
Elang menatap mata Gea, ia tidak tahu apa yang Gea rasakan. Namun ia bisa melihat, kalau Gea kaget sama apa yang ia ucapkan.
"Aku hanya ingin menyampaikan apa yang terlintas di hatiku saja Ge. Jika kamu gak mau, aku gak akan memaksakannya. Namakan juga menyampaikan apa yang ada di hati," kata Elang.
"Kapan aku bilang tidak mau, sama kamu Lang," kata Gea.
"Ya kamu memang gak bilang gak mau tadi. Hanya saja, aku tahu kalau kamu pasti akan menolak apa yang aku katakan."
"Kamu yakin mau bulan madu sekarang?" kata Gea tanpa menanggapi apa yang Elang katakan barusan.
"Iya yakinlah, itu sih kalau kamu mau aku ajak bulan madu. Aku tahu, selama kita nikahkan kita belum ada bulan madunya Ge."
Ge senyum saat melihat wajah Elang yang berharap. Namun tidak berani memaksakan keinginannya. Ia berharap Gea ikut, namun ia tidak ingin mengatakan kalau ia ingin Gea menuruti apa yang ia katakan.
"Kenapa kamu malah senyum-senyum sendiri Ge?" kata Elang.
"Aku gak senyum sendiri lho Lang, aku senyum sama kamu lho ini."
"Aku gak merasa kamu senyum sama aku, aku malah merasa kamu senyum karna aku yang menyedihkan saat ini bukan?" kata Elang dengan wajah yang tambah sedih lagi.
"Aku tidak suka wajah yang menyedihkan itu," kata Gea.
"Baiklah, aku menyedihkan. Tapi bagaimana dengan tawaranku, apakah juga terlihat menyedihkan."
"Iya, tawarannya juga sangat menyedihkan. Tapi ...."
Gea sengaja menggantungkan perkataannya. Ia tahu kalau Elang akan penasaran apa yang tersembunyi dibalik kata tapi yang ia ucapkan.
"Tapi apa Ge?" kata Elang penuh harap dan semangat.
"Tapi apa ya Lang, aku lupa sama apa yang ingin aku katakan," kata Gea pura-pura menginggat.
"Ge ... ayolah, jangan bercanda saat ini. Aku ingin tahu apa tanggapan mu sama ide bulan madu yang aku utarakan."
"Mau bilang apa aku gelitikin kamu," kata Elang lagi sambil mengangkat tangannya.
"Apaan sih Lang, mana boleh gitu kamu sama aku."
"Yaudah kalo kamu gak mau bilang, aku gelitikin beneran kamunya."
Tangan Elang bergerak, ingin menggelitikan Gea. Tapi sebelum itu terjadi, Gea menyerah dan ingin mengatakan apa tanggapannya soal bulan madu yang Elang rencanakan.
"Aku bersedia bulan madu sama kamu Lang, yah walaupun ini rasanya agak terlambatkan. Kita nikah sudah hampir tiga tahun lebih. Tapi bulan madunya baru sekarang."
"Iya aku tahu ini agak terlambat, tapi ... kamu bilang apa tadi Ge. Ulangi sekali lagi apa yang kamu katakan."
Elang baru ingat, ia seakan tak percaya apa yang Gea katakan. Ia ingin Gea mengulang sekali lagi apa yang Gea katakan. Ia ingin memastikan apa yang telinganya dengar tidak salah.
"Iya aku akan ikut kamu, kita akan bulan madu kemana tempat yang kamu sukai," kata Gea mengulang sekali lagi apa yang ia katakan.
Hati Elang yang bahagia tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya. Ia dengan cepat kembali memeluk Gea dengan erat dan mencium istrinya berulang kali.
....
Elang dan Gea sepakat untuk pergi bulan madu kenegara yang memiliki gunung fuji. Mana lagi kalau bukan negara Jepang. Ya, mereka sepakat akan pergi ke Jepang. Ntah kenapa, Elang memilih tempat itu sebagai tempat bulan madu pertama mereka. Yang pasti, Elang sangat tertarik dengan negara yang punya gunung fuji itu.
