
Karna kaget dengan apa yang ia dengar kan, maka tanpa sengaja tangan Gea menyentuh vas bunga yang berada tak jauh dari nya.
Brak.... Vas itu terjatuh dari tempat nya. Dan mencipta kan suara yang sangat keras. Itu membuat yang ada di sana kaget karna ada barang yang jatuh.
Sontak mereka melihat kearah suara barang yang jatuh barusan. Dan di sana berdiri Gea.
"Gea.... " kata mereka serentak.
Karna ia telah di lihat oleh Elang, maka dari itu. Ia buru-buru pergi dari sana, ia tidak ingin berbicara dan mendengar kan apa yang Elang kata kan nanti nya pada dia.
Elang mengejar nya, tapi karna Gea cepat-cepat masuk kedalam mobil dan menyuruh kakak nya untuk menjalan kan mobil nya. Maka Elang tidak bisa menjelas kan apa yang Gea dengar kan barusan.
Mama juga ikut mengejar Elang tadi, ketika melihat Elang tidak berhasil mengejar Gea.
"Kejar Lang, kejar sekarang... Atau kamu akan kehilangan nya untuk selama nya." kata mama.
Tanpa menjawab apa pun, Elang menuju mobil nya untuk mengejar Gea.
Sedang kan di dalam mobil Gea, kakak nya tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Adik nya sekarang sedang menagis. Dan ia tidak ingin menanya kan dulu apa yang terjadi pada adik nya ini.
Dewa memutus kan untuk berhenti di taman kota, karna tidak mungkin membawa adik nya pulang dengan wajah yang sedang tidak enak di lihat.
"Ge, ayo cerita sama kakak. Apa yang sebenar nya terjadi tadi, kenapa kamu begitu sedih." kata Dewa dengan lembut.
Gea tidak menjawab, ia langsung memeluk kakak nya. Dan makin menangis di sana.
"Hey... Kamu itu gadis yang paling kuat sayang ku. Kenapa harus begitu bersedih, kamu kuat lho Ge, kakak yakin itu." kata Dewa lagi.
"Ayo sekarang, hapus air mata mu, dan cerita kan pada kakak." kata Dewa meminta adik nya bercerita sambil memegang kedua pipi adik nya.
Ada rasa marah dalam hatu nya ketika Gea mengata kan hal itu. Bagai mana pun, Elang tidak bisa menikahi orang lain jika adik nya tidak setuju.
Tapi, karna Dewa adalah laki-laki yang pandai mengontrol emosi. Maka ia tidak menunjuk kan jika ia marah pada adik nya. Ia berusaha terlihat lembut di depan adik nya.
"Ge, itu tanda nya. Elang sangat sayang pada mu kan dek, dia tidak ingin kamu tahu akan hal yang bisa menyakiti mu." kata Dewa.
"Kakak tidak setuju dengan apa yang Elang rencana kan. Tapi kakak hanya ingin kamu berpikir positif dan bangkit dari sedih mu. Ingat lah, jika adik seorang Dewa bukan gadis biasa." kata Dewa menguat kan adik nya.
"Kamu bukan gadis biasa sayang, laki-laki tidak bisa menyakiti mu. Ayo tunjuk kan pada kakak jika kamu tidak lemah. Dan ayo adik manis ku. Tersenyum lah, lupa kan orang yang ada dalam ingatan mu." kata Dewa terus membangkit kan rasa positif di hati adik nya.
ya, itu sangat manjur untuk Gea. Kakak nya tahu betul jika adik nya akan mendengar kan apa pun nasehat yang bikin ia bangkit. Gea jika di kasih semangat ia akan lupa akan rasa sakit yang ada dalam hati nya.
Gea tersenyum mendengar kan apa yang kakak nya kata kan. Benar yang kakak nya kata kan. Jika laki-laki tidak bisa membuat nya menagis dan terpuruk.
"Bagai mana Ge, apa kamu sudah mendingan dek. Kita pulang sekarang ya." kata Dewa.
"Aku udah baikan kak, hanya saja aku belum ingin pulang sekarang. Bisa kah kita pergi kepohon kayu ara." kata Gea.
Kayu ara adalah kayu yang sangat rindang, itu tempat ia dan kakak nya selalu bermain. Letak nya di pinggir kota. Kayu itu penuh dengan cabang yang akan mati dan tumbuh lagi. Dulu nya tanah itu milik seorang nenek, tapi karna Gea sangat suka pada pohon itu, maka papa membeli kan tanah itu pada nenek tua yang memiliki tanah itu.
Sebenar nya, nenek tua itu tidak ingin menjual nya. Walau pun dengan harga sangat tinggi. Tapi melihat Gea sangat suka dengan pohon itu. Maka nenek itu menjual nya dengan harga yang rendah.
Nenek itu pun berpesan pada Gea, jangan menjadi kan lahan kosong yang di tumbuhi rumput itu. Sebagai tempat bangunan apa pun. Karna itu adalah tempat dia dan suami nya pertama kali bertemu.
Gea menuruti perkataan nenek itu, sampai sekarang. Tempat itu menjadi lahan kosong.