
Herika pun menghampiri Kirana, seperti apa yang Elang perintah kan pada nya. Ia pun mengulur kan tangan nya pada Kirana yang masih terduduk di lantai dengan kepala yang basah akibat ketumpahan minuman.
"Ayo Kirana, aku bantu kamu berdiri." kata Herika.
"Tidak perlu, aku bisa bangun sendiri." ketus Kirana dengan kesal sambil menepis tangan Herika yang telah bermaksud baik pada nya itu.
"Ya sudah kalau kamu tidak butuh bantuan aku. Aku hanya melakukan apa yang bos Elang pinta, jika bos Elang tidak minta pada ku membantu kamu. Aku juga merasa ogah membantu kamu, tahu gak." kata Herika panjang lebar.
"Dasar gadis sialan, berani-berani nya dia menggagal kan rencana aku. Kalau saja tidak ada gadis itu, aku pasti sudah ada di pelukan bos Elang sekarang." kata Kirana bicara sendiri tanpa memperdulikan apa yang Herika katakan. Dan tidak perduli jika Herika dan yang lain nya mendengar apa yang ia katakan.
"Hei, kamu gak tahu malu ya Kirana. Yang kamu bilang gadis sialan itu adalah istri dari bos Elang. Dia adalah ibuk ceo, pemilik perusahan ini." kata Herika yang mendengar kan apa yang Kirana katakan.
"Oh, jadi itu adalah istri dari bos Elang. Tidak cocok sama sekali dengan bos Elang." kata Kirana.
"Kirana, aku rasa mata mu yang salah kayak nya. Harus nya kamu pergi kedokter mata deh periksa tu mata." kata salah satu karyawan yang mendengar kan. Ia ikut menjawab karna merasa kesal dengan apa yang Kirana kata kan.
"Iya, mata kamu sakit. Kalau aku jadi ibu ceo ya, bukan hanya biarin kamu jatuh di sini tahu gak. Aku juga akan buat kamu masuk rumah sakit. Agar kamu gak dekat-dekat lagi sama suami aku." kata yang lain pula.
Karna merasa terpojok dan tidak bisa bicara apa-apa lagi. Kirana bangun sendiri dari jatuh nya. Ia pun pergi dari hotel itu dengan membawa perasaan yang sangat kesal.
Bukan nya malu sama apa yang ia lakukan. Ia malahan marah sama semua yang ada di sana. Karna semua nya ternyata membela Gea.
Kirana memang gadis yang tidak punya muka ternaya. Ia tidak merasa bersalah, dan tidak merasa malu sama Gea. Bukan nya merasa jera, ia malah merasa tidak puas sama apa yang terjadi hari ini.
Sementara itu, Gea dan Elang santai saja. Mereka sibuk menikmati rangkaian acara yang berlangsung. Hingga acara makan bersama itu selesai di laksanakan dan semua nya pulang kerumah masing-masing.
Sampai di rumah, Gea dan Elang duduk di sofa ruang keluarga. Elang senyum-senyum sendiri, ntah apa yang bikin hati nya senang. Dari tadi, ia terlihat sangat bahagia. Mungkin karna mood Elang hari ini lagi baik, maka nya ia senyum-senyum sendiri.
Gea memperhatikan Elang sejak tadi, ia merasa aneh dengan Elang. Gak ada angin gak ada hujan, kerjaan nya malah senyum-senyum sendiri.
"Lang, kamu gak salah makan tadi kan di jamuan makan bersama kita." kata Gea.
"Ya ngak lah, kamu fikir aku salah makan apa. Kan aku makan nya sama kamu, jadi kalo salah makan pun, kamu ada yang jagain aku." kata Elang sambil mendekat kan wajah nya kewajah Gea.
"Apaan sih Lang, ini gak di kamar lho ya. Kalo bibik lihat gimana?" kata Gea.
"Lang, kamu beneran salah makan deh kayak nya. Makin aneh aja kamu nya nih, apa sih yang kamu makan tadi." kata Gea.
"Gak ada yang salah sama aku, aku hanya terlalu bahagia aja hari ini. Kamu ternyata sayang juga ya sama aku." kata Elang.
"Maksud kamu?" kata Gea tidak mengerti.
"Yah, kamu hebat banget tadi Ge. Perhatian banget kamu sama aku ternyata." kata Elang.
"Kamu itu suami aku, jelas lah aku perhatian sama kamu. Dam jangan banyak koment untuk masalah yang tadi." kata Gea sambil bersandar di bahu Elang.
"Kamu capek Ge?" tanya Elang sambil mengubah posisi Gea dari bahu nya beralih kepangkuan Elang.
Belum juga Gea menjawab apa yang Elang katakan. Pintu rumah mereka di ketuk oleh seseorang dari luar. Ntah siapa tamu yang datang siang-siang begini.
Bibil dari dapur bergegas berjalan menuju pintu rumah. Namun, Gea mencegah bibik untuk membuka pintu. Karna ia masih berada dekat dari pintu.
"Gak usah bik, biar aku aja yang buka." kata Gea.
"Baik non." bibik pun kembali melanjut kan pekerjaan nya.
Baru juga Gea mau beranjak dari duduk nya, Elang menahan tangan nya.
"Kamu tunggu aja di sini, biar aku aja yang buka pintu nya." kata Elang sambil bangun dari duduk nya dan berjalan menuju pintu.
Gea hanya melihat apa yang Elang lakukan. Elang begitu perhatian sama istri nya, mau buka pintu aja gak di kasih sama Elang. Karna ia lihat Gea capek.
Saat pintu di buka, tiga makhluk yang akan bikin rumah mereka heboh itu pun muncul. Siapa lagi kalo bukan sahabat Gea, Rika dan Danu. Tak lupa juga kak Dewa, ia juga ikut hadir melengkapi makluk yang akan bikin berisik rumah Gea.
"Siapa yank..." suara manis yang sedang menunggu tamu nya dengan penasaran.
Belum juga sempat Elang menjawab, itu makluk udah pada berisik aja. Mengimbangi suara Gea yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Kejutaaaaan...." kata kedua makluk itu.