Cantik Cantik Galak

Cantik Cantik Galak
S 35


Rika tidak menjawab apa yang Dewa katakan, hanya saja, ia mengikuti langkah kaki Dewa yang berjalan duluan meninggalkan Astrid dan dua teman laki-lakinya.


Dibelakang Rika, Danu menyusul untuk meninggalkan ruangan itu. Sedangkan Astrid dan kedua temannya hanya diam saja melihat kepergian Dewa. Astrid tidak menyangka, kalau apa yang ia katakan akan membuat Dewa terlihat sangat kesal sekali.


"Trid, aku sudah bilang padamu bukan? Dewa itu memang baik padamu, hanya saja, dia akan lebih sayang pada adiknya," kata salah satu temannya itu.


"Kamu salah cari masalah Astrid. Sekarang, bukan hanya primadona kampus yang jadi musuhmu, orang yang kamu sukai juga sekarang ikut menjadi musuhmu," kata yang satunya lagi.


"Sekarang aku harus gimana?" kata Astrid kebingungan.


"Apa lagi yang bisa kamu lakukan selain berdamai dengan Gea. Aku lihat, kunci Dewa itu adiknya," kata temannya.


"Tidak, aku tidak bisa melakukan hal itu. Aku sangat tidak suka dengan gadis itu, sifatnya yang terlalu galak dan selalu bikin masalah, itu yang buat aku merasa sangat benci dia."


"Kamu tidak tahu, apa lagi yang tersembunyi dibalik kehidupan gadis galak itu. Kamu juga tidak tahu, dia punya misteri apa lagi sekarang. Hari ini saja, dia sudah membuat seisi kampus kita gempar dengan tingkahnya yang terlalu galak. Belum lagi, ia adalah istri dari seorang ceo muda yang terkenal dan sangat tampan itu."


"Sudahlah, lain kali kita bahas lagi hal ini. Aku sedang pusing sekarang, tidak ingin memikirkan masalah ini lagi," ucap Astrid sambil berjalan meninggalkan ruangan itu.


Kedua temannya itu saling pandang saja sekarang. Mereka tidak bisa bicara apapun lagi pada teman mereka itu.


....


Esoknya, Gea datang kekampus seperti biasanya. Tidak ada yang berubah dari seorang Gea, ia bahkan tidak memikirkan apa yang terjadi kemarin itu. Baginya, apa yang telah lewat, maka tidak akan ia kenang lagi.


Sampai dikampus, para lelaki seakan takut melihat Gea. Tidak ada yang berani mendekatinya lagi. Hari ini, mereka benar-benar menjaga jarak dengan primadona kampus.


Saat Gea lewat, tidak ada yang berani membicarakannya. Mereka menutup mulut rapat-rapat, saat Gea lewat didepan mereka. Tapi saat berada dibelakang Gea, mereka akan bicara tentang gadis itu. Bicara masalah kekaguman, atau malah sebaliknya.


"Danu, tumben kamu sendirian hari ini," kata Gea saat melihat Danu yang duduk dikursinnya.


Danu pun melihat kearah Gea yang sedang berada didepan pintu masuk kelas mereka.


"Iya Ge, Rika gak masuk hari ini. Ia mengatakan padaku, kalau ia sedang flu berat."


"Oh," ucap Gea singkat sekali.


"Kamu udah tahu Ge, siapa yang ngasih kotak cincin itu padamu?" kata Danu tiba-tiba membuka pertanyaan tentang kotak cincin yang telah Gea lupakan karna masalah kakaknya kemarin.


"Oh iya, aku baru ingat soal kotak cincin berlian itu. Aku belum tahu siapa pemiliknya, dan juga, kotak cincinnya tidak ada padaku saat ini," kata Gea dengan wajah yang santai.


"Lho, kok bisa gak ada di kamu sih Ge. Kamu kemanakan kotak cincin itu, jangan bilang kamu telah membuangnya yah."


"Enak aja aku buang, mana ada aku sembarang membuang barang orang yang seberharga seperti cincin itu."


