
Elang tidak langsung menjawab, ia hanya tersenyum manis pada Gea. Mendengarkan apa yang Gea tanyakan barusan.
"Ge, aku tidak akan memaksa kamu melakukan apa yang tidak kamu sukai. Karna, aku yakin suatu saat nanti, kamu akan menjadi milik aku seutuh nya. Tanpa harus aku paksa, karna cinta, bukan karna paksaan dari aku karna aku punya hak atas diri mu." kata Elang sambil masih senyum manis.
Hati Gea luluh sekali mendengar kan apa yang Elang katakan. Ternyata, suami nya sangat cinta pada nya. Sampai tidak ingin memaksa, walau pun ia punya hak untuk mengambil hak nya sebgai suami.
Gea memeluk Elang yang memang berada hanya beberapa langkah saja dari Gea. Dengan air mata haru, Gea menghambur kedalam pelukan Elang.
"Maaf kan aku Lang, maaf kan aku yang sudah bikin kamu menderita." kata Gea.
"Hei, aku tidak menderita. Aku baik-baik saja, dan tidak ada yang bikin aku merasa sakit atau tidak nyaman. Kamu tahu, kamu tidak perlu membuang-buang air mata mu seperti ini." kata Elang sambil menyapu air mata Gea kemudiam kembali memeluk tubuh orang paling ia sayangi.
"Aku berdosa pada mu Lang, aku tidak harus membuat kamu menunggu. Karna kewajiban aku sebagai istri mu. Sudah seharus nya aku memenuhi semua kebutuhan mu." kata Gea.
"Kamu tidak harus menyesal sayang, karna bisa dengan mudah memperbaiki semua nya." kata Elang.
"Iya, aku akan memperbaiki semua kesalahan itu. Aku janji akan jadi istri yang terbaik buat kamu." kata Gea.
"Baiklah, aku tunggu hal itu." kata Elang sambil makin memeluk Gea dengan perasaan gemes nya.
****
Malam itu, setelah makan malam. Elang duduk di ruang keluarga sambil sibuk dengan laptop nya. Ia punya banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan.
Sedangkan Gea, tidak terlihat sama sekali. Karna setelah makan malam, Gea memilih langsung kekamar.
Tak lama kemudian, Gea turun menuju dapur. Ia hanya melirik Elang yang sibuk fokus pada pekerjaan nya sejak tadi.
...
Gea menuju suami nya dengan secangkir teh. Ia meletakkan teh di meja Elang, lalu berpindah menghampiri Elang dan duduk di samping lelaki itu.
Elang kaget sama apa yang ia lihat, Gea terlihat sangat jauh berbeda dengan celana pendek yang menperlihat kan paha putih nan mulus dan baru yang terbilang sangat seksi. Selama ini, Gea tidak pernah menggunakan baju seperti itu. Itu baju yang Rika berikan saat ulang tahun pernikahan mereka yang kedua.
Elang menatap lekat Gea, menelusuri setiap inci tubuh cantik milik Gea yang terlihat sangat seksi dan membuat nya penuh semangat.
Ia melihat tubuh itu dengan perasaan takjub dan juga penuh gairah. Bagaimana tidak, Gea tidak pernah makai pakaian seperti itu. Hampir tiga tahun lama nya, ia tidak pernah sama sekali melihat paha cantik dan dada seksi milik istri nya.
"Lang, ada yang salah sama apa yang aku pakai malam ini ya. Apa aku tidak cocok sama baju yang aku pakai sekarang." kata Gea membuyar kan mata Elang yang nakal itu.
"Eh, gak kok. Gak ada yang salah sama baju yang kamu pakai. Apa yang kamu pakai malam ini terlihat sangat cantik di tubuh mu." kata Elang sambil meketak kan laptop keatas meja.
Elang menarik tubuh Gea, dari duduk di samping nya. Hingga berpindah duduk di atas pangkuan Elang. Ternyata, Gea berhasil membuat Elang melupakan pekerjaan yang ia kerjaan kan.
"Kamu wangi sekali Gea, parfum apa sih yang kamh pakai." kata Elang. Ia tidak tahu mau berkata apa lagi.
"Aku pakai yang biasa aja Lang, gak ada yang baru dan parfum ini juga kamu yang pilih kemaren. Udah berkali-kali aku pakai juga kan." kata Gea.
Elang senyum, rasa hati yang gugup itu membuat ia bertanya hal yang tidak penting. Membuat ia mubaziar waktu saja dengan bertanya hal yang tidak penting.
Elang mencium tangan Gea, ciuman demi ciuman. Hingga hampir saja ciuman itu mendarat di bibir Gea.
Ponsel Elang yang letak nya di atas meja pun berbunyi. Membuat Elang harus membatal kan perjalanan nya yang hampir sampai di bibir cantik yang berwarna merah delima itu.
"Siapa sih yang nelfon." kata Elang dengan wajah yang sangat kesal.
"Lihat aja dulu, aku mungkin harus kekamar sebelum bibik melihat ku." kata Gea sambil bangun dari duduk nya.
Elang tersenyum, ia tahu lampu hijau dari Gea. Berati Gea ingin ia datang kekamar, untuk melanjut kan perjalanan mereka yang hampir saja terhenti akibat telfon masuk.
"Tunggu aku ya." kata Elang sambil berbisik di telingga Gea sebelum Gea beranjak pergi.
"Gak akan aku tunggu kalo kamu nya lama." kata Gea sambil mencubit hidung Elang.
Elang hanya senyum melihat tubuh Gea dari belakang. Gea berjalan meninggal kan Elang, sedang kan Elang melihat tubuh seksi itu dengan penuh perasaan.
Telfon yang terus saja berbunyi itu pun membuat Elang harus mengurung kan perasaannya. Ia melihat siapa kah yang telah membuat hati nya kesal karna acara yang sangat di tunggu-tunggu itu harus di tunda. Padahal kan ini hal yang sangat langka buat Elang. Apa lagi Gea yang datang menggoda. Itu adalah hal mustahil selama tiga tahun ia menikah.
Ia melihat ponsel nya yang masih berbunyi. Di sana tertera nama papa nya yang menelfon. Ia angkat telfon itu dengan nada kesal yang memang tidak bisa ia sembunyikan.
"Hallo." kata Elang.
"Lang, kok lama banget sih kamu angkat telfon nya. Udah hampir sepuluh kali papa telfon kenapa kamu gak angkat-angkat sih." suara papa si seberang sana terlihat sangat kesal.
Lho, kok jadi papa yang malahan marah sama aku. Harus nya aku yang marah sama papa, karna papa udah ganggu momen langka yang aku miliki. Kata Elang dalam hati.
"Hallo Lang, kamu masih ada di sanakan." suara papa kembali terdengar. Suara nya terdengar semakin kesal karna Elang tidak menjawab apa yang ia katakan.
"Iya pa, Lang dengar apa yang papa katakan. Ada apa sih pa, kenapa papa harus marah-marah sama aku." kata Elang tak kalah kesal nya.
"Mama mu masuk rumah sakit, mama jatuh di kamar mandi." kata papa.
"Apa?" Elang sangat kaget sama apa yang papa katakan. Rasa kesal yang ia miliki segera lenyap ketika tahu mama nya sedang ada di rumah sakit.