang bersalaman dengan Dandy.
"Makasih banyak pak dekan. Saya sangat senang atas ucapan selamat pak dekan ini," kata Elang.
Gea dan yang lainnya hanya bisa menahan senyum saja. Ia tidak bisa melihat wajah cemburu Elang dan wajah tak berdayanya Dandy saat berhadapan dengan Elang.
'Jaga baik-baik istrinya, karna jika sekali saja kamu sakiti, maka akan ada sepuluh yang datang buat mengobati luka bekas kamu sakiti,' bisik Dandy pada Elang.
Elang tidak menjawab apa yang Dandy katakan. Namun pikiran merekam dengan cepat apa yang Dandy ucapkan. Ia bahkan bertekat untuk ingat apa yang Dandy sampaikan, karna ia juga tahu siapa istrinya dimata semua laki-laki.
Dandy pamit setelah bicara seperti itu pada Elang. Yang lainnya hanya bisa penasaran dengan apa yang Dandy katakan.
"Ada apa sih Lang, apa yang pak dekan itu bisikkan pada kamu?" kata Gea penasaran.
"Gak ada apa-apa sayang, ayo kita duduk kembali kemama dan yang lainnya. Kasihan sikembar nunggu kamunya lama," ucap Elang mengubah pembicaraan.
"Oh iya ya, Adnan dan Adrian pasti sedang menunggu kita. Ayo pergi kesana sekarang," kata Gea sambil meranjak dari tempat ia berdiri.
Mereka bergerak menuju mama dan semua keluarga mereka masing-masing yang berada diaula. Nampak dari kejauhan, sikembar sedang sibuk bermain bersama babysitter dan juga Denis dan anaknya.
Denis sudah punya seorang putri sekarang. Ia juga ada di sana untuk menyaksikan teman-temannya yang jadi sarjana hari ini. Denis membunyai anak yang umurnya mungkin hanya berjarak setengah tahun dari sikembar. Sedangkan anak Danu sama juga perempuan, jaraknya juga hitungan bulan dari anaknya Denis. Mereka sudah punya putra dan putri, sedangkan Rika. Ia masih sendiri dan belum mendapatkan anak sama sekali.
Rika selalu merasa sedih saat melihat kebahagiaan semua sahabatnya. Ia merasa menyesal pada apa yang ia lakukan dahulu. Jika saja ia tidak ceroboh, mungkin saat ini ia sudah punya anak dan umurnya mungkin akan lebih tua dari anaknya Denis dan Sella.
Soal kuliah mah, bisa diurus ternyata. Lihat saja Gea, dia walaupun punya anak. Ia masih bisa jadi sarjana, sama seperti teman-temannya. Program kuliah dirumah, yang ia jalani ternyata bisa membuat ia tetap bisa jadi sarjana. Ia memang kuliah dari rumah. Namun seminggu sekali, ia masuk kuliah untuk beberapa jam. Ia selalu bisa menyeimbangkan tugasnya sebagai mama dari sikembar dan mahasiswa.
Rika merasa, ia sangat bodoh karna memikirkan untuk kuliah saat itu. Tapi saat melihat Gea yang sukses saat ini, ia merasa dirinya terlalu bodoh. Ia mengorbankan masa depan rumah tangganya. Hanya karna hal yang bisa ia atur.
Untuk saat ini, ia telah mencoba berbagai program agar ia bisa hamil. Namun hasilnya masih belum terlihat. Tapi tidak menutup kemungkinan juga ia bisa hamil. Karna dokter bilang, ia bukan tidak bisa hamil, namun ia hanya sulit hamil saja.
Ia terkadang selalu datang kerumah Gea hanya untuk bermain bersama sikembar. Sikembar itu sifatnya sangat mirip papa dan mamanya. Yang satunya sangat galak, dan satunya lagi sangat dingin pada orang lain. Yang mirip sama Gea adalah Adrian, ia sangat tampan dengan tahi lalat di bibir atasnya, sangat galak jika ia merasa tidak suka akan suatu hal. Yah, galaknya yang paling mirip sih. Ia sangat amat galak, itu yang membuat ia sangat mirip mamanya. Sedangkan Adnan, ia lebih mirip Elang. Wajah datar tanpa ekspresi, namun sangat amat tampan dengan lesung pipi disalah satu pipinya. Walaupun ia masih kecil, namun sifatnya sudah terlihat seperti mama dan papanya. Tapi siapa yang melihat sikembar, mereka akan tertarik dan sangat senang menatap wajahnya.
Rika masih tertegun saat melihat sikembar bermain bersama anak Denis. Ia merasa, jika ia punya anak, pasti lebih tua dari anaknya Denis.
"Sayang, apa yang membuat kamu mematung di sini," kata Dewa mengangetkan Rika.
"Ya ampun kak, bisakah kamu tidak membuat aku kaget," kata Rika sambil mengelus dadanya.
"Lho, kok kamu malah nyalahin aku sih sayang. Kamu yang termenung itu kenapa?" kata Dewa.
"Gak, aku hanya melihat sikembar. Kalau dilihat-lihat, ia semakin lama semakin mirip mama papanya ya kak," ucap Rika.
"Namakan juga anak mereka sayang, ya jelas mirip mama papanyalah. Masa kamu suruh ia mirip orang lain," kata Dewa.
"Ih kak Dewa mah gitu, akukan ngomong beneran. Merekakan masih sangat kecil, tapi sifatnya udah mirip Gea sama kak Elang aja. Gimana kalo udah besar nanti," kata Rika.
"Ya kalo besar pasti sama aja sayang, mau di gimanakan lagi. Orang sikembar memang anaknya Elang dan Gea," kata Dewa.