Cantik Cantik Galak

Cantik Cantik Galak
S 23


Ada rasa bahagia sebenarnya dihati Gea, dibalik teriakan kesal saat Elang mencubit hidungnya. Gea senyum-senyum sendiri di depan pintu kamar mandi.


Gea menggelengkan kepalanya, meninggalkan kamar mandi menuju lemari. Memilih baju yang harus Elang pakai setelah selesai mandi. Setelah itu, ia meletakkan baju Elang diatas ranjang. Lalu meninggalkan kamar, ia memilih menunggu Elang diluar saja.


.....


Beberapa saat kemudian, Elang keluar dari kamar dengan pakaian yang Gea siapkan. Berjalan menghampiri Gea yang sedang duduk diruang tamu, sambil memainkan ponsel miliknya.


"Cantik ...."


Elang memeluk Gea dari belakang, membuat Gea kaget sama apa yang Elang lakukan. Gea melihat wajah tampan suaminya dengan tatapan yang selalu merasa kagum.


"Kenapa? apa aku terlalu tampan saat ini Ge?" kata Elang di telinga Gea.


Mendengarkan apa yang Elang katakan, Gea segera melihat kearah lain.


"Apaan sih Lang, gak usah terlalu percayw diri deh. Aku itu kesel sama kamu yang lama banget buat aku menunggu," kata Gea.


"Yakin kamu kesal sama aku, gak kagum ya sama suami kamu ini," kata Elang.


"Udah deh Lang, jangan banyak bicara lagi. Ayo berangkat sekarang," kata Gea bangun dari duduknya.


Elang senyum melihat pipi merona yang Gea miliki. Ternayat istrinya sedang menyembunyikan rasa malu saat ini. Elang pun mengikuti langkah Gea keluar dari rumah menuju mobil mereka.


....


Setelah melewati jalan raya dan kenderaan yang sibuk berlalu lalang. Mobil Elang pun sampai ketempat tujuan, yaitu rumah orang tua Elang.


Mereka berdua membunyikan bel rumah. Yang dengan cepat dibuka oleh bibik yang bekerja dirumah itu.


"Selamat datang den Pangeran, nona Gea. Silahkan masuk," kata bibik itu dengan lemah lembut dan penuh sopan santun.


"Makasih bik," jawab keduanya serentak.


"Ya ampun ... den Pangeran dan non Gea sehati banget kayaknya."


Mendengarkan apa yang bibik katakan. Elang dan Gea saling pandang untuk beberapa saat lamanya. Jika dilihat sekilas, mereka bukan sepasang suami istri. Melainkan orang yang sedang pacaran. Karna selain umur mereka yang masih muda, mereka juga terkesan sangat malu-malu dan selalu terlihat romantis.


"Ehem ...."


Suara bibik membuat mereka sadar kalau mereka sedang berada didepan pintu. Dan didepan mereka masih ada orang lain.


"Bibik permisi kebelakang dulu ya den Pangeran, non Gea. Bibik masih ada banyak pekerjaan dibelakang," kata bibik sambil menyembunyikan senyumannya.


"Iy ... iya bik, silakan," kata Gea sambil menahan malunya.


Elang senyum saat melihat tingkah istrinya yang terlihat malu. Ia rasanya sangat gemes sama pipi Gea yang terlihat merona itu.


"Ayo masuk permaisuriku," kata Elang sambil menggandeng tangan Gea.


"Lang, kita gak perlu gandengan tangan. Aku gak akan jatoh kalo jalan sendiri. Lagian, untuk apa gandengan tangan dirumah mama. Kita gak nyebrang jalankan?" kata Gea belum juga beranjak dari posisinya.


"Sayang, apa kamu tahu kalau rumah mama ada jalan raya nya. Kamu harus gandengan tangan sama aku, nanti bahaya."


"Jangan banyak bercanda Lang, gak ada jalan raya disini."


Saat itu, papa keluar bersama seseorang yang pastinya mereka semua kenal. Siapa lagi kalau bukan orang yang baru pulang dari luar negeri, yaitu Denis Saputra.


"Denis ...." kata Elang kaget saat melihat Denis.