Mereka berencana akan pergi beberapa hari lagi. Setelah Gea meminta surat liburnya dan Elang menyerahkan tangung jawab kantornya pada Herika. Maka mereka akan pergi bulan madu secepatnya.
....
"Den, kamu sekarang jadi sering datang kesini yah. Kamu gak sibuk sama kuliahan kamu sekarang ini," kata Sella pada Denis saat mereka sedang duduk di taman panti.
"Aku belum mulai kuliah sekarang Sell, aku hanya ingin melihat teman lama saja. Apa kamu keberatan kalau aku sering datang kepanti ini?" kata Denis.
"Aku gak keberatan Den, aku malahan senang kamu ingat sama aku sebagai teman mu."
Denis dan Sella bicara beberapa hal, sampai akhirnya Denis bertanya hal pribadi sama Sella.
"Sel, apakah aku boleh bertanya satu hal sama kamu?" kata Denis.
"Mau tanya apa kamu pada aku, katakan saja."
"Apakah kamu sudah punya pacar sekarang?" kata Denis dengan wajah yang terlihat sedikit cemas.
Sella tertawa mendengarkan pertanyaan yang Denis lontarkan. Ia tak menyangka kalau Denis akan menanyakan hal selerti itu padanya.
"Lho, kamu kok malah tawa sih Sell. Apa pertanyaan aku itu lucu bagi kamu."
"Iya Denis, pertanyaan kamu itu lucu banget bagi aku tahu gak. Masa kamu tanyakan aku punya pacar atau belum sih. Emangnya kalau belum kamu mau jadi pacar aku gitu yah?" kata Sella sambil tertawa lagi.
"Iya ...." kata Denis singkat namun mampu membuat Sella berhenti tertawa.
"Iya, aku ingin jadi pacar kamu. Jika kamu benar-benar belum punya pacar," kata Denis dengan sangat serius.
Sella terlihat kaget, ia tidak menyangka Denis akan mengatakan hal itu. Ia sebenarnya hanya inseng sambil bercanda saja tadinya.
"Apa kamu gak bercanda sama apa yang kamu ucapkan itu Denis," kata Sella masih kaget.
"Aku gak bercanda Sella, aku serius sama apa yang aku katakan."
Denis memegang tangan Sella dan merlutut dipangkuan Sella yang terlihat tak percaya sama apa yang Denis katakan.
"Denis," kata Sella sambil melepaskan tangannya yang Denis pegang.
Sella berdiri dari duduknya, meninggalkan Denis yang masih berlutut ditempat Sella duduk tadi.
"Aku rasa kamu salah orang untuk mengatakan hal itu. Aku bukan orang yang tepat untuk kamu katakan hal itu Denis," kata Sella.
"Aku tidak salah orang Sella, aku tidak salah orang untuk mengatakan kalau aku sedanga jatuh cinta."
"Aku tidak cocok untuk kamu jadikan pacarmu. Apa lagi kamu ingin menjadikan aku pasaganmu, lebih tidak cocok lagi Denis."
"Kenapa kamu berkata aku tidak cocok sama kamu. Apa karna ku tidak terlalu tampan atau aku tidak terlalu kaya sehingga aku tidak cocok sama kamu."
"Tidak, bukan karna itu. Aku tidak bisa mengatakan apa yang ada dihatiku saat ini."
"Apa ada orang lain dihati kamu saat ini Sella?" kata Denis sambil menatap Sella.
Sella diam, sebenarnya memang ada orang lain yang diam di hatinya selama. Tapi bukan karna itu juga ia menolak Denis.
"Kamu diam, aku benar bearti. Aku tahu siapa orang yang ada dihati kamu saat ini Sella."
"Aku harus pergi," kata Denis dengan perasaan kecewanya