
Setelah oma meninggalkan rumah Gea dan Elang. Gea terlihat sedikit murung dan sedih.
"Ge, kalau kamu ingin kita nginap dirumah oma malam ini juga gak papa kok. Aku gak akan keberatan jika kita tidur dirumah oma," kata Elang sambil menyentuh bahu Gea.
"Lho, kenapa jadi tidur kerumah oma sih Lang?" kata Gea tidak mengerti.
"Kamu terlihat sedih saat oma pulang, makanya ku tawarkan kita tidur dirumah oma malam ini."
"Aku gak sedih karna oma pulang, tapi ada hal lain yang aku pikirkan. Dan itu membuat masalah besar bagi aku," kata Gea.
"Maksud kamu?"
"Lang, aku telah membuat masalah besar buat hubungan kak Dewa dan Rika. Aku merusak hubungan mereka Lang," kata Gea dengan sedihnya.
Elang menarik tubuh Gea kepelukannya, ia jarang sekali melihat wajah cantik itu bersedih. Sehingga saat sedih seperti ini, membuat hati Elang seakan ikut merasakan betapa beratnya beban yang Gea hadapi saat ini.
"Sayang, kamu bisa ceritakan padaku apa yang telah kamu alami hari ini. Dan apa masalah yang telah kamu lakukan, sehingga kamu merusak hubungan mereka. Aku akan bantu kamu," kata Elang sambil membelai rambut Gea.
"Lang, aku telah membuat kak Dewa marah pada Rika. Karna sebuah cincin berlian yang lelaki berikan padaku," kata Gea dengan jujur.
Elang kaget, tapi berusaha untuk tidak terlihat kalau ia sedang kaget. Ia tidak mungkin membuat istri cantiknya ini bertambah sedih. Ia berusaha bersikap layaknya tidak terjadi apapun dengan hatinya. Padahal hatinya sedang tidak enak dengan kata yang ia dengar dari mulut Gea.
"Lang, kamu marah padaku saat ini. Aku akan menjelaskan semuanya padamu. Tolong jangan salah paham ya," kata Gea sambil melihat wajah Elang.
"Ge, aku percaya padamu. Kamu tidak akan menghianati aku, aku akan dengarkan penjelasan kamu. Aku tidak akan marah padamu," kata Elang sambil tersenyum manis.
Gea pun menceritakan semua yang terjadi dari awal hingga akhir. Dari cerita tentang ia mendapatkan cincin berlian dari orang yang tidak ia ketahui, hingga hubungan kakaknya dam Rika jadi rusak. Gea menangis, ia terlihat bersalah sekali saat ini. Ini pertama kalinya Elang melihat gadis galak itu sangat sedih. Sehingga ia melupakan rasa cemburunya pada orang yang tidak ia kenali itu.
"Sayangku, kita akan perbaiki hubungan Dewa dan Rika. Aku janji padamu, kita akan memperbaikinya sebelum kita pergi bulan madu. Kamu harus tenang yah, permaisuri galaknya pangeran Elang tidak menyerah dan menyedihkan seperti ini," kata Elang sambil menghapus air mata yang tumpah dipipi Gea.
Elang melihat wajah itu, wajah yang tidak pernah terlihat sedih sedikit pun selama ia bersama. Tapi saat ini, wajah galak itu terlihat sangat sedih. Walaupun begitu, imutnya masih tetap kekal diwajah Gea.
"Cantik, ayolah. Aku gak bisa melihat kamu sedih seperti ini. Berhenti menangis dan tersenyum layaknya biasa, aku lebih suka kamu galak dibandingkan kamu sedih," kata Elang.
Elang berusaha membujuk Gea dengan semua kata-kata manis yang ia miliki. Ia tidak tega melihat Gea sedih. Hatinya ikut merasakan sakit ketika ia melihat Gea menangis seperti itu. Pelukan yang hangat turun mewarnai usahanya membujuk Gea. Hingga akhirnya, gadis itu bisa tenang juga setelah beberapa saat lamanya ia membujuk.
"Kamu udah bisa tenangkan sekarang, cantik."
