Cantik Cantik Galak

Cantik Cantik Galak
+77


Gea di bikin jadi panik dengan apa yang Dewa kata kan. Ia menghampiri Elang dengan perasaan cemas.


"Lang,... Kamu baik-baik aja kan Lang." kata sambil memegang tangan Elang.


"Lang, ayo dong Lang bagun. Kamu gak bisa pingsan disini karna aku." kata Gea sedih.


"Ge, apa mungkin Elang patah tulang dek, karna kamu timpa dari atas pohon itu." kata Dewa.


"Kak jangan bikin aku tambah takut dong, ayo cari kan cara agar bisa bangun kan Elang." kata Gea.


"Kakak tidak tahu cara apa agar Elang bagun Gea, jika dia terluka parah bagai mana." kata Dewa lagi.


"Kak, jangan bilang gitu. Aku yakin Elang akan baik-baik aja. Kata kan pada ku yang baik-baik aja kak." kata Gea sambil mengangkat kepala Elang dan meletak nya di pangkuan nya.


Terlihat jelas di wajah Gea, ia sedang sangat cemas dan takut Elang terluka. Ia tidak ingin suami nya kenapa-napa.


Tanpa sadar, air mata tumpah dan mengalir di pipi nya. Karna Elang tidak bangun juga apa pun cara nya ia tidak berhasil membuat Elang bagun.


Air mata Gea jatuh di pipi Elang tanpa Gea sadari.


"Kamu kok nangis sih Ge, kan gak lucu." kata Elang tiba-tiba saja.


"Lang... Kamu baik-baik aja kan." kata Gea.


"Kamu cemas pada ku Ge, berarti kamu sayang pada ku kan." kata Elang tersenyum.


"Maksud kamu apa sih. Aku gak sayang sama kamu." kata Gea berubah wajah nya


"Jujur aja Ge, kamu sangat cemas ketika aku gak bangun tadi kan. Dan bahkan kamu nangis karna aku tidak bangun." kata Elang.


"Apa tadi kamu bohong Lang. Berarti kamu sengaja mengerjai ku ya." kata Gea marah.


"Gak kok Ge, aku tadi benar-benar pingsan." kata Elang.


Sebenar nya Elang memang bohong tadi, ia tidak pingsan. Ia hanya ingin melihat bagai mana Gea tahu ketika ia tidak sadar kan diri.


"Kamu bohong aku lagi Lang." kata Gea sambil melepas kan kepala Elang keatas rumput.


"Ngak kok Ge, benar ini. Aku pingsan lho tadi, ya kan Dewa." kata Elang sambil meminta Dewa ikut membela nya.


"Eh,, kenapa kakak yang ikut dalam urusan kalian sih. Mana kakak tahu." kata Dewa dengan muka yang tidak bersalah nya dia.


Padahal kan memang Dewa tahu, jika Elang tidak pingsan sama sekali.


"Kakak..... Berani nya kakak membohongi aku ya." kata Gea bersiap siap mengejar Dewa.


Melihat Gea yang mengejar nya, Dewa tidak punya pilihan selain lari dari kejaran adik nya itu.


"Lang... Ini semua karna kamu, aku kan gak ikut tapi malah kena imbas nya." kata Dewa sambil berlari.


"Aku juga gak niat kok Dewa, tapi aku rasa aku tidak bisa membantu mu. Karna punggung ku rasa nya perih sekali." kata Elang.


"Ge... Cukup-cukup, kakak capek banget. Ampun deh." kata Dewa yang terengah-engah karna capek berlari.


"Dapat kamu kak Dewa, aku akan gelitikin kakak sampai terkencing." kata Gea menangkap Dewa.


"Ampuun... Jangan gitu dong Ge, mending kamu lihat Elang tuh. Apa yang terjadi pada pungung nya." kata Dewa.


"Gak, kalian udah bohong sekali. Aku gak akan kena untuk yang kedua kali. Tahu gak." kata Gea.


"Tapi, kakak rasa kali ini gak bohong deh Ge. Kayak nya Elang benar-benar sakit deh." kata Dewa.


"Aku gak akan percaya lagi. Biar aja dia sakit, siapa suruh tadi bohong pada ku." kata Gea tak perduli.


Melihat adik nya tidak perduli, Dewa yang menghampiri Elang yang masih duduk di atas rumput tempat jatuh nya tadi.


"Kamu gak papa Lang, apa kamu benar-benar gak bisa bangun sekarang." kata Dewa.


"Aku baik-baik aja kok, hanya saja terasa sangat perih di belakang ku." kata Elang.


Untuk melihat apa yang terjadi, Dewa melihta punggung Elang. Ternyata di sana ada goresan-goresan kecil yang terdapat di bungung Elang.


"Apa kah kamu mau kerumah sakit Lang, aku lihat ada goresan di pungung mu saat ini. Dan aku gak tahu apa kah tulang belajang nu ada masalah atau ngak." kata Dewa.


"Gak perlu Wa, aku baik-baik saja. Hanya istirahat sebentar nanti juga baik-baik aja aku." kata Elang.


Elang pun memutus kan untuk pulang, Dewa membantu nya berdiri. Sedang kan Gea, ia merasa sedikit bersalah karna tidak percaya bahwa Elang memang sedang sakit.