Cantik Cantik Galak

Cantik Cantik Galak
+82


Gea pun turun dari mobil, Elang membuka pintu pagar dan masuk kedalam nya.


Ketika sampai di depan pintu, Elang bertanya pada Gea tentang rumah itu.


"Ge, bagai mana menuru mu, apa kah rumah ini terlihat indah bagi mu atau tidak." kata Elang.


"Kenapa kamu tanya kan itu pada ku Lang. Ini kan rumah orang." kata Gea.


"Ya, aku hanya ingin bertanya pendapat mu, jika kita punya rumah seperti ini. Bagai mana menurut mu, aku hanya ingin tahu saja." kata Elang.


"Aku sangat suka dengan rumah ini, suasana nya sangat nyaman Lang. Halaman nya tudak terlalu besar, namun tertata rapi. Ada taman yang membuat nya semakin indah, juga ada pohon di taman ini. Dan satu lagi, warna nya sangat aku sukai." kata Gea dengan penuh semangat.


Elang tersenyum dengan apa yang Gea kata kan. Gea terlihat sangat senang dengan rumah yang mereka kunjungi itu.


Memang ukuran rumah nya tidak seperti rumah Elang, dan lebih kecil dari rumah Gea. Tapi, rumah itu masih di kata kan rumah yang cukup besar. Rumah itu berlantai dua, dan sangat rapi.


Elang mengetuk pintu rumah itu, tak lama pintu pun terbuka. Seorang wanita paruh baya di sana. Mungkin umur nya sama dengan mama Gea.


Wanita itu ingin bicara ketika melihat Elang, tapi Elang bicara dulaun dari pada wanita itu.


"Bi Mina, ini istri ku. Nama nya Gea," kata Elang.


"Silakan masuk den Elang, dan non Gea. Kalian terlihat sangat serasi nak." kata bi Mina.


"Terima kasih banyak bik, ayo masuk Ge." kata Elang.


Gea masih bingun, rumah siapa kah yang Elang masuk ini. Dan kenapa bik Mina memanggil nya dengan sebutan den dan non.


Ketika masuk, Gea kaget melihat sekeliling rumah nya. Cat di dalam nya berwarna biru tua, di hiasi dengan gorden serba hijau.


Dan yang lebih Gea tidak mengerti adalah, foto pernikahan dia dan Elang terpajang di tembok rumah.


"Kamu mungkin mau lihat keatas dulu Ge, nanti aku akan jelas kan." kata Elang.


Gea ikut Elang naik tangga, ada dua kamar besar di atas sana. Elang membuka pintu kamar yang pertama. Di sana tersusun lemari yang berisi kan boneka beruang bermacam-macam.


"Lang, ini kamar atau toko boneka sih. Kok banyak sekali boneka teddy bear di sini." kata Gea.


"Aku juga tidak tahu Ge, mungkin toko kali ya." kata Elang menjawab asal saja.


"Lang, apa kah yang punya rumah gak marah jika kamu masuk kamar mereka sembarangan seperti ini Lang." kata Gea.


"Kamu jangan cemas ya, mereka gak akan marah lah Ge. Dan ayo ikut aku lihat kanar yang satu lagi." kata Elang sambil memegang tangan Gea.


Mereka pun sampai di depan kamar kedua, itu seperti kamar tidur yang indah. Ukuran nya besar, ada lemari pakaian yang tembus pandang. Di atas ranjang yang berseprai warna hijau itu ada dua boneka beruang, warna hijau.


"Lang, kamu masuk kamar tidur orang sekarang." kata Gea.


"Apa kamu tidak suka kamar tidur ini Ge." kata Elang.


"Kenapa kamu tanya kan itu pada ku Lang, ini kan kamar orang, bagai mana aku bisa suka kamar orang." kata Gea.


"Ge, ini kamar kita. Dan ini bukan kamar orang. Kamu tidak lihat warna yang kamu sukai di setiap sudut kamar ini Ge." kata Elang.


"Apa? Kamu gak bercanda kan Lang." kata Gea tak percaya.


"Iya, ini kamar kita. Dan rumah ini adalah rumah kita. Kenapa seminggu ini aku hanya pulang untuk tidur dan kelelahan. Itu karna aku mendekor rumah yang aku beli kan. Dan warna nya sesuai yang kamu suka Ge." kata Elang menjelas kan.


Gea terlihat terharu, ia menghapus air mata yang jatuh di sudut mata nya. Bukan karna Elang telah membeli kan rumah untuk nya, tapi karna usaha Elang yang ingin membuat nya bahagia. Itu yang membuat nya merasa terharu.


Gea pun memelul suami nya, dan mengucap kan terima kasih pada Elang yang telah berusaha membuat ia senang.