"Lang," kata Denis.


Elang dan Denis pun berpelukan, walau bagaimanapun mereka sepupuan. Pasti ada rasa rindu didalam hati saat mereka lama tidak bertemu.


"Aku kangen sama kamu Den, kamu kok baru pulang sekarang sih?" kata Elang masih memeluk Denis.


"Aku juga kangen sama kamu Lang," kata Denis.


'Aku pulang sekarang, karna aku yakin bahwa aku sudah mampu melupakan orang yang aku sayang. Tapi nyatanya, aku malah semakin sayang pada orang itu saat aku sudah melihatnya. Semakin hari aku semakin terbayang pada orang yang aku sayang, maafkan aku Lang. Walau bagaimanapun, aku sudah berusaha melupakan orang itu,' kata Denis dalam hati.


Air matanya tanpa sadar jatuh, dengan cepat Denis menghapus air matanya. Ia tidak ingin terlihat lemah didepan sepupu dan pamannya. Tapi, air mata itu keluar sendiri tanpa bisa ia tahan.


Elang melepaskan pelukan Denis, begitu pun Denis juga melepaskan pelukan Elang.


"Kamu kok malah nangia sih Den, gimana sih kamu," kata Elang.


"Aku gak nangis kok, kamu sama aja kayak dulu Lang. Sukanya mencari kelemahan orang lain," kata Denis sambil senyum.


Kedua sepupu itu saling melepas kangen. Mereka terlihat sangat akrab saat bersama di rumah. Sedangkan Gea dan papa hanya sebagai penonton saja saat ini.


Elang menagajak Denis untuk duduk keruang tamu. Sedangkan Gea pamit langsung kekamar mama, papa pun ikut sama Gea kekamar mama. Papa dan Gea memberikan Denis dan Elang waktu untuk melepas rindu mereka.


Banyak hal yang Elang dan Denis obrolkan diruang tamu itu. Namakan juga orang yang lama tidak bertemu.


"Kamu masih ingat sama Sella gak Lang," kata Denis tanpa sengaja mengungkit soal Sella.


Denis tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi dengan Elang dan kehidupan orang yang ia tinggalkan. Karna kejadian itu terjadi, Denus sudah tidak ada lagi di negara ini.


"Iya aku ingat, kenapa Emangnya," kata Elang.


"Gak ada sih, aku kemarin hampir saja menabrak gadis itu. Untungnya ngak ketabrak," kata Denis.


"Apa?"


Elang sangat kaget saat mendengarkan apa yang Denis katakan. Yang Elang tahu itukan, Sella sedang berada dalam rumah sakit jiwa selama ini.


"Ada apa sih sama kamu, kenapa harus terlihat sangat kaget saat aku bilang bertemu Sella. Ada hal apa yang tidak aku ketahui selama aku tidak ada di negara ini," kata Denis penasaran.


Elang pun mengatakan apa yang terjadi setelah Denis pergi keluar negeri. Sejak awal sampai akhir, Denis jadi pendengar sejati sambil menganggukkan kepalanya sesekali.


"Dimana kamu bertemu Sella kemarin Den?" kata Elang.


"Jalan menuju pemakaman, dan aku lihat ia seperti seorang yang baru saja habis ziarah deh kayaknya. Aku berniat untuk mengantarkannya, namun ia menolaknya secara lembut," kata Denis.


"Aku sarankan sama kamu satu hal Lang, mungkin kamu harus banyak hati-hati sekarang. Karna kita gak tahu, apakah akan ada musuh disekitar kita atau tidak," kata Denis lagi.


"Iya, aku tahu apa yang kamu maksudkan. Aku akan berhati-hati sekarang," kata Elang.


Setelah bicara panjang lebar, Denis pun pamit pulang. Karna hari sudah menjelang senja. Elang mengantar Denis pulang sampai depan pintu.


"Hati-hati Lang, jaga istrimu baik-baik," kata Denis saat ia ingin menjalankan mobilnya.


"Iya, aku tahu. Kamu gak usah cemas sama aku dan Gea. Aku pasti akan jaga istriku," kata Elang.


Denis pun meninggalkan rumah orang tua Elang.