"Iya, aku udah mendingan sekarang. Terima kasih Lang, kamu tidak marah padaku."
"Untuk apa berterima kasih padaku sayang, aku sangat percaya sama kamu. Dan tidak akan aku biarkan siapapun menyakiti kamu, apa lagi merebut kamu dari aku."
"Ya sudah, lupakan tentang kita itu ya. Ayo kita kerumah mama, dan bicara dengan Dewa agar ia mengerti apa yang sebenarnya terjadi," kata Elang lagi.
....
"Dimana kak Dewa mah?" tanya Gea pada mama.
"Kakakmu sedang berada dikamarnya, katanya tidak enak badan. Seharian ia tidak keluar dari kamar Ge," ucap mama.
"Ya udah, Gea mau kekamar kak Dewa dulu mah."
"Iya," ucap mama singkat sambil menuju dapur.
Gea naik keatas, menuju kamar kakaknya. Sedangkan Elang duduk diruang keluarga bersama papa Gea sambil ngobrol.
Gea sampai didepan pintu kamar kakaknya, lalu ia ketuk pintu kamar yang tertutup rapat itu. Terdengar suara kakaknya dari dalam kamar, yang menanyakan siapa yang ada diluar.
"Ini Gea kak, Gea ingin masuk kedalam," kata Gea.
"Sebentar," ucap Dewa dengan malas.
Ia tidak mengizinkan mamanya masul kekamar. Tapi ia tidak bisa mengatakan tidak untul adiknya. Adiknya ini adalah orang yang paling berharga baginya. Ia tidak bisa melindungi adiknya, bahkan, ia juga tidak bisa menolak adiknya. Apapun yang Gea inginkan, ia selalu penuhi walaupun ia tidak suka akan hal itu.
Ia selalu mencari alasan saat mama mengetuk pintu kamarnya. Saat mama memanggilnya untuk makan, ia selalu bilang nanti saja. Tapi saat Gea yang datang, walaupun ia tidak ingin bicara dengan siapapun, ia tetap tidak bisa mengatakan itu pada Gea.
Pintu kamar pun terbuka, ia mengizinkan adiknya untuk masuk kedalam kamar. Gea pun mengikuti langkah kaki Dewa menuju sofa yang terletak disamping kasur itu.
"Tumben kamu datang kerumah Ge," ucap Dewa saat mereka telah sama-sama duduk disofa.
"Iya, Gea datang sekalian mau pamit. Lusakan Gea akan keluar negeri dengan Elang," kata Gea.
"Oh, kamu ingin ingin bulan madu bersama Elang ya," kata Dewa menggoda adiknya.
'Kakakku memang bisa menyimpan masalah dengak baik. Ia seakan tidak punya masalah saat berhadapan dengan aku, bahkan ia malah menggodaku saat ini. Padahal, kalau dipikir-pikir, saat ini masalah yang ia miliki sangat amat berat', ucap Gea dalam hati.
"Hei, kok malah bengong sih Ge. Kebiasaan baru yang kamu miliki ya, kalo orang bicara kamu malah bengong," ucap Dewa membuyarkan lamunan Gea.
"Kak Dewa, Gea datang kesini juga minta maaf sama kakak. Jangan pura-pura kuat dihadapat Ge kak. Ge tahu kakak punya beban masalah yang sangat berat sekarang bukan?" kata Gea.
Dewa terdiam saat mendengarkan ucapan adiknya. Ia tidak menyangka, adiknya sudah tahu kalau ia punya masalah yang sangat amat berat.
"Kamu tidak salah Gea, semua ini juga sudah terjadikan."
"Kak Dewa, ini salah Gea kak. Hubungan kak Dewa dengan Rika rusak gara-gara ulah Gea," kata Gea sambil menundukkan kepalanya.
"Ge, jangan merasa bersalah seperti itu. Ini bukan salah Ge kok, ini tidak ada sangkut pautnya dengam kamu."
"Kak Dewa salah, cincin itu memang punya Gea kak. Gea titipkan cincin itu pada Rika, lalu tak sengaja kakak temukan."