Cantik Cantik Galak

Cantik Cantik Galak
S 34


Yang satunya sangat tampan, dan menjadi idola bagi setiap kaum perempuan. Sedangkan yang satunya lagi, dia gadis cantik yang menjadi incaran para lelaki dan dijuluki primadona kampus.


"Iya, aku adalah istri dari Pangeran Elang. Kenapa? Kamu masih tidak percaya sama apa yang suamiku katakan," kata Gea.


Mereka kembali bisik-bisik satu sama lain. Selama ini, mereka memang sudah tahu kalau Elang sudah memiliki seorang istri. Hanya saja, identitas istrinya Elang masih samar-samar lagi. Karna Elang tidak berniat, semua orang tahu siapa istrinya.


Gea dan Elang memang sudah pernah mengumumkan pada dunia, kalau mereka berdua sudah menikah. Mereka mengumumkan pada dunia pas saat Gea lulus sekolah. Tapi itu sudah berlalu, mungkin seiring berlalunya waktu, berita itu juga berlalu. Saat itu, Elang belum jadi ceo perusahan terkenal. Sekarang ini, perusahaannya sedang naik daun dan sangat terkenal didunia bisnis.


"Sayang, kamu gak bilang pada semuanya kalau kamu istri orang," kata Elang.


"Ya ngak, masa aku harus kasih pengumuman sih Lang, kalau aku istri kamu."


"Ya sudahlah, ayo pulang saja. Aku yakin kamu sudah gak ada kelas sekarang, kalau pun ada, kamu izin sajalah."


"Iya," kata Gea singkat.


Bagaikan tidak melihat yang lain, mereka malah bermesraan didepan semua orang. Gea dan Elang benar-benar mengabaikan semua orang yang berkumpul disekitar mereka. Sebelum pergi, Gea menghampiri Astrid yang terdiam disana.


"Kamu sudah bilang aku yang tidak enak, kamu lihatkan gadis yang ada disamping kakakku itu. Dia adalah temanku dan calon istri dari kakakku, dia dan kakakku sudah bertunangan dan akan segera menikah."


"Lalu kenapa kalau dia sudah punya tunangan?" kata Astrid.


"Aku hanya ingin mengingatkan padamu, jangan banyak bermimpi dengan kakakku."


Lalu Gea kembali kesamping Elang dan berjalan meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan kakak dan kedua temannya, juga semua orang yang berkumpul melihat Gea dengan perasaan mereka masing-masing.


......


"Lang," kata Gea dengan nada rendah.


"Hmz ...."


Elang hanya menjawab dengan gumaman saja, tanpa melihat Gea yang duduk disampingnya. Yah, sejak mau kedalam mobil dan meninggalkan kampus tadi, tidak ada sepatah kata pun yang Elang ucapkan. Suasana terlalu tenang buat Gea, hanya ada suara mobil yang terdengar.


"Kamu marah sama aku ya?" kata Gea sambil melihat Elang.


"Tidak."


Lagi-lagi, hanya jawab singkat tanpa melihat kearah Gea yang Elang berikan.


"Tapi kenapa kamu diam saja sejak dari tadi, aku minta maaf untuk yang terjadi hari ini. Yang telah membuat kamu harus datang kekampus ku," kata Gea.


"Tidak perlu minta maaf, lagian kalau aku tidak datang, tidak akan ada yang tahu kalau kamu itu sudah ada yang punya."


"Maksud kamu?"


"Aku lihat, tidak ada yang tahu kalau kamu adalah milikku. Kalau aku tidak datang tadi, mungkin tidak akan pernah tahu, kalau kamu adalah istri orang."


"Jadi, karna hal itu kamu diam saja, karna aku tidak mengatakan pada semua orang, kalau aku bukan gadis melainkan istri dari seorang ceo muda yang terkenal."


"Iya."


Gea diam, ia tidak berniat lagi untuk menjawab perkataan Elang. Kelihatannya Elang agak sedikit kesal. Dan Gea juga punya perasaan yang sama, ia juga kesal karna hal itu Elang malah mendiamkannya.