"Lalu? Kamu letakkan dimana cincin itu Ge, jangan bikin aku cemas sama kamu dong Gea. Gimana kalau kak Elang salah paham sama kamu gara-gara cincin itu," kata Danu dengan wajah yang tidak enak dilihat.


"Ye ... kamu mencemaskan aku, apa mencemaskan cincin itu sih Danu."


"Udah deh, jangan banyak bicara lagi. Dimana cincin itu kamu letakkan."


Gea membuka tasnya, mengeluarkan seluruh isi dari tas itu. Ia mencarinya berulang kali, namun barang yang ia cari, sama sekali tidak ia temui.


"Lho, kok gak ada sih Danu. Bukannya aku rasa, kemarin aku meletakkan didalam tasku ini."


"Ingatkan lagi Gea, kamu jangan sampai menghilangkannya. Jika jatuh ketangan orang yang memusuhi kamu, maka akan bikin kamu jadi punya masalah."


"Oh iya, aku ingat sekarang dimana kotak cincin itu berada," kata Gea sambil senyum manis dibibirnya.


"Dimana?" kata Danu mulai terlihat tenang.


"Aku memberikannya pada Rika sebelum kita pergi melihat apa yang telah terjadi di ring tinju."


Danu terlihat memikirkan sesuatu, saat Gea mengatakan soal cincin yang ia serahkan pada Rika.


"Ada apa sih Dan, kenapa kamu terlihat memikirkan sesuatu sih?" kata Gea penasaran.


"Ge, apa kamu berangkat kekampus bersama dengan kak Dewa tadi?" kata Danu.


"Ngak, napa emangnya?" tanya Gea semakin bingung.


"Gak ada apa-apa, aku hanya memikirkan sesuatu pada Rika dan kak Dewa."


"Maksud kamu apa sih, jangan bikin aku pusing deh Dan."


"Gak ada, kamu gak perlu mikir. Bukannya lusa, kamu dan kak Elang pergi keluar negara bukan?" kata Danu berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Jangan mengalihkan pembicaraan Danu, aku lagi gak ada muod untuk membahas soal perjalanan aku sama Elang."


"Baiklah, baiklah, aku selalu kalah dengan kamu. Ayo ikut aku, kita lihat, apakah yang aku pikirkan itu benar atau tidak."


Danu menarik tangan Gea, meninggalkan kelas mereka dengan cepat. Sedangkan Gea hanya bisa pasrah mengikuti Danu yang menariknya. Mereka keluar menuju parkiran.


"Danu, kok malah keparkiran sih."


"Ikut ajalah, kalau kamu gak ikut, maka kamu gak akan tahu apa yang akan aku lakukan."


Gea dan Danu masuk kedalam mobil Danu. Mereka meninggalkan kampus, menuju jalan raya yang sangat amat ramai itu. Hingga akhirnya, mereka menuju sebuah jalan yang lumayan agak sepi. Sebenarnya bukan jalan, melainkan, sebuanh gang kecil yang terletak di perkomplekan yang sederhana.


"Lho, inikan gang menuju rumah Rika."


"Iya, kita akan kerumah Rika sebentar. Aku ingin memastikan sesuatu."


Mobil pun berhenti dihalaman rumah yang sederhana itu. Lalu turun dan mengetuk pintu rumah sederhana itu.


"Asslamaualikum," kata Danu sambil mengetuk pintu rumah itu.


"waalaikumsalam, tunggu sebentar," kata suara seseorang didalam rumah itu.


Beberapa saat kemudian, pintu rumah sederhana itu pun terbuka, sambil memunculkan seorang wanita paruh baya.


"Selamat pagi bunda," sapa Danu ramah.


"Eh, Danu dan nona Gea. Selamat pagi anak-anak," jawab wanita paruh baya yang dipanggil bunda oleh Danu.


"Pagi bunda, apa Rika ada dirumah?" kata Gea.


"Ada non, Rika sedang berada dikamarnya. Silahkan masuk aja," kata bunda.


"Bunda, gak usah panggil Gea dengan sebutan non lagilah. Gea kan udah sering bilang sama bunda, kalau Gea ini, suka jika dipanggil nama aja. Gak perlu pakai embel-embel nona lagi gitu," kata Gea bicara panjang lebar.