
Gea mengikuti Elang menuju kamar, kamar Elang juga di atas posisi nya. Elang dan Gea sebebar nya punya banyak kesamaan yang tidak mereka sadari.
Sesampai nya di sebuah kamar yang cukup besar di antara kamar yang ada di atas lantai dua itu. Itu lah kamar Elang, yang sangat luas di dalam nya.
Elang membuka pintu kamar nya, ia tidak menyuruh Gea masuk. Tapi, saat melihat Gea terdiam di depan pintu. Maka ia bersuara juga.
"Ngapain lho masih diam di situ, gak masuk." kata Elang.
"Lho gak nyuruh gue masuk, gimana gue mau masuk kadal." kata Gea.
"Eh, harus gue suruh masuk dulu ya lho baru mau masuk. Kan udah jelas tadi gue itu ngantar lho kekamar gue." kata Elang.
"Sebenar nya ogah banget rasa nya gue sekamar sama lho singa." kata Elang lagi.
Mereka masih belum masuk kekamar nya, mereka masih di depan pintu kamar Elang.
"Lho gak mau sekamar sama gue, kenapa gak tunjuk kan gue kamar yang lain aja hah." kata Gea.
"Lho gak liat mama gue gak izinin, jika mama gue izinin mah lebih baik lho gak di kamar gue." kata Elang.
Tiba-tiba Elang menarik tangan Gea dengan cepat untuk masuk kekamar nya dan menutup pintu kamar.
"Apaan sih lho, kata nya gak mau.... " mulut Gea di tutup Elang dengan tangan nya.
"Jangan berisik lho, ini bukan hutan tahu gak. Ini rumah gue, lho gak liat ramai pelayan." kata nya sambil berbisik.
Elang melepas kan tangan nya dari mulut Gea, dan beranjak dari hadapan Gea.
"Ngapain sih lho barusan, main tarik-tarik terus bekap mulut gue." kata Gea.
"Ada papa di bawah, nanti jika papa dengar bisa gawat kita." kata nya sambil berjalan.
Gea melihat sekeliling kamar Elang, kamar itu tertata rapi. Di sana ada meja belajar dan lemari yang cukup besar.
Dan ada yang aneh di kamar itu, ada ayunan bayi di kamar Elang. Gea tak habis pikir kenapa ada ayunan bayi di sana.
"Apaan sih lho, mikir nya jangan ketinggian singa. Walau bagai mana pun, aku anak orang terhormat tahu gak. Mana mungkin punya bayi sebelum nikah." kata Elang.
"Terus, untuk apa ayunan bayi ini ada di sini jika bukan untuk bayi." kata Gea.
"Itu sesuatu yang paling gue sayang. Lho liat aja sendiri, mungkin dia lagi tidur kayak nya." kata Elang.
Gea pun nurut dengan apa yang Elang kata kan. Ia melihat kedalam ayunan bayi yang terbuat dari anyaman bambu itu.
Ketika melihat kedalam, betapa kaget nya Gea. Ternyata di dalam nya ada seekor kucing persia yang sangat lucu. Bulu nya sangat halus dan lembut ketika Gea menyentuh nya. Bulu kucing itu berwarna keabu-abuan dan ada sedikit putih di beberapa tempat.
Jadi, sesuatu yang sangat di sayangi nya itu ternyata kucing. Kata Gea dalam hati.
"Jangan sentuh dia, nanti dia bangun dan bikin ribut." kata Elang.
"Kenapa bikin ribut, kan dia hanya seekor kucing cantik." kata Gea.
"Nama nya kitty, dia bisa marah jika kamu ganggu dia lagi tidur. Karna ini adalah waktu tidur nya. Biar kan aja dia tidur, sebentar lagi juga dia bangun." kata Elang sambil baring di atas kasur nya.
Gea pun tidak menganggu kucing yang bernama kitty itu. Ia berdiri dari ayunan kucing yang berada tak jauh dari kasur Elang.
"Mau kemana sih kamu, kok gak baring di sini." kata Elang ketika melihat Gea mau beranjak dari tempat ia berdiri sekarang.
"Mau baring, capek gue tahu gak." kata Gea.
"Mau baring di mana kamu singa, kan kasur nya di sini." kata Elang.
"Aku mau baring di sofa aja, ini kan kasur mu. Bukan punya aku." kata Gea.
"Aku berubah pikiran singa, aku mau berbagi kamar dengan mu. Kamu bisa tidur sama di kasur ku." kata Elang.
"Sayang nya, aku tidak ingin tidur sama satu kasur dengan mu kadal." kata nya sambil menuju sofa.