"Jangan membuat aku cemburu lagi Ge, karna aku bisa marah jika kamu lakukan hal itu."


"Tidak ada yang membuat kamu cemburu Lang, hanya kamu saja yang cemburu sendirian."


"Ge, siapa yang tidak cemburu saat istrinya jadi bahan rebutan lelaki lain. Kamu gak tahu gimana kalau kamu jadi aku."


"Kamu juga gak tahu gimana kalau kamu yang ada diposisiku Lang. Kamu pikir aku gak cemburu saat yang lain mendekati kamu."


"Oke baiklah nyonya Gea, aku minta maaf untuk hari ini. Dan aku tidak akan berdebat lagi dengan kamu, karna aku tahu kalau kita berdebat, yang menang pasti ratu bukan raja."


"Itu kamu tahu."


Mereka saling melepaskan senyum dibibir masing-masing. Masalah itu tidak akan selesai jika saling diam. Masalah itu harus diselesaikan dengan cara bicara antara satu sama yang lain.


"Baiklah ratuku, jangan bikin masalah lagi. Cukup saja hari ini kamu bikin seisi kampusmu gempar, aku tidak ingin ada lagi."


"Iya, asalkan tidak ada yang bikin masalah lagi dengan aku, maka tidak akan ada masalah lagi untuk selanjutnya."


"Ampun dah, ayo turun."


Pada akhirnya, Elang hanya bisa pasrah juga dengan istri galaknya ini. Apa yang bisa ia lakukan, sepertinya tidak ada. Selain menjaga hati Gea dengan baik, dan membuat istrinya selalu tersenyum. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menjaga istrinya.


.....


Disisi lain, setelah semuanya bubar. Yang tinggal diruang uks hanyalah Rika, Danu, Dewa, Astrid, dan kedua temannya.


"Bagaimana keadaan kamu Wa?" kata Astrid sambil berjalan menghampiri Dewa.


"Aku baik-baik saja, hanya sedikit memar dan sudah diobati oleh Rika," kata Dewa.


"Adek kamu sangat luar biasa Wa, aku gak nyangka dia bisa melakukan hal itu pada raja kampus. Dan dia begitu sangat-sangat penuh kejutan," kata salah satu teman Dewa.


"Iya, aku gak nyangka lho Dewa. Dia punya wajah yang cantik dan begitu istimewa. Tapi sayangnya, ia sudah punya suami," kata teman Dewa yang satu lagi.


"Kalau belum bersuami, apa kamu sanggup menghadapi gadis yang seperti itu?" kata Astrid.


"Kenapa dengan Gea?" Danu ikut bicara.


"Gadis yang sangat menakutkan," ucap Astrid menjawab apa yang Danu katakan.


"Gea tidak menakutkan, dia anak yang baik sebenarnya. Hanya saja, sifat galak yang dia miliki membuat ia terlihat seperti gadis yang menakutkan. Dia akan marah jika ia tidak suka pada hal itu," kata Dewa membela adiknya.


"Tapikan ...." ucap Astrid tak percaya.


"Kamu hanya tidak menggenal siapa adikku, dia adalah gadis terbaik yang aku punya. Gadis kecilku yang selalu ingin aku lindungi, tapi malah dia yang selalu melindungi aku."


"Kamu masih sayang sama dia Wa, padahal dia selalu membuat kamu berada dalam masalah bukan?" kata Astri seakan tidak bosan ingin menghasut Dewa.


"Adikku akan selamanya jadi adik kesayanganku, walau bagaimanapun sifat dan ulahnya. Biar pun dunia mengatakan hal buruk tentang adikku, tapi tidak dengan aku. Karna dimataku, adikku tetaplah adik kesayanganku yang sangat baik."


"Ayo Rika, aku akan antar kamu pulang. Bukankah kalian sudah tidak ada kelas lagi bukan?" kata Dewa lagi.